Menuntut Penjelasan Kemendikbud soal Full Day School

by -

Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan sekolah delapan jam (full day school) mendapat tanggapan beragam. Ada yang pro, tapi tidak sedikit pula yang terang-terangan menolak program tersebut. Ada banyak dasar untuk mendukung ataupun menolak. Sama-sama punya alasan yang kuat.

Full day school merupakan salah satu program terobosan Kemendikbud. Program ini membuat waktu proses belajar mengajar di sekolah lebih panjang, yakni sehari penuh. Durasinya sekitar delapan jam. Masuk pukul 07.00 dan anak-anak baru bisa pulang pukul 16.00.

Program ini sebenarnya bukanlah hal baru di tanah air. Banyak sekolah yang sudah menerapkan. Terutama sekolah-sekolah swasta yang ada di kota-kota besar. Termasuk di Kota Pekanbaru. Beberapa sekolah sudah memberlakukan lima hari sekolah. Khusus Sabtu hanya diisi ekstrakurikuler bagi anak didik yang mau.

Ternyata sekolah swasta bisa menerapkannya dengan baik. Banyak orangtua yang ingin memasukkan anaknya. Tidak ada keberatan, meski harus membayar biaya sekolah yang lebih besar. Anak didik juga menikmati jam sekolah yang lebih panjang. Sebab pihak sekolah memang sengaja mendesain ruang kelas, tempat bermain sedemikian rupa. Bahkan sistem pembelajarannya juga dimodifikasi. Anak-anak tidak melulu dipaksa menerima pelajaran, mulai pagi hingga sore hari, tapi diimbangi dengan metode yang lebih menarik. Sehingga peserta didik tidak merasa bosan, tetap nyaman hingga sore hari.

Timbulnya pro dan kontra terhadap kebijakan Kemendikbud yang akan diterapkan mulai ajaran baru 2017-2018, lebih pada keraguan masyarakat terhadap kemampuan sekolah menyediakan tempat yang nyaman bagi anak didik. Keraguan pada kesiapan sekolah memodifikasi metode pembelajaran agar lebih disenangi. Sehingga tidak membuat anak didik jenuh dengan pelajaran.

Ketersediaan ruang kelas yang cukup juga harus menjadi pertimbangan. Sebab tidak dipungkiri, saat ini sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang menjadi target program ini, khususnya yang negeri malah kekurangan ruang belajar. Banyak sekolah yang terpaksa membagi waktu masuk anak didiknya, karena ruangan tidak mencukupi. Sekolah yang seperti ini tentu tidak bisa menjalankan full day school dengan baik.

Sebelum diterapkan, pemerintah melalui Kemendikbud harus memilah sekolah yang benar-benar siap menjalankannya. Bukan hanya dari segi fasilitas sekolah, tapi tenaga pengajar juga harus dipersiapkan. Harus ada perubahan metode belajar mengajar. Peserta didik tidak boleh lagi dipaksa terus-menerus menerima materi pelajaran yang akhirnya menimbulkan rasa bosan.

Kemendikbud juga dituntut menjawab keraguan pengelola Taman Pendidikan Alquran (TPQ) dan madrasah diniyah. Pemerintah harus meyakinkan, bahwa kebijakan ini tidak menggerus atau memaksa TPQ dan Madrasah Diniyah tutup. Sebab dua lembaga ini telah banyak berjasa membentuk karakter generasi penerus. Jumlahnya juga tidak sedikit, 123.271 unit TPQ dan 73.834 madrasah diniyah yang tersebar di seluruh tanah air. Keberadaan lembaga TPQ dan diniyah cukup penting. Khususnya untuk mengajarkan muatan-muatan agama. Sebab di sekolah umum materi pelajarannya sangat sedikit. Hanya dua sampai tiga tatap muka sepekan.

Sebab itu, sebelum menerapkan full day school Kemendikdub diharapkan mengkaji secara menyeluruh. Bukan hanya segi keunggulan, tapi kekurangannya juga harus dipertimbangkan. Jangan sampai kebijakan untuk menguatkan karakter anak bangsa, justru mengurangi nilai-nilai keagamaan yang didapatkan anak-anak didik.***