Mengembangkan Business Centre Di SMK

by -

ketua pgri belitung-hamrin mpd drs (2)

Oleh : Drs. Hamrin, M.M.Pd*

Ciri khas dan keunggulan tersendiri dari SMK adalah adanya Business Centre. Business Centre merupakan pengembangan dari kompetensi program keahlian yang dimiliki SMK. Program keahlian dapat mengembangkan kompetensi melalui jalinan kerjasama dengan pihak Dunia Usaha/Dunia Industri dalam mewujudkan prinsip yang saling menguntungkan. Artinya, dari pihak sekolah akan dapat lebih memperdalam ilmu pengetahuan yang tadinya diperoleh secara teori dan akan lebih memahami lagi setelah dipraktekkan secara langsung. Dari pihak DU/DI akan dapat memperkenalkan produknya baik dikalangan sekolah maupun masyarakat di sekitarnya.
Sebagai contoh Program Keahlian Akuntansi dapat bekerjasama dengan pihak Bank dengan membuka Bank Mini. Kompetensi yang akan diperoleh siswa adalah mampu mempraktekkan secara nyata bagaimana penampilan melayani nasabah, mampu menjelaskan dan menerapkan  prosedur cara membuka rekening, mampu memproses uang masuk dan uang keluar serta dapat memahami secara nyata proses terjadi rekonsiliasi bank.
Bila saja siswa dapat menyisihkan uang sakunya Rp.5.000,- per hari untuk 500 siswa, maka akan terkumpul uang sejumlah Rp. 2.500.000,-, maka selama 6 hari efektif belajar akan terkumpul uang sebesar Rp. 15.000.000,- dan per bulan sebesar Rp. 60.000.000,- Jadi bila dana tersebut tidak diambil selama satu tahun maka akan terkumpul uang sebesar Rp. 720.000.000,-
Di samping itu Bank Mini  tersebut dapat melayani masyarakat di sekitar sekolah, apalagi posisi SMK Negeri 1 Tanjungpandan sangat strategis berada di wilayah Desa Perawas dan masyarakat Desa Buluh Tumbang melewatinya. Sebagai partisipasi masyarakat terhadap sekolah dapat saja menabung dengan Bank yang sama dan tidak perlu jauh-jauh menuju pusat kota hanya untuk keperluan menabung atau mengambil uang.
Selain dapat menghemat waktu masyarakat dapat pula melakukan transaksi yang lainnya. Karena itu, pihak SMK Negeri 1 Tanjungpandan dapat pula membuka Mini Super Market, yang menyediakan kebutuhan bahan pokok sehari-hari dengan harga sama dengan harga di pasar, maka akan mempermudah bagi masyarakat untuk berbelanja memenuhi kebutuhannya. Bagi para siswa dari Program Keahlian Pemasaran  secara otomatis dapat langsung mempraktekkan ilmu yang telah didapatnya dari proses pembelajaran.
Bagi guru secara langsung dapat mengamati sikap/perilaku siswa dalam berkomunikasi dengan pelanggan dan dapat mengamati langsung dari hasil prakteknya sesuai dengan tuntutan yang terdapat pada kurikulum 2013 atau kurikulum 2006. Jadi penilaian pembelajaran siswa dapat dengan mudah dilakukan dari aspek kognitif, afektif dan psikomotornya secara integratif. Inilah salah satu penerapan dari kurikulum 2013 dengan pembelajaran dan penilaian otentik.
Kita ambil contoh lagi SMK Negeri 2 Tanjungpandan memiliki Program Keahlian Otomotif, Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Las, dan Budi Daya Perikanan. Business Centre yang dapat dikembangkan misalnya Program Keahlian Otomotif dan Tehnik Kendaraan  Ringan dengan menerima layanan servis baik dari dalam SMK maupun di luar SMK. Katakanlah seluruh guru di Tanjungpandan dan orang tua siswa melakukan servis dan ganti oli mobil dan motor mereka di SMK Negeri 2 Tanjungpandan, maka keterampilan siswa dibawah bimbingan guru akan semakin meningkat sesuai dengan tuntutan yang terdapat pada kurikulumnya.
Seiring majunya perkembangan pariwisata di Kabupaten Belitung, SMK Negeri 3 Tanjungpandan dapat mengembangkan Business Centre dengan membangun hotel yang dikenal dengan Edotel. Konsep Education Hotel (Edotel) adalah sebagai sumber belajar siswa program keahlian akomodasi perhotelan.
Seandainya Edotel hadir di SMKN 3 Tanjungpandan  akan memberikan multi fungsi yaitu sebagai hotel training yang merupakan salah satu sarana dan prasarana praktek bagi siswa program keahlian akomodasi perhotelan dan juga dapat melayani para wisatawan domestik maupun manca negara yang berwisata ke Negeri Laskar Pelangi. Salah satu manfaat adanya Edotel siswa dapat mengurangi frekuensi praktek di hotel-hotel yang ada di Kabupaten Belitung. Selain itu, Edotel dapat dijadikan sebagai alternatif tempat pelaksanaan ajang kegiatan komersial, kegiatan kedinasan seperti pertemuan atau diklat kecil dan dapat pula untuk resepsi perkawinan dengan mengedepankan desain lokal budaya Belitung.
