Listrik Hibrid Pulau Seliu Mangkrak

by -

*Sudah 5 Tahun, Tak Kunjung Mendapat Perhatian Pemerintah

Jajaran-kincir-angin-dan-solar-cell---Copy
MANGKRAK- Jajaran kincir angin dan solar cell, Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid di Desa Pulau Seliu, yang mangkrak.

MEMBALONG-Ketersediaan listrik menjadi dambaan warga Desa Pulau Seliu, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung.  Namun sayangnya, salah satu proyek pembangkit listrik, yaitu tenaga angin dan surya (Hibrid) di pulau yang mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan ini, mangkrak.

Proyek Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Provinsi Babel ini, sudah mangkrak hampir lima tahun sejak dibangun tahun 2010 silam. Instalasi Pembangkit listrik Tenaga Hibrid hanya bisa dinikmati satu tahun. Proyek Energi Baru dan Terbarukan (EBT) miliaran rupiah, yang mengaliri 30 rumah kepala keluarga (KK) kurang mampu ini, rusak dan tidak bisa diperbaiki.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari masyarakat Pulau Seliu, rusaknya pembangkit listrik ini dikarenakan pihak desa tidak mempersiapkan tenaga pengelola yang berkompeten. Lantas, setelah rusak pemerintah desa juga tidak bisa menganggarkan untuk perbaikan dan biaya operasional lainnya.

Dalam buku berjudul “Surga Negeri Liu-Liu” karya Tim KKN PPM UGM 2015, juga diceritakan kisah mangkraknya pembangkit listrik tenaga gabungan tersebut.  Di lembar buku catatan perjalanan Tim KKN PPM UGM ini, diungkapkan seputar penyebab mangkrak proyek energy listrik ini.

Pemerintah desa takut untuk menganggarkan biaya operasional karena pembangkit listrik Hibrid, belum menjadi aset desa. Hingga saat ini serahterima aset tidak pernah dilakukan oleh pihak Distamben Provinsi Babel ke pihak Desa Pulau Seliu.

Anggota BPD Pulau Seliu Bustari membenarkan, proyek Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid, tepatnya berlokasi di belakang lapangan bola desa tersebut , belum diserahterimakan. Kata dia, pemerintah sudah berulang kali melayangkan surat ke pihak Distamben Provinsi. Namun, hingga dua kali pergantian kepala desa belum juga mendapat respon.

“Kalau misalnya sudah diserahterimakan ke pihak desa, biaya operasional pasti bisa dianggarkan dan kerusakan bisa diperbaiki. Tapi hingga saat ini serahterima dari pihak Distamben Provinsi belum ada,” ungkap Bustari kepada Belitong Ekspres, Minggu (5/6) kemarin.

Menurut Bustari, ketersediaan listrik di pulau yang berpenduduk 1936 jiwa ini, baru ditunjang dengan PLTD yang beroperasi dari pukul 5 sore sampai 6 pagi. Karena itu, jika Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid tidak mangkrak, tentu akan sangat membantu prioritas 30 rumah warga Pulau Seliu yang kurang mampu.

“Harapan kami, semoga proyek pembangkit listrik yang mangkrak ini, nanti bisa jadi perhatian pemerintah, agar manfaatnya bisa kami rasakan,” harapnya. (yud)