MEA Masih Dianggap Ancaman

by -
Tellie Gozelie

*Tellie Sebut Minimnya Kesiapan dan Persiapan Sambut MEA

Tellie Gozelie
Tellie Gozelie

MANGGAR – Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) masih dianggap menjadi ancaman oleh masyarakat Indonesia. Masuknya tenaga kerja dari luar Indonesia, dikhawatirkan akan menyaingi tenaga kerja lokal. Padahal, penilaian masyarakat disebabkan minimnya kesiapan dan persiapan menyambut MEA itu sendiri.

Hal tersebut disampaikan anggota DPD RI asal Bangka Belitung (Babel), Tellie Gozelie, saat mengadakan reses di Kabupaten Beltim, Selasa (10/5) kemarin. Kehadiran senator asal Belitung tersebut juga berbarengan dengan anggota DPRD Bangka Belitung asal Dapil IV, Siswanto yang sedang melaksanakan kegiatan serupa.

Menurut Tellie, MEA menarik untuk dibahas karena menjadi ancaman bagi masyarakat sekaligus menjadi peluang bagi yang mampu bersaing.

“Kalau mengenai MEA itu menarik. MEA itu, kalau banyak masyarakat menganggap MEA itu sebagai satu ancaman, nyatanya ya betul saat ini. Kenapa jadi ancaman, itu pertanyaannya kan? karena kita kurang siap, tidak ada kesiapan dari kita menghadapi MEA,” ungkap Tellie saat ditemui Belitong Ekspres, usai bertatap muka dengan pejabat Pemkab Beltim di ruang rapat Bupati Beltim.

Sebaliknya, sebut Tellie, kalau masyarakat siap justru menjadi peluang. Sebab bukan hanya orang (tenaga kerja, red) bisa datang Indonesia tetapi sebaliknya berlaku hal yang sama diantara negara-negara Asean lainnya.

“Bukan hanya mereka bisa datang kesini, bisa bekerja, berbisnis tapi kita bisa ke negara lain tanpa hambatan, jadi kalau kita bicara potensi ini peluang. Saya bisa ke Philipina, Malaysia, Brunei atau Thailand. Ini hanya soal SDM,” ujar Tellie.

Ia menyebut, perlu adanya upaya konkret dari Pemerintah di tingkat pusat dan daerah untuk segera membenahi Sumber Daya Manusia (SDM).

“Oleh karena itu yang paling penting, saya tadi ngomong lupa menyampaikan ini. Pemda harus menyiapkan SDM yang handal, suka tidak suka kalau kita tidak mau tergilas,” sebutnya.

“Kita tidak mau bicara retorika, kita tidak mau jadi penonton di negeri sendiri tanpa ada yang dilakukan. Peningkatan SDM sangat penting,” imbuhnya.

Menurutnya, SDM yang diperlukan adalah terampil sesuai bidang pekerjaan yang digeluti agar mampu bersaing. Meski kenyataannya, secara nasional hanya 4 tenaga terampil berbanding 1.000 orang pekerja.

“SDM bisa dari segi pendidikan maupun dari segi lainnya, tinggal menunggu daya saing kita. Sebagai gambaran sekarang hanya 4 dari 1.000 tenaga kerja kita yang terampil secara nasional, tapi terdatanya saya lupa. ini yang saya dapatkan datanya. Intinya skill kita sangat sedikit bukan. Nah ini problem skill, inilah yang jadi permasalahan kita,” sebutnya.

Tellie menambahkan, khusus Provinsi Kep. Bangka Belitung tidak secara spesifik tapi secara nasional memang sudah berkali-kali disosialisasikan permasalahan tersebut.

“Kami meminta Pemerintah pusat untuk melakukan upaya konkret terhadap MEA ini, jadi kita tidak menerima seadanya kedatangan MEA ini, tapi kita harus siap,” harapnya.

Bahkan, lanjutnya, dalam rapat dengan Bappenas sebelumnya, juga belum didapat gambaran jelas upaya mengatasi masalah ini. Sehingga tetap menjadi PeEr (Pekerjaan rumah) bagi pemerintah pusat dan Senayan.

“Saya minta teman-teman menjadi kontrol pengembangan SDM (di daerah, red). Memang tenaga kerja dari luar juga tidak bisa kalau hanya asal-asalan tetapi harus ada syarat-syarat tertentu,” tutupnya. (feb)