Membebaskan Sekolah dari Narkoba

by -1 views

Oleh: SADELY ILYAS*

 Belakangan ini, kita terus disuguhi oleh informasi tentang penyalahgunaan obat-obat terlarang, terutama narkoba yang semakin meningkat. Mulai dari anak-anak, pelajar/remaja, sampai orang dewasa. Dari golongan masyarakat tidak mampu sampai dengan yang kaya, pejabat, polisi, dan juga politisi. Baik yang berasal dari keluarga yang ‘broken home’ hingga keluarga yang harmonis sekali pun.

Menurut data BNN Pusat, sampai akhir 2015 pengguna narkoba di Indonesia telah menjacai 5 juta orang, bahkan 1,5 juta korban adalah remaja/pelajar. Generasi muda yang telah kecanduan obat-obat terlarang ini, mereka dianggap sebagai generasi yang tidak memiliki masa depan yang jelas. Bahkan, sekarang Indonesia dinyatakan sebagai negara ‘darurat narkoba’, pendek kata, narkoba dapat meracuni siapa saja tanpa pandang bulu. Akibat yang diderita oleh pengguna narkoba adalah terjadinya kecanduan, kerusakan otak dan organ tubuh, gila, hilang ingatan, bahkan ada yang meninggal dunia.

Penyalahguna narkoba di kalangan pelajar di Indonesia  juga terus menunjukkan kenaikan, ini menggambarkan bahwa remaja pelajar merupakan target sasaran yang paling mudah bagi peredaran dan penyalahgunaan narkoba.  Karena itu diperlukan kerjasama yang sinergis lembaga terkait dengan warga di sekolah dalam membentengi lingkungannya dari ancaman bahaya yang satu ini. Untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang bebas narkoba, tidak saja menjadi tanggung jawab warga sekolah, tetapi juga membutuhkan peran aktif tokoh-tokoh masyarakat di lingkungan sekolah.

Terkait dengan hal ini, kita masyarakat memberikan apresiasi kepada Kejari Tanjungpandan Belitung yang telah melakukan kunjungan sekaligus penyuluhan pada sekolah-sekolah terhadap bahaya narkoba ini. Menurut Nova Elidah Saragih, SH. MH, Kejari Tanjungpandan ketika berdialog dengan para siswa SMA Negeri 1 Tanjungpandan (21/3) ini merupakan langkah konkret untuk memberikan pendidikan bahaya narkoba di Belitung, khususnya generasi muda. Bahaya narkoba dianggap penting karena narkoba sudah mengancam  berbagai kalangan masyarakat, termasuk generasi muda. Sementara itu, anggota Komisi I DPRD Beltim Koko Hariyanto ikut prihatin dengan penyimpangan perilaku para pelajar di Beltim. Menurut Koko, harus ada gerakan aksi selamatkan pelajar agar tidak terjerumus ke perilaku negatif seperti mengkonsumsi narkoba, miras, dan lainnya (Belitong Ekspres, 22/3/2016).

Lingkungan sekolah sebagai tempat berkumpulnya para pelajar dengan kelompok sebayanya selama 5-6 jam per hari, merupakan lembaga yang potensial dalam mempengaruhi dan mewarnai kehidupan pelajar. Dalam kaitannya dengan penyalahgunaan narkoba, pergaulan dengan kelompok sebaya di lingkungan tempat bermain dan berkumpul, tidak menutup kemungkinan dapat dijadikan sebagai ajang pertukaran informasi, pembagian, jual beli serta perkenalan terhadap penyalahguna narkoba yang cukup efektif. Oleh karena itu seluruh warga sekolah dan ‘stakeholders’ harus saling bahu-membahu dan terlibat aktif dalam melakukan upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba secara terus-menerus dilinngkungan sekolah masing-masing. Sebab penyalahgunaan narkoba menjadi awal kehancuran kehidupan individu, keluarga dan kehidupan sosial. Dalam skala yang lebih luas, merupakan ancaman bagi perkembangan dan eksistensi negara dan bangsa.

