Menjadi ‘Sahabat’ Anak Didik

suasana penerimaan peserta didik baru. foto ilustrasi : jambiekspres/jpg

Oleh: Sadely Ilyas Rahman*
Pensiunan Guru SMA Tanjungpandan

iklan swissbell

belitongekspres.co.id, KEMAJUAN teknologi informasi rupanya sudah berimplikasi pada pola hubungan antar-manusia, tak terkecuali dalam dunia pendidikan.

Ini terbukti dari pola interkasi edukatif antara guru dan siswa semakin berjarak. Saat ini guru jangan lagi berharap, murid-murid yang diajarnya akan berebut ingin dengan sukarela membawakan tas gurunya seperti dulu.

Zaman di mana guru masih menjadi sosok karismatik dan berwibawa yang senantiasa disegani siswa. Kini, pemandangan seperti itu mungkin hanya ada dalam cerita film ‘tempo doeloe’.

Dengan perubahan itu, hasil pendidikan jaman dulu dengan pendidikan generasi sekarang sangat jauh berbeda. Dalam konteks etika dan moral, pendidikan kita bukannya mengalami peningkatan, tapi malah mengalami penurunan.

Dampak dari perbedaan tersebut, tentu bukan saja terletak dari pola hubungan di dalam keluarga dan lingkungan sosial, tetapi juga terjadi pada lingkungan persekolahan.

Di kalangan guru pun, masih ada yang melakukan pekerjaannya hanya menyampaikan ilmu ‘ansich’ kepada siswa, tanpa disertai mendidik. Masih ditemukan orientasi guru jika ilmunya sudah sampai kepada siswa pekerjaannya sudah selesai.

Abdullah Munir (2010) penulis buku ‘Spiritual Teaching’, menegaskan adanya realitas yang menyiratkan mulai meredupnya nuansa ‘kasih sayang’ dalam interaksi antara guru dengan murid, disertai kerenggangan hubungan terasa mengental, saat guru lebih suka menghukum daripada tersenyum, saat guru lebih suka menghardik daripada mencoba bersikap empatik.

Alhasil, bila realitas ini juga dicermati lebih jauh, akan muncul satu pertanyaan; adakah para guru kini sudah beralih fungsi dari merengkuh dan membimbing menjadi menghukum dan menghakimi belaka?

Sementara itu, Imam Musbikin (2010), dalam ‘Guru yang Menakjubkan’ menjelaskan bagaimana seharusnya hubungan antara guru – peserta didik (siswa) terjalin.

Dalam sistem pendidikan kita dewasa ini, ada satu aspek penting yang sering diabaikan yakni nuansa emosional. Nuansa emosional yang di dalamnya mengandung kasih sayang, yang mestinya terjalin kokoh, ternyata sering gagal terciptakan.

Akibatnya, saat ini jarang kita temukan model hubungan antar guru dan siswa seperti hubungan orang tua dengan anak, karena guru memang pengganti orang tua di sekolah.

Betapa sedikitnya guru yang menganggap siswa sebagai ‘sahabat’, yang mau meluangkan waktu untuk berbagi rasa, pengalaman, pengetahuan, tidak hanya di kelas tapi juga di mana pun.

Baca Juga:  Tantangan Guru Di Era Revolusi Industri 4.0

Sudah jarang didapatkan guru yang mau mendengarkan masalah siswa, apalagi menawarkan berbagai alternatif solusinya.

Padahal, seharusnya seorang guru itu layaknya juga seorang dokter, harus bisa ‘mendiagnosis’ dan memberikan ‘terapi’ dari berbagai macam keluhan para “pasien”nya, agar sehat jasmani dan rohaninya.

Cara yang praktis untuk menghadapi kondisi ini adalah guru berusaha menjadi seorang ‘sahabat’ sekaligus menjadi orang tua bagi siswa.

Dengan menjadi ‘sahabat’ guru bisa tahu siapakah sebenarnya yang sedang dididiknya, dan menemukan permasalahan yang dihadapi anak didik.

Agar bisa berperan sebagai ‘sahabat’, guru harus bisa menjadi bagian integral dari kehidupan anak didik, sesuai dengan yang ditekankan oleh kompetensi paedagogik.

Menurut pengarang buku ‘Menjadi Guru Profesional’, Dr. E. Mulyasa M.Pd.(2011) menegaskan bahwa minat, bakat, kemampuan, dan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik tidak akan bekembang secara optimal tanpa bantuan guru.

Mereka memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia, serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan negara, dan bangsa.

Guru juga harus berpacu dalam memberikan kemudahan belajar bagi seluruh peserta didik, agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal.

Dalam hal ini, guru harus kreatif, profesional, dan menyenangkan, dengan memposisikan diri sebagai;

(1) Orang tua yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya.

(2) Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.

(3) Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan, dan bakatnya.

(4) Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya.

(5) Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab.

(6) Membiasakan peserta didik untuk saling berhubungan (bersilaturahim) dengan orang lain secara wajar.

(7) Mengembangkan proses sosialisai yang wajar antar peserta didik, orang lain, dan lingkungannya.

(8) Mengembangkan kreativitas.

(9) Menjadi pembantu ketika diperlukan.

Proses pembelajaran bukan hanya kegiatan mendengarkan, mengingat, dan menghapalkan. Tetapi anak-anak butuh lebih dari itu, yaitu pengakuan akan eksistensi diri.

Ketika orang tua menitipkan anak-anaknya untuk dididik, maka saatnya guru harus mampu tampil sebagai pengganti sosok orang tua bagi mereka.

Untuk menjadi guru yang baik, terlebih dahulu guru mesti menanamkan dalam dirinya untuk tetap komitmen dalam menjalankan tugas-tugasnya dengan sabar dan ikhlas.

Baca Juga:  Paradigma Membangun Pariwisata: Kapitalisme vs Islam

Kecintaannya terhadap tugas diwujudkan dalam bentuk curahan tenaga, waktu dan pikiran, serta bersikap profesional dalam tugas. Keprofesionalan seorang guru akan sangat menguntungkan anak didik.

Apa yang disampaikan dalam pembelajaran akan mudah terserap dan dipahami oleh siswa. Penggunaan model, media, metode dan berbagai komponen pembelajaran, akan menjadi tolak ukur bagi seorang guru dalam proses pembelajaran efektif.

Maka seorang guru pun dituntut mampu mengadakan pembaharuan dalam pembelajaran. Paradigma lama yang mengatakan guru sumber segalanya harus dirobah.

Guru bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar bagi peserta didik, guru harus berfungsi sebagai pengarah, pembimbing, pemotivasi dan penggerak kemauan belajar bagi anak didik, agar ilmu pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diserap menjadi maksimal.

Tugas sebagai seorang guru berat dan sekaligus mulia. Dalam konteks kekinian, paradigma baru pembelajaran bahwa guru adalah “mitra” bagi anak didik, yang berfungsi sebagai pembimbing, pengarah, dan fasilitator yang membantu menyelesaikan masalah pembelajaran. Tugas mendidik, mengajar, dan melatih adalah tanggung jawab seorang guru terhadap anak didik.

Mendidik berkaitan dengan mencerdasan sikap; mengajar berkaitan dengan pencerdasan intelektual, dan melatih berkaitan dengan mengasah keterampilan-keterampilan yang diperlukan tidak hanya untuk saat ini tetapi harus mampu menjangkau masa depan.

Maka dari itu, kemuliaan dari tugas seorang guru terlihat pada tugasnya dalam merubah dan membentuk pola pikir sekaligus perilaku anak didik sedemikian rupa, sehingga peserta didik diharap dapat menemukan sendiri apa ia inginkan dari proses pembelajaran.

Dalam pendidikan modern sekarang, guru dituntut profesional dalam mengemban tugasnya, karena dunia kependidikan mengharuskan adanya inovasi dan improvisasi sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi, di samping sifat ‘pekerjaan’ guru yang situasional dan transaksional.

Di sisi lain kreativitas sangat bermanfaat untuk mengusir rutinitas yang sangat menjenuhkan, memudahkan pemecahan masalah, baik yang menyangkut ‘profesional problem’ maupun ‘personal problem’.

Guru yang memiliki kreativitas berusaha menyenangi tugas-tugasnya, dan memiliki motivasi kerja tinggi. Dampaknya, motivasi belajar siswa tinggi, karena dalam proses pembelajaran sarat akan variasi, inovasi dan improvisasi.

Namaun satu hal yang perlu disadari, bahwa dengan kemajuan teknologi komunikasi sekarang, guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar.

Disinilah peran guru memfasilitasi, dan memotivasi belajar anak didik, dus guru juga berperan sebagai “sahabat” untuk menampung berbagai keluhan mereka. Ini harus dilakukan selama karisma dan kewibawaan guru tetap terjaga. Semoga! Wallahu A’lam (*)

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply