Lindungi Satwa Liar, Hasyim Dirikan Pusat Suaka Orang Utan

by -
Lindungi Satwa Liar, Hasyim Dirikan Pusat Suaka Orang Utan
Hashim Djojohadikusumo saat diwawancarai awak media usai meresmikan PSO ARSARI di Kaltim. Foto: Istimewa

belitongekspres.co.id, JAKARTA – Pusat Orang Utan (PSO) ARSARI di Penajam Paser Utara, Kalimantan Utara, akhirnya diresmikan. Kehadiran PSO ARSARI guna memastikan satwa liar dilindungi, seperti orang utan dapat menikmati kesejahteraan di hari tua sampai akhir hidupnya.

PSO ARSARI dirintis sejak tahun 2016 dan dikukuhkan dalam perjanjian kerja sama antara Yayasan ARSARI Djojohadikusumo (YAD) dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Kalimantan Timur pada 15 Maret 2019.

“Didirikannya PSO ARSARI ini adalah untuk menjawab kebutuhan suaka bagi orang utan yang sudah tua dan bertahun-tahun berada dalam kandang karena dipelihara manusia secara tidak legal, disita dari perdagangan satwa ilegal sejak bayi, alasan kesehatan, dan kondisi lain yang tidak memungkinkan dilepasliarkan ke alam,” kata Ketua YAD Hashim S Djojohadikusumo kepada wartawan, Senin (2/12).

Tidak hanya ingin menyelamatkan populasi orang utan dari kepunahan, Hashim juga bercita-cita agar para orang utan yang berhasil diselamatkan hidup bahagia tanpa harus dirantai dan disiksa oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. “Melalui upaya ini, kami ingin memastikan mereka bahagia di hari tuanya, tidak terkurung dalam kandang sampai akhir hidupnya,” harap Hashim.

Di antara orang utan yang berhasil diselamatkan dan menghuni PSO ARSARI bernama Bento. Bento yang berjenis kelamin jantan berhasil diselamatkan dari peliharaan ilegal di sebuah rumah di Manado pada tanggal 8 September 2005.

Selain Bento, ada otang utan lainnya yang diberi nama Iskandar. Iskandar diselamatkan ketika masih bayi dari perdagangan ilegal untuk diselundupkan ke Filipina pada 30 Oktober 2004. Keduanya saat ini menghuni kandang karantina di PSO ARSARI yang berada di area HGB PT. ITCI di Kelurahan Maridan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Bento dan Iskandar ditranslokasi oleh Balai (KSDA) Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur bersama YAD dengan dukungan Yayasan Masarang melalui Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki yang akhirnya bisa memulangkan mereka kembali ke Kalimantan pada 3 Oktober 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *