Mega Proyek Embung Belitung Rp 123 Miliar Resmi Dilaporkan ke KPK

by -
Penggiat aktivis Anti Korupsi Babel, Marshal Imar Pratama tiba di Gedung KPK, Senin (29/7) kemarin.

Kasatker SNVT Babel: Proyek
Ini Masih Masa Pemeliharaan

Kajati Babel Belum Beri Tanggapan

belitongekspres.co.id, – Proyek sarana air baku, Embung Gunung Mentas di Kabupaten Belitung yang dilaksanakan oleh Satuan Kerja (Satker) SNVT Pelaksana Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA), Sumatera VII Provinsi Bangka Belitung, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, resmi dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI.

Laporan salah satu proyek pendampingan Kejati Babel (TP4D) ini, dipicu atas dugaan adanya ketidakberesan dalam pelaksanaan proyek senilai Rp 123.202.129.000, yang bersumber dari APBN tahun 2016, 2017, dan 2018.

Diantara dugaan ketidakberesan tersebut seperti terjadinya 3 dinding yang ambruk, rumput yang mati, longsor dan retak di beberapa bagian bangunan. Selain itu juga embung tersebut belum difungsikan sebagaimana mestinya.

Pelaporan ke KPK dilakukan oleh penggiat Aktivis Anti Korupsi Bangka Belitung, Marshal Imar Pratama. Saat dihubungi Babel Pos Marshal mengatakan, laporan itu dilakukan pada Senin (29/7) siang langsung ke pusat pelaporan KPK.

“Saya sudah lama berkomunikasi dengan pihak KPK di bagian pengaduan masyarakat terkait rencana pelaporan. Tetapi untuk laporan resminya baru tadi (kemarin.red) saya sampaikan secara tertulis di bagian pengaduan,” kata Marshal.
Namun Marshal mengaku belum dapat membeberkan detil terkait bahan-bahan pengaduanya. Baginya yang terpenting pelaporan resmi sudah masuk ke KPK. “Terkait dugaan seperti yang beredar selama ini seperti adanya bagian yang ambruk, retak sana sini serta belum difungsikan sebagaimana mestinya. Itu yang menjadi munculnya dugaan-dugaan sehingga kita laporkan ke KPK itu,” ujarnya.

Petugas KPK sendiri menurutnya sudah melakukan wawancara terhadap dirinya selaku pelapor. Selebihnya dia menyerahkan sepenuhnya kepada KPK untuk melakukan investigasi secara profesional.

“Saya sampaikan juga kalau proyek ini juga merupakan pendampingan TP4D Kejaksaan Tinggi. Artinya ada pengawasan dari institusi penegak hukum. Tetapi terlepas dari itu semua di lapangan kita menemukan adanya dugaan ketidak beresan dalam pelaksanaan proyek. Maka dari itu kita serahkan kepada KPK untuk menyelidikinya,” paparnya.

“Sebetulnya KPK sendiri lebih senangnya terkait informasi untuk OTT. Tetapi untuk laporan seperti ini KPK juga harus menindaklanjutinya. Karena di sini peran masyarakat hadir dalam melakukan pengawasan terhadap pembangunan terlebih nilai proyeknya fantastis,” tukasnya.

Sementara itu Kasatker SNVT Bangka Belitung (Babel) Jhoni Raharsyah kepada harian ini mengatakan tidak mau berkomentar jauh soal laporan yang sudah masuk ke KPK. Dirinya hanya menjelaskan terkait beberapa bagian proyek yang disorot miring tersebut.

“Memang betul ada yang minor, tetapi sudah diperbaiki semuanya. Karena memang proyek ini masih dalam tahap pemeliharaan. Masa pemeliharaan sampai Januari 2020. Begitu juga uang jaminan kontraktor di bank masih ada Rp 6 miliar,” kata Joni.

Pihak kontraktor sendiri menurutnya terus bertanggung jawab. Pun bilamana pihak kontraktor sistem KSO (Kerjasama operasional) yakni PT Patimah Indah Utama (Jakarta), dan PT. Bangka Cakra Karya ke depan tak bertanggung jawab, maka jaminannya akan ditarik. “Tapi mereka semua bertanggung jawab,” sebutnya.

Joni pun mengaku pihaknya dan kontrakor sudah bekerja maksimal dan benar. Dugaan miring yang ada di publik langsung dibantah keras. Bahkan dia mengatakan kalau proyek tersebut masuk dalam TP4D (Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah) Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung.

“Mana berani macam-macam karena proyek ini didampingi TP4D. Esok (hari ini.red) kami dan kontraktor akan langsung melakukan pertemuan dengan Kajati,” tukas Joni.

Terkait pelaporan ini, Kajati Babel Aditia Warman belum memberikan tanggapan dan klarifikasinya. Dia belum merespon saat harian ini mencoba menghubungi melalui pesan whatsapp terkait pelaporan atas proyek yang didampingi Kejati Babel tersebut. (eza)