Mengunjungi Kandang Pelandok (Kancil) Marsidi di Desa Sijuk Kecamatan Sijuk

OYO 399 Kelayang Beach Hotel

*Ternyata Mudah Dipelihara, Kini Jadi Objek Wisata

Masyarakat Pulau Belitong tentu sudah akrab dengan hewan yang dinamai Pelandok (Pelanduk atau Kancil-dalam Bahasa Indonesia). Hewan yang sekilas seperti Kancil itu, dulu cukup banyak populasinya di Belitong. Kini, bisa dikatakan hampir punah. Namun, masih ada warga masyarakat yang berinisiatif mengembangbiakkan Pelandok. Salah satunya Marsidi, warga Sijuk.
Ade Sahputra, Belitong Ekspres
Keberadan pelandok di Belitung sempat menjadi hewan yang ngetop. Daging Pelandok diakui empuk enak untuk disantap. Dulu jika melihat ke dapur, setiap rumah orang Belitung tak akan sulit mendapatkan gigi pelandok. Tapi, saat ini sudah mulai sulit dicari, giginya sulit apalagi Pelandoknya. Pelandok atau Pelanduk ini termasuk hewan mamalia atau menyusui, masuk dalam marga Tragulus, keluarga Tragulidae, berkerabat dekat dengan kijang dan rusa.
Dengan bertambahnya lahan perkebun, juga akibat buruan manusia yang membuat pelandok sulit berkembang secara liar di hutan-hutan.  Pelandok zaman dulu sering dijadikan bahan menu Gangan maupun dipanggang.
Di Desa Sijuk Kecamatan Sijuk sudah ada masyarakat yang memiliki inisiatif memulai mengembangbiakan Pelandok. Jumlahnya saat ini sudah mencapai delapan ekor. Marsidi, pemilik Pelandok mengatakan, awalnya jumlah pelandok ada empat, tiga berjenis kelamin betina dan satu jantan. Ia diberi oleh warga dari Selat Nasik.
“Empat ekor, ini kan la dua tahun. Jadi tahun lalu melahirkan satu. Tahun ini tidak lagi,” kata Marsidi ditemui di kediamannya, Senin (12/1) kemarin.
Menurut Marsidi dua tahun berjalan, ternyata memelihara Pelandok tidak sulit. Hanya saja dia butuh tempat yang sedikit tenang. Untuk makanan juga tidak sulit. Setiap hari Pelandok yang sudah berjumlah delapan ekor hanya makan daun singkong, kangkung, wortel daun simpor, dan dedaunan di pohon yang ada di hutan.
Kalau dihiutng biaya, ia mengaku menghabiskan Rp 10 ribu per hari untuk delapan Pelandok ini. Dan Marsidi merasa tidak keberatan dengan ongkos memelihara harian tersebut. “Ndak la, Rp10 ribu la sehari. Hobi, karena kita kan daerah objek wisata, mengapa tidak kita kembangkan, Pelandok sudah mulai punah di Belitong,” ujar Marsidi.
Ia optimis tahun depan Pelanduknya akan melahirkan lima anak. Karena berdasarkan pengamatan dua tahun terakhir, dengan kandang 14 X 30 meter dia lebih enjoy. Tidak seperti awal memelihara, dengan kandang lebih kecil, dia hanya melahirkan satu saja.
Hingga kini, kandang pelandok Marsidi sudah jadi bagian dari objek wisata di Desa Sijuk.
Banyak travel yang mengajak tamu hanya untuk sekedar melihat Pelandok. Kalau dihitung-hitung jumlahnya sudah ratusan, mulai dari turis lokal, hingga mancanegara. Ada dari China, Amerika, dan Belanda. “Ternyata tamu kaget juga bagus bulunya. Mereka selalu bilang ini harus dibudidayakan,” tukasnya.
Benar saja, kebetulan wartawan berkesempatan melihat langsung masuk ke kandang. Sayangnya, wartawan hanya mampu melihat dari jarak belasan meter. Pelandok Marsidi memang masih liar jika ada orang asing yang mendekat. Sehingga agak sulit kamera wartawan mengabadikan gambar Pelandok. “Kalau saya ngasih makan, dia tidak lari-lari gitu,” kata Marsidi.
Kembali ke wisatawan, rupanya Marsidi tidak mamatok tarif bagi wisatawan yang ingin melihat Pelandok. Ia mengatakan hanya menjalankan hobi sekaligus mengenalkan bahwa di Belitong ada Pelandok. Syukurnya, masyarakat sekitar juga peduli. Buktinya tidak ada yang usil dengan peliharaan pelandok Marsidi. (ade)

Baca Juga:  Burrito Time

Tags:
author

Author: