Menyelamatkan Generasi Muda dari Bahaya Narkoba

RajaBackLink.com

Oleh: Sadely Ilyas Rahman*
Pensiunan Guru SMA Tanjungpandan

PENYALAHGUNAAN obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda dewasa ini kian meningkat, seiring dengan maraknya berbagai penyimpangan sosial. Akibatnya, cita-cita generasi harapan bangsa yang tangguh dan cerdas dan unggul hanya akan tinggal kenangan. Sudah berapa banyak korban yang terbunuh akibat obat-obat terlarang ini. Sasarannya adalah kaum muda. Kalau dirata-ratakan, usia sasaran narkoba ini adalah usia pemuda, yaitu berkisar umur 11 – 24 tahun. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bahaya narkoba sewaktu-waktu dapat mengincar anak didik kita kapan saja.

Seperti dimaklumi, dampak negatif dari penyalahgunaan narkoba tidak hanya mengancam kelangsungan hidup dan masa depan penyalahgunanya saja, namun juga masa depan bangsa dan negara, tanpa membedakan strata sosial, ekonomi, usia serta tingkat pendidikan. Penyalahgunaan barang haram ini, tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja, namun juga remaja pelajar dan anak-anak. Hal ini menjadi kekhawatiran pemerintah dalam hal ini Badan Narkoba Nasional (BNN) Daerah serta para orang tua ketika anak-anak mereka berbaur dan bergaul dengan lingkungan sosial pecandu narkoba, atas kekhawatiran mereka juga terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dan obat-obat adiktif tersebut.

Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat-obatan terlarang. Sementara nafza merupakan singkatan dari narkotika, alkohol, dan zat adiktif lainnya. Obat-obat terlarang ini dapat mengakibatkan seseorang memiliki ketergantungan yang tinggi, dan beresiko pada kematian. Kedua istilah tersebut sering digunakan untuk istilah yang sama, meskipun istilah nafza lebih luas lingkupnya. Narkotika berasal dari tiga jenis tanaman, yaitu candu, ganja, dan kokain. Ketergantungan obat dapat diartikan sebagai keadaan yang mendorong seseorang untuk mengonsumsi obat-obat terlarang secara berulang-ulang atau berkesinambungan. Apabila tidak melakukannya dia merasa ketagihan yang diistilahkan dengan sebutan ‘sakau’ yang berakibat pada perasaan tidak nyaman bahkan perasaan sakit yang sangat pada tubuh.

Baca Juga:  Demagog dan Narsisme Politik

Jika ditelusuri, penyalahgunaan narkoba disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain

1) Kurangnya pengendalian diri. Seseorang yang mencoba-coba menggunakan narkoba biasanya memiliki sedikit pengetahuan tentang barang haram ini, bahaya yang ditimbulkan, serta aturan hukum yang melarang penyalahgunaannya. Namun karena tidak memiliki pengendalian diri yang matang, maka jebollah pertahanannya;

2) Konflik individu atau emosi yang belum stabil. Anggapan yang keliru, bahwa individu yang tidak biasa dalam menghadapi penyelesaian masalah cenderung menggunakan narkoba. Dengan menggunakan narkoba maka konflik batin dan masalah akan dapat diurangi;

3) Terbiasa hidup senang dan mewah. Orang yang terbiasa hidup mewah kerap berupaya menghindari permasalahan yang lebih rumit. Biasanya mereka lebih menyukai penyelesaian masalah secara instan, praktis, atau membutuhkan waktu yang singkat sehingga akan memilih cara-cara yang simple yang dapat memberikan kesenangan melalui penyalahgunaan narkoba yang dapat memberikan rasa euphoria secara berlebihan;

4) Lingkungan sosial. Berteman dengan seorang pecandu, apabila tidak ada pertahanan, mungkin juga akan menjadi pecandu;

5) Motif ingin tahu. Di masa remaja seseoraang lazim mempunyai rasa ingin lalu setelah itu ingin mencobanya. misalnya dengan mengenal narkotika, psykotropika maupun minuman keras atau bahan berbahaya lainnya;

6) Kurang perhatian dan kasih sayang orang tua. Faktor kesibukan orang tua dengan kegiatannya masing-masing, mungkin juga karena kurangnya rasa kasih sayang keluarga ataupun karena akibat dari ‘broken home’ orang tua.
Menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba, berarti kita sedang menyelamatkan bangsa. Agar kita dapat bertindak preventif (melakukan pencegahan), maka jalan keluarnya bisa dilakukan melalui dua cara, yaitu mensterilkan narkotika/narkoba di lingkungan sekolah, dan melakukan pembinaan di luar sekolah. Mensterilkan narkoba di lingkungan sekolah dapat dilakukan dengan cara:

Baca Juga:  Pentingnya Kecakapan Literasi di Abad Ke-21

1) Mengidentifikasi jenis kerawanan sekolah, seperti: kebiasaan siswa merokok, mengenali pihak-pihak yang berada di luar sekolah pada saat jam belajar, atau kelompok-kelompok siswa yang sering terlibat kejahatan, perkelahian, pemerasan, dan mengambil barang milik sekolah.

2) Mengidentifikasi faktor kerawanan sekolah, seperti: stress pada siswa, perilaku menyimpang siswa dan lingkungan keluarga.

3) Mengidentifikasikan akibat-akibat negatif dari penyimpangan perilaku siswa, seperti: perusakan fasilitas sekolah, merusak tubuhnya sendiri, boros, sikap-mental apatis.

4) Meningkatkan tugas profesional guru melalui mengajar dan mendidik.

5) Melatih pembinaan terhadap siswa agar mampu mengendalikan diri.

6) Memberikan informasi dan melakukan komunikasi dialogis tentang bahaya narkoba dan sejenisnya terhadap anak didik melalui bimbingan dan penyuluhan.

Sementara melakukan pembinaan di luar lingkungan sekolah yaitu dengan memperbanyak ragam kegiatan ekstra kurikuler. Tidak kalah penting adalah pemberdayaan remaja dan pemuda melalui pendidikan nonformal yang dikembangkan oleh Sanggar Kegiatan Belajar dengan pengadaan kursus-kursus dan pelatihan keterampilan; membentuk organisasi olah raga dan seni; melakukan sosialisasi bahaya narkoba melalui penyuluhan yang dikoordinasi oleh generasi muda pelajar. Atau melalui sinergi dan kerja sama antara sekolah dan masyarakat melakukan aksi sosial “gerakan anti narkoba”, seperti yang diikrarkan oleh ratusan pelajar SMA di Kabupaten Belitung baru-baru ini (Belitong Ekspres, 4/2/2019).

Brigjen. Pol. Drs. Nanang Hadianto, selaku Kepala BNN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang menyaksikan deklarasi tersebut memberikan apresiasi kepada para pelajar yang menyatakan ‘perang terhadap narkoba’. Hal ini, semoga menjadi bukti bahwa para remaja dan pelajar kita masih tanggap terhadap permasalahan bangsa yang sedang dirundung bencana demoralisasi di kalangan generasi muda yang akan menjadi penerus kepemimpinan bangsa di masa depan . Wallahu ‘Alam (*)

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply