Melihat Eksotisme Anggrek Hijau Bukit Buik-Maras Bersama BFS

Salah satu puncak tertinggi di Pulau Bangka yakni Gunung/Bukit Maras ternyata menyimpan sejuta pesona. Baik itu pesona alam yang sangat menggoda bagi para penikmat keindahan, para petualang pun dapat  menemukan eksotiknya anggrek hijau di rute perjalanan menuju puncak air terjun Bukit Buik Gunung Maras.

[metaslider id=48846]

RajaBackLink.com

KEINDAHAN dan eksotismenya anggrek tersebut ditemukan dalam kegiatan ekspedisi Bangka Flora Society (BFS) belum lama ini dalam mengawali kegiatan ekspedisi semester ke 2 tahun 2017. Kegiatan ekspedisi dipimpin Ady Suherman dari tim ekspedisi BFS yang didampingi 2 kader konservasi Desa Dalil yakni  Junaidi dan Ikhsan alias Ican berlangsung pada Minggu (2/7) lalu.

Selain itu diikuti juga beberapa anggota BFS dan Ir. Dian Rossana Anggraeni bersama 15 siswa sekolah alam langit biru yang merupakan binaan BFS.

Adapun tujuan kegiatan menurut Ady, untuk merealisasikan program kerja sekaligus melakukan pemetaan dan identifikasi flora Babel.  “Bahkan kita juga akan lakukan konservasi ex-situ bila habitatnya terancam. Adapun kegiatan kali ini juga melibatkan 15 siswa sekolah alam langit biru yang dipimpin oleh  Bu Dian,” kata Ady di Sungailiat, Rabu (5/7).

Baca Juga:  Libur Sekolah, 2074 Orang Kunjungi Museum

Dalam wilayah tersebut baru pertama kali tim ekspedisi BFS melakukan ekspedisi, hingga menemukan keindahan dan eksotisme anggrek hijau yang cukup banyak dijumpai sepanjang perjalanan tim menuju ke air terjun Bukit Buik. Selain membuat terbayar sudah kepenatan, kejenuhan dan kecapekan saat mendaki juga bonus menyaksikan keindahan Bukit Buik dengan pesona anggrek hijaunya. “Calderia atau anggrek hijau dapat disaksikan hidup dan tumbuh subur di kawasan ini, daerah yang sejuk karena memiliki kelembaban yang cukup tinggi dengan aliran air diselamatkan batu. Sungai kecilnya menjadikan tempat ini merupakan tempat tumbuh suburnya si cantik claderia atau anggrek hijau,” sumringahnya.

Sementara itu Dian Rossana Anggraeni mengatakan, keikutsertaan siswanya guna menyiapkan kader-kader hijau pecinta dan penjaga kelestarian alam dan lingkungan. Para siswanya diajak untuk berinteraksi langsung agar dapat merasakan dan mensyukuri karunia Tuhan yang maha kuasa.  “Dengan begitu dapat tertanam rasa memiliki dan bermuara terhadap kecintaan dan menjaga lingkungan ini dengan sepenuh hati. Mereka juga belajar langsung di habitat aslinya untuk mengidentifikasi keragaman Babel,” sebut Dian.

Menurut Dian species seperti anggrek hijau dapat tumbuh dan hidup di ketinggian asalkan lingkungannya mendukung dengan kelembaban yang ideal. Biasanya anggrek hijau hidup dan tumbuh di daratan rendah yang berawa rawa, sehingga keberadaannya di Bukit Buik menjadikan anggrek hijau lebih special.

Baca Juga:  Libur Sekolah, 2074 Orang Kunjungi Museum

Dibanding 9 anggrek yang dijumpai tim dalam perjalanan anggrek hijau warnanya sedikit lebih pekat hijaunya dibanding dengan anggrek lainnya. Hal ini dikarenakan lingkungan hutan yang masih cukup lebat ditambah sangat terjaganya suhu dan kelembabannya.

Selain si cantik  anggrek hijau, juga dijumpai sekitar 9 spesies anggrek lainnya, diantaranya juga ditemukan dendrobium lamelatum, dendrobium elipsophyllum, dendrobium leonis, juga ada bulbophyllum pucturatum (anggrek kancing), bulbophyluum pictum, eria jakobsoni’i, dan sangoinulantum si anggrek daun merah atau biasa populer dengan sebutan anggrek tusuk konde.

“Kecantikan dan keindahan Claderia si hijau dari Bukit Buik ini memberikan warna tersendiri dalam menunjang keindahan air terjun Bukit Buik. Namun ini harus menjadi perhatian kita semua untuk menjaga ekosistemnya agar dapat terjaga dan bisa dinikmati sepanjang masa bagi setiap pengunjung untuk melakukan wisata di daerah ini,” sebut Dian. (trh)

Tags:
author

Author: