MENYIKAPI KURIKULUM 2013 YANG DISEMPURNAKAN

by -

Oleh : Drs. Hamrin, M.M.Pd

Setelah sempat gusar para guru terkait isu tentang Kurikulum 2013, apakah masih berlaku atau tidak, ternyata keputusannya tetap dilanjutkan dengan adanya penyempurnaan berdasarkan hasil evaluasi dari sekolah yang menjadi pilot project sementara masih ada sekolah yang memakai kurikulum 2006. Pada tahun pelajaran 2016/2017 akan ditambah lagi sekolah sasaran yang menjadi pilot project Kurikulum 2013 dengan syarat utama sekolah tersebut terakreditasi A atau B apabila diwilayah tersebut belum ada sekolah terakreditasi A. Hal ini dimaksudkan untuk kesiapan sekolah itu sendiri setelah dipetakan dengan 8 butir Standar Nasional Pendidikan, sehingga dapat mengikuti arah pengembangan kurikulum 2013 lebih lanjut.

Penulis barusan saja mendapat penyegaran materi Kurikulum 2013 yang disempurnakan melalui kegiatan Pelatihan Instruktur Kabupaten/Kota Kurikulum 2013 jenjang SMK Tahun 2016 dengan pola 52 jam, dari tanggal 23 Mei s.d. 27 Mei 2016 diselenggarakan oleh LPMP Kepulauan Babel. Terdapat materi penguatan yang sebelumnya sudah ada dari pendidikan karakter menjadi Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti dan Penerapan Literasi dalam Pembelajaran selebihnya merupakan penyempurnaan dari materi sebelumnya hasil dari kajian lapangan sekolah pilot project dua tahun sebelumnya. Permendikbud No. 23 Tahun 2015 adalah Legalitas Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti di Sekolah dengan tujuan menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan bagi siswa, guru, dan tenaga kependidikan, menumbuh kembangkan kebiasaan yang baik sebagai bentuk penumbuhan budi pekerti sejak di sekolah, keluarga dan masyarakat, menjadikan pendidikan sebagai gerakan yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan keluarga; dan/atau, menumbuhkembangkan lingkungan dan budaya belajar yang serasi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga.

Internalisasi GPB adalah nilai-nilai pembiasaan, kebiasaan, dan budaya. Alur pembudayaan itu dilakukan dengan cara diajarkan, dibiasakan, dilatih konsisten menjadi kebiasaan, menjadi karakter, dan menjadi budaya. Agar suksesnya GBP ini diperlukan 7 elemen ekosistem pendidikan yaitu : 1. Sekolah yang kondusif, 2. Guru sebagai penyemangat, 3. Orang tua yang terlibat aktif, 4. Masyarakat yang sangat peduli, 5. Industri yang berperan penting, 6. Organisasi profesi yang berperan besar, 7. Pemerintah yang berperan optimal.

Tidak kalah pentingnya adalah Penerapan Literasi dalam Pembelajaran yang dijadikan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Tujuan GLS
menumbuh  kembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Terdapat 3 tahapan pelaksanaan GLS yaitu : 1. Pembiasaan, penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca, 2. Pengembangan, meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan, 3. Pembelajaran, meningkatkan kemampuan literasi semua mata pelajaran menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran.

Perubahan mendasar Kurikulum 2013 yang disempurnakan adalah pada pembelajaran bahwa pendekatan saintifik bukan satu-satunya pendekatan pembelajaran. Mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan  bukanlah sekedar urutan baku langkah-langkah pembelajaran. Akan tetapi merupakan pengalaman belajar dan sekaligus sebagai kompetensi yang harus dilatihkan secara terus menerus sehingga akan menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Hal ini akan mendorong setiap peserta didik untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat dan bersikap ilmiah dalam kehidupan. Guru diberikan keleluasaan dalam mengembangkan pengalaman belajar atau pendekatan-pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, kompetensi, materi pelajaran, dan kondisi daerah. Pembelajaran dikembangkan dan diimplementasikan berdasarkan karakteristik mata pelajaran dan karakteristik kompetensi dasar (KD mata pelajaran). KD akan dicapai melalui pemberian pengalaman belajar yang bervariasi sesuai dengan konteks dan keunggulan lokal, kebutuhan peserta didik, berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills) sesuai dengan tuntutan kebutuhan kompetensi abad ke-21.

Model-model pembelajaran beserta sintaknya (seperti discovery learning, problem based learning, project based learning) tetap dapat digunakan sesuai dengan karakteristik kompetensi dasar, materi pelajaran yang akan dicapai oleh peserta didik. Guru diberikan ruang yang seluas-luasnya untuk menerapkan berbagai model-model lain seperti: Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning), Pembelajaran Tematik Terpadu. Dengan kata lain, guru tidak disibukkan dengan penamaan pendekatan dan model pembelajaran yang digunakan, akan tetapi lebih menekankan pada variasi pengalaman- pengalaman belajar yang akan dilakukan oleh peserta didik.

Perubahan selanjutnya adalah pada penilaian bahwa KI-1 dan KI-2 tidak dijabarkan ke dalam KD, kecuali mata pelajaran Agama dan Budi Pekerta dan PPKn. Oleh karena itu, guru mata pelajaran selain Agama dan Budi Pekerta dan PPKn tidak memberikan penilaian sikap yang dikaitkan dengan KD-KD mata pelajaran. Guru mata pelajaran tersebut hanya memberikan penilaian umum tentang sikap sebagai masukan untuk pelaporan nilai sikap yang akan dirumuskan oleh guru kelas/wali kelas.

