Menpar Selalu Sebut Belitung

by -

*Spesifik Tanjung Kelayang akan Jadi Kawasan Strategis Pariwisata

JAKARTA–Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki obyek wisata sangat banyak. Tak hanya wisata alam, obyek warisan leluhur juga sangat banyak tersebar di seluruh penjuru tanah air.

Menteri Pariwisata Arief Yahya memaparkannya pada Menteri Warisan dan Aktivitas Budaya dan Pariwisata Italia, Federica Guidi, Senin (9/11). Saat itu juga hadir Presiden Joko Widodo dan Presiden Italia Y.M. Sergio Mattarella.

Pertemuan itu sempat membahas hal ringan seperti meja, kursi, taman, makanan dan minuman. Namun, ada kemungkinan Italia menanamkan investasinya di pariwisata Indonesia.

“Kami sangat terbuka. Kami punya 10 destinasi unggulan yang harus diramaikan dengan investor baru, selain 3 greater Bali-Jakarta-Batam. Kami juga punya 25 area yang hendak dibangun sebagai kawasan strategis pariwisata dan kawasan ekonomi khusus pariwisata,” jelas Arief.

Sepuluh destinasi unggulan itu ialah Danau Toba Sumut, Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Pulau Seribu DKI, Boborudur, Bromo, Mandalika, Morotai, Wakatobi, dan Labuan Bajo Komodo.

Di berbagai forum luar maupun dalam negeri, Arief selalu mempromoskan sepuluh lokasi itu pada para investor. Kemenpar pun berperan sebagai kail untuk menangkap ikan.

Arief sadar, pariwisata tak hanya sekadar menambah volume kunjungan turis Italia. Namun, juga harus memasarkan investasi bisnis berbasis pariwisata di tanah air. Di antaranya ialah hotel, resort maupun kapal pesiar. “Itulah pariwisata, yang luwes, fleksibel, cepat, lincah dan bisa dirasakan gregetnya,” kata Arief.

Memorandum of Understanding yang ditandatangani Arief dan Guidi memang bermakna strategis. “Ada lima poin di MoU Indonesia-Italia itu. Kami akan segera tidaklanjuti di level teknis,” tambah Arief.

Pertama, kerjasama di bidang pemasaran dan promosi pariwisata di forum pameran internasional kedua negara. Lalu, peningkatan perjalanan kedua negara secara perseorangan atau group, kerjasama MICE (meeting, incentives, conferences, dan expo). “Baik Italia maupun Indonesia, sama-sama gencar dalam promosi dan pemasaran, jadi bisa dicari konektivitasnya,” kata Arief.

Kedua, kerjasama pengembangan produk, riset, kajian, dan promosi bersama, baik destinasi konvensional, ataupun sebaliknya. Tukar pengalaman, berbagi informasi, kunjungan pengkajian dan perbandingan itu menjadi penting.

Sebab, Italia puya banyak obyek heritage sisa-sisa kejayaan zaman Romawi yang paling berkuasa di Eropa kala itu.

Artefaknya juga tersebar di banyak kota. Di antaranya ialah Colosseum, Menara Pisa, Kota Air Venezia, berbagai arsitektural Roma, patung-patung peninggalan Michael Angelo, dan Pablo Picaso.

Di ibu kota Italia, Roma, juga ada negara kecil, Vatikan, yang menjadi kiblat bagi umat Katholik di seluruh dunia. Jutaan wisatawan multietnis, multicultural, multireligi datang ke sana setiap tahunnya. Indonesia punya artefak Borobudur, punya sejarah Majapahit dan Sriwijaya, punya jejak-jejak Laksamana Cheng Ho, yang semuanya berada di pesisir Bahari. “Memang semuanya belum tergarap optimal, belum efektif mendatangkan wisman. Tapi potensi Wonderful Indonesia itu tidak bisa dibendung, sangat besar. PR-nya adalah mengolah dan mempromosikan dengan baik,” jelas dia.

Di sektor pariwisata, Indonesia memang perlu banyak waktu untuk belajar dari Italia.

“Kita punya artefak yang berkelas dunia juga, Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, peninggalan masa lalu yang kondisinya masih utuh. Kita punya alam, atau nature, yang masih 35% menjadi daya pikat wisman ke Indonesia. Sisanya 60% culture, dan 5% man made, buatan manusia, seperti MICE, sport tourism, show, dan integrated tourism,” ungkap Arief.

Dari portofolio produk nature itu bisa dipecah menjadi tiga besar. Sejumlah 45% tertarik di eko wisata, atau eco turism, wisata alam. Lalu 35% wisata bahari atau marine tourism, dengan obyek utama pantai, pasir, langit, bawah laut, pulau, dan keindahan di sekelilingnya.

“Sisanya, sebanyak 20% adalah wisata petualangan, seperti trekking, hiking, climbing, naik gunung, off road, trabas, dengan objek alam tropis,” katanya.

MoU ketiga ialah kerjasama informasi dan publikasi, pertukaran bahan brosur, bahan pameran, film, foto di bidang pariwisata. Keempat, pengembangan SDM. Kelima, mendukung kerjasama antarindustri pariwisata dari kedua negara. Nota kesepahaman itu akan menjadi payung bagi kedua kementerian pariwisata untuk menindaklanjuti ke level teknis. (jos/jpnn)