Menurut penulis, Edotel sangat memungkin sekali hadir di SMK Negeri 3 Tanjungpandan dengan melihat kondisi saat ini, bila Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) sudah rampung pembangunanannya dan pindah ke tempat yang baru, maka sesuai dengan master plan dalam wujud miniatur yang sudah dibuat oleh SMK Negeri 3 Tanjungpandan sudah ada rancangan untuk mendirikan Edotel. Tugas kita bersama mewujudkannya, pihak SMK Negeri 3 Tanjungpandan mewujudkan impian hadirnya Edotel dalam satu rancangan proposal untuk di dialogkan kepada Pemkab Belitung dan pihak legislatif mendukung dan mengawal kebijakan yang dibuat oleh pihak eksekutif, maka sangat dapat dipastikan akan terwujudnya Edotel. Hasil studi banding para Kepala SMK dan Pengawas SMK pada tahun 2013 bahwa setiap SMK yang membuka program keahlian Akomodasi Perhotelan sudah memiliki Education Hotel (Edotel) dengan dana sharing bersumber dari APBN, APBD Provinsi, dan APBD Kabupaten/Kota secara bertahap untuk kurun waktu tertentu.
Selanjutnya perlu adanya dialog di antara 7 SMK yang ada di Kabupaten Belitung ini untuk memikirkan pengembangan Business Centre di sekolahnya masing-masing. Hal ini untuk menghindari persaingan yang tidak sehat atau berbagi bidang garapan yang menjadi lahan Business Centre, sehingga setiap SMK memiliki Business Centre yang berbeda dan nantinya dapat saling membantu pada saat proses di lapangan. Bila perlu adakan kajian ilmiah dengan mengundang pakar kewirausahaan dalam bentuk seminar sebelum menentukan bidang usaha apa yang cocok dengan potensi yang dimiliki oleh pihak SMK.
Belajar dari keberhasilan SMK mengembangkan Business Centre bahwa SMK tersebut sudah dapat memberikan kontribusinya untuk dana operasional Sekolah. Selain itu dapat menambah kesejahteraan warga sekolah dan menambah keterampilan siswa serta membuka lapangan pekerjaan bagi alumninya. Tanpa disadari ternyata SMK secara otomatis sedang menerapkan konsep Learning and Working, artinya Belajar sambil Bekerja dan secara keselurahan maka SMK sudah menerapkan konsep Link and Match yang pernah dipopulerkan oleh mantan Mendikbud Wardiman Joyonegoro pada tahun 1990-an.
Saatnya SMK memaknai konsep keberkaitan dan keberpadanan (Link and Match) tidak lagi menyiapkan tukang kerja atau istilah lain SDM siap kerja, namun dimaknai dalam bentuk kemampuan untuk berpikir kritis sehingga lulusan SMK bukan siap pakai tapi siap mikir. ”siap mikir” inilah ciri dunia kerja modern. Dunia SMK harus menyiapkan kemampuan berpikir yang meliputi kemampuan berpikir kritis. Kemampuan menganalisis permasalahan di lapangan.  Banyak generasi muda  tidak tertarik sama sekali atau tidak tahu bagaimana menjadi pencipta kerja.
Mengapa?  Karena mereka tak terbiasa untuk berpikir kritis.  Mungkin mereka berpikir  dunia seakan sudah selesai dan tak perlu lagi pemikiran baru.  Padahal, kemampuan berpikir kritis inilah yang akan menjadikan seseorang sebagai wirausahawan sejati atau pekerja yang bukan sekedar buruh tapi pekerja masa depan. Berpikir kritis hanya mampu mengajak seseorang untuk menemukan permasalahan. Haruskah seorang lulusan SMK hanya dididik mampu menemukan masalah? Tentu saja jawabannya tidak.
Untuk itu, diperlukan kemampuan mencari alternatif. Kemampuan memikirkan alternatif pemecahan masalah inilah yang dimaksud dengan kemampuan berpikir kreatif.  Proses akhir dari sebuah berpikir kreatif adalah sesuatu yang baru dan belum terpikirkan oleh orang lain. Sesuatu yang baru tersebut akan menjadi mahal, apabila orang lain ingin memilikinya, karena dia adalah hak cipta intektual seseorang yang dilindungi oleh undang-undang. Kemudian diperkuat dengan kemampuan berpikir inovatif yaitu kemampuan menerapkan solusi-solusi itu dalam kehidupan nyata.  Ada jalan baru.  Ada harapan baru.  Ada sesuatu yang cocok untuk masa depan kehidupan.
Jika kemampuan berpikir kritis, kreatif dan inovatif dilakukan terus menerus dalam dunia pendidikan, maka dunia pendidikan akan menjadi selaras dengan dunia kerja bahkan dunia kehidupan dalam arti luas. Inilah sesungguhnya harapan dari paradigma link and match bahwa dunia pendidikan memang harus selaras dengan denyut kehidupan.Tentu saja impian ini dapat terwujud apabila sudah dimulai dari Input, Proses dan Output dijalankan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dipadukan dengan sikronisasi kebutuhan dunia kerja dan kehidupan, maka akan lahir Sumber Daya Manusia bermutu untuk kebutuhan Kabupaten Belitung dan di luar Kabupaten Belitung. Semoga menjadi kenyataan!

* Pengawas SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung