Kreatifitas dan Inovasi Untuk Bersaing

by -

*Tellie Minta Masyarakat Lokal Tidak Boleh Jadi Penonton

Tellie Gozelie

TANJUNGPANDAN – Anggota DPD RI Tellie Gozelie mengatakan kreatifitas dan inovasi sangat dibutuhkan dalam persaingan di dunia pariwisata. Khususnya para pemain dibidang pariwisata. Mulai dari travel, rumah makan, supir, hingga pengrajin souvenir.

Menurutnya dimanapun, di dunia ini yang namanya persaingan pasti terjadi. Tinggal bagaimana meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Agar masyarakat lokal menjadi pemain bukan penonton.

“Yang kita takutkan sumber daya manusianya. Dan bagaimana kita meningkatkan kualitas SDM,” kata Tellie, di kawasan KV Senang, Sabtu (28/5) kemarin.

Namun kata dia, kompetisi tidak hanya memberikan efek negatif. Justru akan menimbulkan inovasi dan kreatifitas baru. Inilah kata dia yang dibutuhkan masyarakat Belitung.

Salah satu contohnya adalah restoran. Beberapa tamu yang ia bawa ke Belitung menanyakan restoran yang refresentatif. Yaitu restoran yang memiliki standar tinggi. Ini kata Tellie menjadi tantangan bagi putra daerah.

Sebagai daerah fokus pariwisata, Belitung harus benar-benar  total jika ingin maju. Selain memperdayakaan keterampilan SDM lokal, konsep tamu adalah raja harus dilaksanakan.

“Kita harus perhatikan kebutuhan customer kita, bukan dengan cara meminta proteksi kepada pemerintah. Yang harus kita lakukan sebagai pemain lokal harus pandai, banyak belajar meningkatkan kualitas kita. Kalau kita sudah kuat, kompetitif, orang lain yang masuk kesini justru berfikir. Jangan terlena di area nyaman, terlena dan kita tidak berinovasi disitu,” ujarnya.

Bagai pemerintah daerah harus proaktif. Yakni memberdayakan masyarakat lokal. Ini akan lebih memberikan kesempatan masyarakat lokal menjadi pemain di daerahnya sendiri.

“Pemerintah proaktif memberikan motivasi, pelatihan, didirong dari regulasi. Regulasi yang menghambat hilangkan. Pajak yang memberatkan, sesuaikan dengan kondisi ekonomi. Serta mengawal kebijakan yang menguntungkan untuk pemain lokal,” tukasnya.

Sebelumnya diberitakan, Pemilik Travel Belitung Island Kusumah Kosasih di dalam sebuah diskusi beberapa waktu lalu mengungkapkan adanya kekhawatiran pemain pariwisata. Yaitu masuknya pemain besar dengan modal yang besar. Ini justru akan mempersempit ruang gerak pelaku wisata dengan modal kecil.

Sebagai contoh, seringkali ditemukan operator travel dari luar menjual Belitung. Di Belitung hanya menghubungi satu orang saja dan bisa jalan.

Kusumah mengatakan perkembangan pariwisata belakangan ini cukup pesat. Kunjungan wisatawan sangat banyak. Tidak hanya pada weekend saja, tetapu sudah week day.  Dengan perkembangan pariwisata ini pemerintah jangan bangga. Karena rilnya di lapangan, ini adalah kreatifitas para pelaku pariwisata.

“Pemerintah jgn bangga karena ini kreatif dari pelaku wisata. Kendalanya, gimana cara mereka balik lagi ke Belitung. Saya berharap pemerintah memahami ini. Kemaslah pariwisata sehingga menjadi pariwisata yang nyaman,” kata Kusumah.

Mantan Ketua DPRD Kabupaten Belitung Andi Saparudin Lanna mengatakan perkembangan pariwisata lebih baik saat ini. Menurutnya pemerintah Bupati Belitung Sahani Saleh sangat beruntung. Pemerintah daerah sekarang mendapat wasiat. Salahsatunya Kawasan Ekonomi Khusu (KEK) Pariwisata di Kecamatan Sijuk.

“Dengan KEK kita dapat dana 10 triliun. Bayangkan saja kita punya anggaran setahun tidak punya segitu. Disinilah saya kira PR kita kekhawatiran kita 10 triliun itu untuk apa,” kata pria yang juga pernah menjadi Wakil Bupati Belitung ini.

Yang pasti kata dia, untuk membantu pembangunan pariwisata Belitung. Namun justu masih banyak masyarakat yang tidak tahu KEK. Awamnya uang 10 triliun itu untuk dibagi-bagikan ke masyarakat. Ini menurut pendapat sebagian masyarakat.

Namun dibalik itu kekhawatiran juga di masyarakat. Khawatir dengan adanya KEK mereka semakin tenggelam. Karena takut para pemodal besar yang bermain. “Yang pasti terakhir dari saya, sarana dan prasarana untuk kemajuan pariwisata di folow up,” kata Andi.

Dari sisi media, Ozi mengatakan pariwisata Belitung butuh totalitas jika ingin maju. Jangan pelit promosi dan Belitung harus punya branding. “Kita harus banyak promosi ke depan. Jangan “kedengkut” promosi, momentum laskar pelangi harus dilanjutkan,” kata Ozi.

Menurut Ozi, semua masyarakat Belitung bisa mempromosikan Belitung dengan mengggunakan sosial media. Namun disisi lain, pariwisata hanya dinikmati sebagian masyarakat saja, yaitu di Tanjungpandan dan Sijuk.

“Pada kenyataannya orang-orang yang ada di Ranjong ini, kalau di kampong hanya berkebun, nyari timah. Karena itulah yang bisa menjadi duit. Inilah tugas pemerintah,” kata Ozi.

Maka pemerintah perlu melakukan pemberdayaan sumber daya manusia (SDM). Jangan hanya lebih banyak mengeluarkan duit untuk infrastruktur. Menurutnya pemberdayaan masyarakat adalah investasi jangka panjang.

“Pemberdayaan manusia harus serius. Juga dibuat kebijakan jika membuat mall, hotel, utamakan orang lokal. Masalah SDM tinggal menjadi tanggung jawab dididik bersama. Beliau ini (Sahani Saleh) memang beruntung pada saat yang tepat. Menjadi pemimpin itu butuh juak keberuntungan,” kata dia.

Bagi pelaku pariwisata yang dibutuhkan adalah grand desain. Grand desain infrastruktur untuk mendukung pekerjaan pelaku pariwisata. Juga aturan yang berpihak kepada pelaku pariwisata lokal. Sehingga tidak tergerus dan kalah bersaing. (ade)