Menjadi Guru Inspiratif

RajaBackLink.com

Oleh: Sadely Ilyas Rahman*
Pensiunan Guru SMA Tanjungpandan

SALAH satu isu yang banyak disoroti oleh berbagai pihak dalam penyelenggaraan pendidikan adalah rendahnya pencapaian hasil pendidikan yang peroleh peserta didik, terutama di jenjang pendidikan dasar. Tudingan pun selalu di arahkan kepada para pendidik alias guru. Hal ini tidak berlebihan, mengingat posisi guru merupakan ‘ujung tobak’ proses belajar-mengajar. Melalui gurulah proses transformasi nilai ilmu pengetahuan dan teknologi diarahkan kepada peserta didik. Sehingga maju atau mundurnya suatu peradaban bangsa amat ditentukan oleh profesi guru.

Peran guru sangat vital bagi pembentukan kepribadian, serta visi – misi sekolah yang menjadi impian anak didik. Kesuksean anak didik tidak terlepas dari kesuksesan guru. Oleh karena itu, jJika guru mampu menjadi sumber inspirasi bagi muridnya, maka hal itu akan menjadi ‘power’ kekuatan anak didik dalam mengejar impiannya. Sebab, di belakang kesuksesan seseorang, selalu ada ‘back grown’ yang memberikan motivasi dan inspirasi, yaitu orang tua dan guru.

Namun dibalik itu, pesatnya perkembangan tekknologi informasi saat ini, memunculkan tantangan baru bagi seorang guru. Mengingat, guru sudah bukan satu-satunya sumber informasi dalam dunia pendidikan, sehingga muncul pendapat bahwa belajar bisa berlangsung tanpa guru. Jika belajar diartikan sebagai proses memperoleh pengetahuan, namun, perlu diingat, pendidikan dan pembelajaran juga sebagai media pendewasaan, maka prosesnya tidak dapat berlangsung tanpa guru. Namun demikian, untuk berprofesi sebagai guru juga tidak sembarang orang, dibutuhkan spesifikasi dan kualifikasi. Dalam pembelajaran, tenaga pendidik memiliki peranan yang penting terutama dalam mempengaruhi prestasi peserta didik. Jika kualitas tenaga pendidik semakin ditingkatkan, kemajuan suatu negara akan semakin meningkat. Namun, kenyataannya masih banyak tenaga pendidik yang belum memenuhi kriteria dasar sebagai tenaga pendidik yang berkualitas.

Kita bisa berkaca pada Finlandia. Guru-guru di Finlandia adalah guru-guru dengan kualitas terbaik yang direkrut dan dididik menjadi guru dari lulusan sekolah menengah yang terbaik di negeri itu dan tingkat persaingan untuk memasuki profesi guru lebih ketat dibandingkan dengan profesi lainnya. Dengan kualitas mahasiswa calon guru yang baik, serta pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas, sangat dimungkinkan terbentuknya lulusan tenaga pendidik dengan kualitas yang luar biasa.
Selain itu, di saat banyak negara lain meyakini bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa terlalu banyak ujian (yang diberikan guru pada siswa) cenderung akan membuat guru hanya mengajar siswa untuk lulus ujian. Padahal, banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian.

Baca Juga:  Guru dan Budaya Literasi

Hal- hal yang perlu dicermati untuk menjadi guru yang baik adalah mengenali potensi diri dengan melihat kelebihan dan kekurangannya. Sumber daya guru itu sendiri harus sesuai dengan tuntutan spesifikasi, sertifikasi, dan kompetensi yang diinginkan. Aspek tersebut harus terakomodir guna mendukung pemenuhan kebutuhan ‘Standar Pelayanan Minimal’ bidang pendidikan, apalagi jika guru tersebut bertugas di sekolah kejuruan. Hal ini mengingat bahwa, tanpa guru yang baik maka sarana dan prasarana yang ada tidak dapat dioptimalkan pemanfaatannya.