Dari hasil identifikasi  menunjukkan, bahwa karakteristik siswa yang dijadikan sasaran peredaran narkoba adalah siswa yang kurang berminat sekolah, malas atau tidak mau mengikuti pelajaran, sering meninggalkan jam belajar, sering mengeluh punya masalah dengan guru, orang tua atau teman, kurang percaya diri atau percaya diri secara berlebihan, berani tampil beda (baik dari cara berpakaian, sikap, maupun tindakan), mudah merasa bosan, suka melakukan tindakan yang beresiko tinggi, diketahui muda mendapatkan uang, anak dari orang tua yang berpengaruh, dan siswa yang suka berpenampilan mewah.

Secara umum kondisi sekolah yang rawan bagi peredaran narkoba adalah sekolah lemahnya kontrol dari petugas sekolah (guru/satpam), aturan sekolah yang kurang tegas dan penerapan sanksi yang tidak konsisten terhadap pelanggaran, serta kurangnya pemahaman dan pengetahuan siswa, guru, petugas sekolah dan orang tua mengenai bahaya narkoba. Selain itu, terdapat beberapa faktor yang secara tidak langsung ikut menambah rawannya pelajar pengguna narkoba di lingkungan sekolah, misalnya peraturan sekolah yang terlalu keras atau yang terlalu lunak; komunikasi yang kurang efektif antara guru, kepala sekolah, siswa, dan orang tua; kegiatan sekolah yang terlalu padat dan tidak aspiratif terhadap minat siswa; penanganan yang tidak optimal terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar; kurangnya keterlibatan orang tua dalam sosialisasi masalah narkoba; komite sekolah kurang difungsikan secara optimal; dan belum adanya sinergi antara pihak sekolah, masyarakat dan instansi lain yang terkait dalam upaya penanggulangan narkoba.

Persoalan narkoba bukan lagi masalah nasional, tetapi sudah bersifat transnasional yang tidak dapat diselesaikan secara sepihak dengan langkah-langkah konvensional. Oleh karena itu, dalam upaya membebaskan  lingkungan sekolah dari bahaya narkoba ini, upaya sistematis dapat dilakukan:

Pertama: pada tingkat sekolah yaitu;  (1) membentuk ‘task force’ (satuan tugas) yang bertujuan menciptakan lingkungan sekolah bebas narkoba, yang terdiri pihak sekolah, orang tua siswa, siswa, dan masyarakat setempat. (2) melakukan kajian masalah narkoba berdasarkan situasi setempat, meliputi peredaran narkoba di sekolah, karakteristik siswa penyalahguna, latarbelakang keluarga siswa pengguna, kondisi yang menyebabkan siswa menjadi pengguna dsb. (3) bekerja sama dengan aparat penegak hukum dalam menangani adanya pelanggaran hukum oleh siswa di lingkungan sekolah dan bekerjasama dengan Pemda dalam menciptakan lingkungan sekolah yang tenang dan bersih dari kemungkinan bahaya narkoba. (4) meninjau kembali peraturan yang terlalu keras, menegakkan disiplin belajar yang kurang dan meninjau kembali pilihan kegiatan yang kurang diminati siswa. (5) mengusahakan fasilitas di sekolah berupa sarana olah raga, kesenian, dan keterampilan yang memadai dan menyelenggarakan bimbingan khusus bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar, termasuk masalah perilaku. (7) eningkatkan pengawasan dan keamanan pada semua kegiatan siswa pada waktu jam belajar mau pun setelah belajar (kegiatan ekstrakurikuler). (8) menjalin komunikasi yang efektif dan mengembangkan sikap respek di antara kepala sekolah, guru, petugas/pegawai, siswa, orang tua, dan masyarakat sekitar sekolah.

Kedua: pada tingkat siswa/pelajar; kegiatan yang bisa dilakukan adalah ;  (1) membekali diri dengan pengetahuan mengenai narkoba dan bahayanya, dan menggunakan pengetahuan yang dimilikinya untuk membantu teman (siswa) lain memahami dan menghindarkan diri dari bahaya narkoba. ((2) secara sukarela berperan aktif dalam gerakan keamanan dan ketertiban sekolah, termasuk program penanganan narkoba (melaporkan segala bentuk pemilikan, pengedaran dan penggunaan narkoba oleh siswa kepada orang tua atau guru, mencari pertolongan  guru/orang tua bila salah seorang teman terlibat penyalahgunaan narkoba. (3) menjadikan diri sebagai panutan dan menyediakan diri sebagai mentor bagi adik kelas dalam melaksanakan segala kegiatan anti narkoba. (4) berupaya menjalin komunikasi yang baik dan menunjukkan sikap respek terhadap kepsek, guru, orang tua dan masyarakat setempat.

