Memainkan Bedil Bulo, Alihkan Mercon yang Berbahaya

by -

*Ketika Anak-Anak Menyambut Bulan Puasa dengan Sukacita

TANJUNGPANDAN-Setiap bulan Ramadan atau bulan puasa datang, disambut dengan sukacita oleh umat Muslim di Belitung dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Selain niat beribadah, Bulan Ramadan juga menjadi bulan khusus yang dinantikan anak-anak dan remaja.
Apa spesialnya buat anak-anak? Anak-anak di Belitong, pada bulan puasa ada kebiasaan unik memainkan permainan semacam meriam tak berpeluru. Suaranya menggelegar, tapi tak ada peluru yang terlempar. Urang Belitong menyebut permainan ini “bedil bulo”. Permainan bedil bulo ini bisa menjadi alternatif untuk menghindari mercon/petasan yang lebih beresiko tinggi, bahkan melanggar hukum.
Dalam terminologi masyarakat Jawa, bedil diartikan dengan senjata semacam pistol atau senapan. Di Belitong yang memiliki bahasa asli Bahasa Melayu, menamakan permainan ini dengan nama “bedil bulo”.
Bedil dibuat dari sebatang bambu dengan panjang sekitar 1,5 meter. Bambu pada tiap ruasnya dilobangi agar batang bambu sepanjang itu terbuka, kecuali bagian pangkal yang masih disisakan terutup. Pangkal bambu yang masih tertutup itu dilobangi kecil memasukkan minyak tanah sebagai bahan bakar pemicu tekanan. Sementara lobang kecil untuk menyulut atau memantik agar bedil bulo bisa berbunyi.
Bedil bulo, biasa dimainkan anak-anak dan remaja usai Salat Tarawaih di Bulan Ramadan. Dengan menggunakan minyak tanah, bagian pangkal Bedil diisi secukupnya bana bakar yang masih mudah didapatkan ini. Setelah dipanasi dengan disulut api sekitar 15 menit, bedil siap dimainkan. Jangan lupa siapkan sebilah bambu berdiameter sekitar ½ sentimeter panjang setengah meter atau sebesar bilah panah untuk menyulut lobang bedil. Letakkan bedil pada posisi meninggi pada ujungnya dengan sudut sekitar 30-40 derajat dengan disanggah papa, batu atau kayu. Yang penting posisi bambu bedil bulo meninggi.
Ketika sudah panas, lobang kecil untuk pelatuk bedil bulo ditiup anginnya dan bedil siap disulut dengan bilah bambu yang ujungnya sudah ada apinya. Begitu seterusnya, makin panas bambu bedil bulo, maka makin garang bedil ini berbunyi.
Tak jarang, permaian bedil ini dijadikan ajang persaingan “gengsi” antar dusun lokasi anak-anak bermain. Jadi bisa jadi dengan jarak puluhan hingga ratusan meter, suara bedil masih terdengar nyaring dan menggelegar. Dari ujung antar dusun seolah terjadi perang suara bedil bulo.
Dan kondisi ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi yang sama-sama bermain bedil bulo. Alias mereka saling tak mau kalah untuk terus membunyikan bedil bulo. Namun, tetap saja ada batas waktu yang menjadi kebiasaan di Belitung sekitar pukul 22.00 WIB sudah harus selesai.
Aji dan Merio bocah asal Jalan Jendral Sudirman Lesung Batang mengatakan, dirinya rutin bermain bedil bulo ini tiap habis Salat Tarawih. Tempatnya pun berbeda-beda. Kadang di lapangan bola, kadang juga di pinggiran jalan raya yang relatif sepi pengendara kendaraan.

“Hampir tiap hari kami rajin main ini (Bedil Bulo). Bahkan sejak awal puasa kami berdua bermain bedil bulo,” ujar kedua bocah ini kepada Belitong Ekspres, Selasa (23/6) malam lalu, di Jalan Jendral Sudirman Lesung Batang.

Meski permainan ini diangap tidak bahaya. Namun, untuk bermain ini diperlukan pengawasan orang tua. Sebab, permainan tersebut identik dengan benda yang mudah terbakar, seperti bambu dan minyak tanah (minyak gas).

Orang tua Aji mengatakan, dirinya mengaku senang anaknya melestarikan permainan tersebut. Dijelaskan pria yang sehari-hari penjual buah ini, permainan tersebut merupakan khas Belitong di jaman dahulu.

Dirinya berharap, permainan khas Belitong tetap dilestarikan. Sebab, diperkembangan zaman banyak permainan tradional Belitong sudah tidak ada lagi.
“Bahkan anak-anak jaman sekarang lebih memilih main mercon dan kembang api dari pada Bedil Bulo. Padahal, mercon sangat berbahaya di bandikan Bedil Bulo dan jelas dilarang polisi,” pungkasnya. (kin)