Muhaimin (dalam Kompri, 2015), berpendapat, guru yang berupaya meningkatkan pembelajaran adalah guru yang berkomitmen pada:

1) Profesionalitas, yang melekat pada dirinya secara dedikatif, komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja.

2) Menguasai ilmu dan mampu mengembangkan serta menjelaskan fungsi dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, atau sekaligus melakukan transfer ilmu pengetahuan, internalisasi, serta implimentasi (amaliah).

3) Mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, serta mampu menjadi model (sentral identifikasi diri) atau pusat panutan, teladan bagi peserta didiknya.

4) Memiliki kepekaan intelaktual dan informasi, serta memperbaharui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan, dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan mereka, serta melatih keterampilan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya. 5) Mampu bertanggung jawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa depan.

Jika seluruh komponen pendidikan dan pembelajaran dipersiapkan dengan baik, maka mutu pendidikan kita dengan sendirinya akan meningkat. Namun, dari seluruh komponen tersebut, gurulah yang merupakan komponen utama. Jika kinerja guru berkualitas, maka pendidikan anak akan berkualitas pula. Jika tindakan guru dari hari ke hari bertambah baik, maka akan bertambah baik pulalah dunia pendidikan. Sebaliknya, jika tindakan guru dari hari ke hari makin memburuk, maka akan makin parahlah dunia pendidikan.

Baca Juga:  Kontrol Politik Dalam Demokrasi

Guru itu diibaratkan pasukan tempur yang menentukan kemenangan atau kekalahan dalam peperangan. Jika mereka ingin menang dalam pertempuran, mereka harus memiliki kemampuan, penguasaan dan strategi bertempur dengan baik. (Kompri, M.Pd.I: 2015), Maka dari itu, guru yang berkualifikasi sekarang menurut pakar pendidikan Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Herawati Susilo, minimal ada 6 kriteria, yaitu: belajar sepanjang hayat, literate sains dan teknologi, menguasai bahasa Inggris dengan baik, terampil melaksanakan penelitian tindakan kelas, rajin menghasilkan karya tulis, serta mampu mendidik murid berdasarkan filosofi konstruktivisme dengan pendekatan konstektual. Hal yang tidak kalah penting, guru juga harus dapat membagi waktu dengan baik untuk bermasyarakat, membaca, menulis, dan gemar melakukan penelitian. Sebab, guru juga adalah panutan bagi anak didik dan masyarakat lingkungannya.

Hubungan dengan keberhasilan dalam mendidik, maka guru harus mampu melaksanakan ‘inspiring teaching’ yaitu guru yang melalui kegiatan mengajarnya mampu mengilhami peserta didik menggapai mimpi-mimpi menjadi kenyataan. Guru yang baik adalah guru yang mampu menghidupkan gagasan-gagasan yang besar. Kemampuan ini harus, ditumbuh-kembangkan sedikit demi sedikit. Untuk ini guru harus menyisihkan waktu untuk mencerna pengalamannya sehari-hari dan memperluas pengetahuannya secara terus menerus.

Disamping mengajar ia harus merenung dan membaca. Untuk ini guru membutuhkan waktu. Jika waktu dihabiskan untuk mengajar setiap hari, maka tidak akan ada kesempatan baginya untuk meningkatkan kemampuan sebagai pendidik. Dengan demikian, tidak ada harapan baginya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Tudingan seperti inilah yang sering di arahkan kepada guru yang dianggap sebagai penyebab rendahnya kualitas hasil pendidikan.

“Guru-guru yang biasa-biasa, berbicara. Guru yang bagus, menerangkan. Guru yang hebat, mendemonstrasikan. Guru yang agung, memberi inspirasi”, begitu pendapat William Athur Ward. Horace Mann berkata, “Seorang guru yang berusaha mengajarkan tanpa menginspirasi muridnya dengan keinginan untuk belajar adalah seperti memalu besi dingin” . Dengan begitu, menjadi guru inspiratif adalah keniscayaan. Wallahu A’lam (*)

Rate this article!
Menjadi Guru Inspiratif,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply