Masyarakat Takut Kelola Uang Tongkang

by -
uang ilustrasi

*Tim Pengelola SDA Desa Sungai Samak Mengundurkan Diri

TANJUNGPANDAN-Masalah pengelolaan uang tongkang hasil tambang pasir CV. Kembar Rizki Bersama (KRB) terhenti alias mandek. Pasalnya, Tim Pengelola Sumber Daya Alam (SDA) Desa Sungai Samak Kecamatan Badau mengundurkan diri dalam pertemuan, Sabtu (31/12) kemarin.

Pantauan Belitong Ekspres pertemuan yang digelar di Aula Kantor Desa Sungai Samak tersebut hanya dihadiri sekitar 22 orang dari 110 udangan. Selain itu, warga enggan mengelola uang tongkang sebesar Rp.96.878.000 selama 10 bulan.

Jumlah tersebut berdasarkan kwitansi sebanyak 84 tongkang yang dikalikan Rp 1,5juta rupiah per tongkang, dengan total Rp.126 juta. Di kwitansi tertera pengeluaran dana telah terpakai uang Rp 7.162.000. Lantas, sisa dana yang terpakai dan belum dikembalikan pengelola sebesar Rp 21.960.000.

Kades Sungai Samak Alex Saputra mengatakan, pertemuan ini belum ada titik temu. Sebab, dari 110 udangan yang hadir cuma 22 orang. Lantas, karena tidak ada yang mau mengelola uang tersebut, sementara uang itu diamankan oleh pegawai pemerintah desa.

Alex menyarankan, kepada Kadus untuk segera berkoordinasi kepada ketua RT setempat untuk segera melakukan rapat di tingkat RT. Lantas, hasilnya kemudian dibuatkan berita acara untuk disampaikan ke pihak desa.

“Saya kasih waktu selama satu minggu untuk menyampaikan hasil pertemuan atau rapat di tingkat RT yang nanti disampaikan kepada pemerintah desa sehingga masalah ini bisa segera di selesaikan,”pungkasnya.

Sementara itu Babinsa Desa Sungai Samak Mulyono mengatakan, pertemuan ini untuk mengevaluasi dan mengintropeksi apa yang diperbuat pada tahun 2016. Selain itu, pertemuan ini juga membahas pengelolaan dana dan menunjuk ketua Tim Pengelola Sumber Daya Alam Desa Sungai Samak yang baru.

“Kapasitas kami hanya mencarikan solusi. sebaiknya, dilakukan rapat di tingkat RT mana yang setuju dan tidak kemudian notulennya disampaikan ke pemerintahan desa biar segera ketemu solusinya,”sarannya.

Kata Mulyono, siapapun yang ditunjuk sebagai ketua Tim Pengelola Sumber Daya Alam Desa Sungai Samak diharapkan untuk transfaran dan terbuka. Sebab, ini dari masyarakat untuk masyarakat sendiri.

Sementara itu Kadus sungai samak menyampaikan, dalam hal ini pemerintah desa tidak boleh mengelola dana dari pihak ketiga. Menurutnya, uang tersebut lebih baik dikembalikan kepada masyarakat biar, masyarakat sendiri yang menentukan uang tersebut mau diapakan.

Seorang warga Agus mengatakan, sesuai pesan dari seorang kuasa hukum yang sudah di tandatangan warga di atas materai untuk tidak mengambil dana tersebut.

“Ini bukan soal uang tongkang saja tapi, soal lokasi dan ritasi dan masyarakat ingin mengetahui hal tersebut dengan tranfaran dan terbuka secara jelas,”katanya.

Ketua pemuda Ari menyarankan, jika warga tidak ada yang mau menggambil uang tersebut lebih diberikan kepada Club olahraga, Masjid dan TPA.

“Sama-sama tidak ada yang mau pegang uang lebih baik dibagikan saja,”sarannya.

Kata ari, namun, semua dikembalikan lagi kepada masyarakat, sebab ini hanya sekedar usulan dan saran saja.

Ketua RT marzani mengatakan, uang tersebut merupakan hak masyarakat. Jadi, selaku ketua RT tidak berhak menentukan.

“Kalau tidak ada yang mau mengambilnya sumbangin saja ke mesjid dan TPA tapi itu hanya sekedar saran dari saya,”katanya.

Ketua masjid setempat mengatakan, dirinya tidak berani berani menerima uang ataupun bentuk sumbangan lain. Sebab, dirinya takutĀ  di kemudian hari ada hal-hal yang tidak diinginkan.

“Saya keberatan jika uang tersebut di berikan kepada masjid, apalagi sebagian masyarakat ada yang setuju dan tidak. Meski, Kas masjid cuma sedikit tapi kami gak mau kemudian hari terjadi apa-apa lantaran menerima uang tersebut,” tandasnya. (mg1)