Penilaian kompetensi pengetahuan dan keterampilan dilaksanakan melalui berbagai cara sesuai dengan karakteristik KD yang dijabarkan dalam indikator.  Teknik penilaian pengetahuan dapat dilaksanakan dengan salah satu cara dari berbagai cara (tes tulis, tes lisan dan penugasan). Ini bukan berarti bahwa setiap KD pengetahuan harus dinilai melalui tiga cara tersebut. Akan tetapi, guru dapat memilih cara yang paling sesuai dengan karakteristik KD dan indikatornya. Demikian juga dengan penilaian kompetensi keterampilan juga dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu dari berbagai cara, misalnya menggunakan praktik/kinerja, proyek, porto folio, atau penugasan). Ini juga bukan berarti bahwa satu KD keterampilan harus dinilai dengan keseluruhan cara tersebut.

Perbaikan juga dilakukan terhadap skala penilaian. Skala penilaian yang semula menggunakan skala 1 – 4 diubah menjadi menjadi 0 – 100, sesuai yang diatur pada Permendikbud No. 53 Tahun 2015 tentang Penilaiah Hasil Belajar oleh Pendidik. Dalam Permendikbud tersebut juga diatur tentang Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh satuan pendidikan, yang dalam peraturan sebelumnya KKM tersebut ditetapkan secara nasional.

Selanjutnya perbaikan Kurikulum 2013 juga berdampak pada perbaikan buku teks pelajaran. Perbaikan buku teks pelajaran meliputi : 1. menyelaraskan Isi buku terhadap perubahan KI-KD dan Pembelajaran, 2. memastikan kembali tidak ada materi dan ilustrasi yang kontroversi (kekerasan, SARA, etika, dan kesusilaan), 3. memastikan kredensial penulis, penelaah, penilai, dan pereviu secara terbuka dan dapat dihubungi oleh pengguna/pembaca, 4. mengembangkan pembelajaran yang menumbuhkan toleransi, hidup bersama secara harmonis dan damai (to life together in peace), 5. penataan kembali buku Tematik Terpadu di SD agar selaras antara KD-KD dengan pembelajaran antar mata pelajaran yang  terikat dalam satu tema, 6. langkah-langkah pendekatan saintifik tidak perlu dituliskan dalam buku.

Pertanyaannya bagaimana kita menyikapi  terhaperbaikan dan penyempurnaan kurikulum 2013 ?. Sebagai guru hendaknya menerima perubahan dengan pikiran positif bahwa perubahaan merupakan hasil kajian sebelumnya. Dengan mau dan mampu perubahan ke arah yang lebih baik akan terjadi, sehingga diperoleh output sesuai standar nasional pendidikan. Oleh karena itu guru terlebih dahulu menyusun analisis konteks untuk mempermudah perencanaan pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Penulis sering menemukan guru merencanakan pembelajaran bersamaan dengan proses pembelajaran berlangsung, artinya proses pembelajaran tidak sesuai dengan skenario pembelajaran yang sudah tercantum dalam RPP. Hal ini disebabkan guru tidak melakukan analisis konteks pembelajaran dan penilaian. Oleh karena itu diperlukan dokumen analisis konteks yang terdiri dari : 1. Analisis dokumen SKL, KD, Silabus, 2. Analisis Materi  dalam Buku Teks Pelajaran, 3. Analisis Penerapan Model Pembelajaran, 4. Analisis Penilaian Hasil Belajar. Agar memperoleh hasil yang maksimal penulis menyarakan sekolah mengadakan In House Training Analisis Konteks sebelum proses pembelajaran dimulai setiap semesternya.

Sebagai kepala sekolah harus mempunyai komitmen yang tinggi terus mengawal keterlaksanaan kurikulum 2013 yang disempurnakan dengan lebih mengintensifkan supervisi akademik kepada semua guru, sehingga dapat dilihat kemajuan baik dari hasil proses pembelajaran dan penilaian sebagai indikator kunci guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Kepemimpinan Pembelajaran kepala sekolah perlu diperkuat lagi, sehingga guru merasa diperhatikan melalui pembinaan berkesinambungan oleh kepala sekolah dan diwujudkan dalam bentuk kinerja guru setiap semesternya yang dapat diakumulatif dalam sebuah Raport Guru.

Sebagai pengawas sekolah harus terus mengawal keterlaksanaan kurikulum 2013 yang disempurnakan secara berkelanjutan baik dari guru maupun kepala sekolah dengan supervisi akademik dan supervisi manajerial, sehingga diperoleh output dan outcome untuk pemetaan mutu pendidikan per sekolah dan kabupaten secara objektif.  Melalui tangan pengawas sekolah akhir dari profil sekolah dapat diketahui sebagai penjaminan mutu sekolah yang dapat dipertanggung jawabkan kedepan publik terhadap kinerja sekolah yang diakumulatif dalam sebuah Raport Sekolah dapat dipergunakan untuk kebutuhan audit internal dan audit eksternal. Akhirnya penulis menyarankan untuk percepatan keterlaksanaan Kurikulum 2013 Yang Disempurnakan perlu dibentuk Tim Penjaminan Mutu di tingkat Sekolah dan di tingkat Kabupaten/Kota yang dibawah koordinasi Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) sebagai jembatan u ntuk koordinasi di tingkat yang lebih tinggi lagi (Provinsi dan Pusat). Barangkali kita sepakat dengan kata bijak mengatakan kita harus berubah atau tidak sama sekali. Perubahan itu dicari bukan menunggu.

  • Pengawas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Belitung