Ketiga: pada tingkat orang tua/komite sekolah; (1)  mendorong anak untuk membuka diri mengenai kehidupan sosial dan emosinya, termasuk pengalamannya di sekolah (teman, guru, minat, pelanggaran yang terjadi dsb). (2)  mendiskusikan masalah bahaya narkoba dengan anak. (3) mendorong agar anak mau mengikuti kegiatan ekstra kurikuler yang cocok dengan minatnya. Jangan biarkan anak bersikap pasif dan bermalas-malasan saja di rumah. (4) menjalin komunikasi yang baik dan menunjukan respek terhadap anak, guru, teman anak, kepala sekolah dan masyarakat setempat. (5) memantau semua kegiatan anak, termasuk jenis kegiatan, waktu pelaksanaan kegiatan, teman dan orang tua teman anak yang sama-sama mengikuti kegiatan tersebut. (6) menetapkan standar perilaku bagi anak, yang meliputi target nilai yang diharapkan, kegiatan ekstra kurikuler apa yang boleh diikuti, saat dan batasan waktu bepergian, tempat-tempat yang boleh dan tidak boleh dikunjungi.

Bagaimana dengan peran orang tua? Keberadaan orang tua merupakan pendidik utama bagi putra putrinya sekaligus menjadi figur untuk menjadi panutan, teladan. Dengan figur tersebut, peran orang tua sangat besar, sehingga diharapkan mampu melakukan beberapa hal di antaranya sebagai berikut.

  1. l) Mendidik anak-anak agar memiliki kepribadian yang tangguh sehingga dapat menangkal berbagai penyimpangan termasuk bahaya obat-obat terlarang;  2) Menjalankan pola hidup sehat dengan memberikan makanan bergizi, waktu istirahat yang cukup, dan olah raga secara rutin; 3) Menanamkan  gaya hidup cermat, yang ciri-cirinya menghargai waktu, mempunyai perencanaan atas kegiatan, sederhana, keseimbangan dalam pengelolaan uang, keseimbangan antara aktivitas dan hiburan;  4) Memiliki keimanan yang kuat dengan ciri: menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari (terutama melaksanakan sholat lima waktu), menjadikan agama sebagai ‘pendekatan’ dalam menghadapi masalah; 5) Mengontrol pergaulan anak-anak: dengan siapa dia berteman, kemana tujuan dia pergi dan kapan dia kembali, dan apa yang dia kerjakan bersama teman-temanya; 6) Terciptanya suasana keluarga yang harmonis, hangat, gairah, penuh kasih sayang, perhatian, dan penuh dengan rasa kekeluargaan.

Oleh karena itu, maka pihak keluarga, sekolah/guru dan masyarakat harus bersinergi memberantas narkoba dengan mengarahkan anak didik, pelajar dan para remaja kita untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif agar terhindar dari berbagai penyimpangan sosial termasuk  penyalahgunaan obat-obat terlarang yang akan merusak masa depan kehidupan mereka.

Langkah yang paling tepat untuk mencegah penyalahgunaan narkoba lebih meluas adalah melibatkan kepedulian orang tua, pendidik, dan segenap anggota masyarakat secara terpadu. Hal ini tidak lain agar keterlibatan semua elemen masyarakat akan membantu pihak pemerintah (BNN) dalam membasmi penggunaan narkoba sebagai penyakit masyarakat yang setiap waktu jumlah penggunanya terus meningkat. Generasi muda merupakan asset bangsa yang sangat berharga, tumpuan harapan masa depan dan penentu kemajuan dan kejayaan bangsa. Bila para pemuda menjadi penyalahguna narkoba, maka hancurlah masa depan kehidupan bangsa. Yang menjadi catatan bagi kita tentang keberadaan narkoba adalah sebagai upaya menyesatkan anak-anak muda yang cerdas. Candu akan narkoba menjadi masalah yang membuat anak-anak muda lalai, mereka menikmati kesenangan sementara, namun mengorbankan banyak hal di masa depan. Oleh karena itu, “say no to drugs!”  Wallahu A’lam.

*) Pemerhati dan praktisi pendidikan, tinggal di Tanjungpandan, Belitung.