Merevitalisasi Pendidikan Keluarga

by -

Oleh : Nurlina, S.Ag*
(Guru SMA Negeri 1 Gantung Belitung Timur)

nurlina

Keluarga merupakan benih akal penyusunan kematangan individu dan struktur kepribadian, dengan demikian keluarga adalah elemen pendidikan lain yang paling nyata, tepat, aman dan amat besar”

Sebagaimana telah sama-sama kita ketahui bahwa keluarga merupakan salah satu pusat pendidikan yang sangat mendasar dari trilogi pusat pendidikan (sekolah, masyarakat dan keluarga). Untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan oleh sebuah komunitas atau masyarakat perlu adanya hubungan yang sinergis antara ketiga lembaga pendidikan tersebut.

Ada banyak indikasi bahwa keluarga, lingkungan dan sekolah tidak bersinergi sedemikian rupa sehingga hasil pendidikan tidak memuaskan. Apa yang diajarkan di sekolah tidak dapat mendapat menguatan di dalam keluarganya, sebaliknya hal positif yang sudah ditanamkan dalam keluarga, kurang pula dikembangkan di sekolah, atau hal-hal positif yang sudah terbangun dalam keluarga dan di sekolah di rusak oleh lingkungan. Oleh sebab itu revitalisasi dan penguatan lembaga keluarga sebagai arena pendidikan utama bagi anak-anak menjadi sangat penting dan mendesak.

Revitalisasi adalah suatu upaya untuk membangkitkan dan menghidupkan kembali fungsi keluarga sebagai upaya untuk menanamkan pendidikan karakter pada anak, fungsi keluarga sebagai institusi pendidikan yang paling asasi. Keluarga harus menjadi motor utama dalam membentuk generasi ideal. Keluarga adalah salah satu elemen pokok dalam pendidikan, menciptakan proses naturalisasi sosial, membentuk kepribadian serta memberi berbagai kebiasaan baik pada anak-anak yang akan terus bertahan lama. Keluarga memiliki dampak yang besar dalam pembentukan prilaku individu serta pembentukan vitalitas dan ketenangan dalam benak anak-anak karena melalui keluarga anak-anak mendapatkan bahasa serta kecenderungan mereka. Keluarga merupakan lembaga yang paling strategis dalam meletakkan nilai-nilai fundamental sebagai dasar berpijak anak sekaligus menjadi titik awal baginya untuk melangkah.

Keluarga salah satu pusat pendidikan dan pilar kehidupan bermasyarakat sangat penting untuk diselamatkan, bahkan harus dikembangkan kearah keadaan dan aksi sosial yang sesuai dengan tuntutan dan kondisi zaman juga terhadap keandalannya. Secara konvensional keluarga merupakan lembaga pendidikan yang paling amanah karena prosesnya tanpa di dramatisasi atau di desain secara rumit sebagaimana terjadi pada lembaga pendidikan profesional.Materinyameliputi seluruh bidang kehidupan, metodenya sebagaimana keadaan yang sesungguhnya, dan evaluasinya dilakukan secara langsung.

Dalam keluarga juga tidak mungkin terdapat komersialisasi jasa pendidikan. Para orang tua memberikan pendidikan dan fasilitas pendidikan tentulah tidak mengharapkan imbalan materi, selain di dorong kewajiban moral. Suasana demikianlah yang tidak dimiliki lembaga profesional semacam sekolah atau kursus. Secara alamiah pada keluargalah kepribadian dan kultur manusia di bentuk.

Masalah nyata yang kini tengah kita hadapi ialah belum semua orang tua dan warga senior masyarakat memahami dan mampu melaksanakan peran dan fungsinya sebagai pendidik di lingkungannya sendiri. Orang tua atau yang dituakan memang harus memahami fungsi dan peran pendidikan keluarga dalam kerangka Sistem Pendidikan Nasional.

Revitalisasi peran dan fungsi keluarga dalam pendidikan dapat dilakukan dengan menerapkan konsep “ThePower of Family”, yaitu dengan memperkuat kembali peran keluarga sebagai benteng pertama dan utama dalam pendidikan karakter.

Konsep “the power of family”, dapat dilakukan dengan cara antara lain;

a)Memahami hakikat fungsi dan tugas orang tua.

b)Mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah, yang memungkinkan anak betah tinggal di rumah dan akrab dengan keluarga.

Lantas, c) Bersikap akrab baik secara fisik maupun batin dengan anak.

d) Melakukan pengawasan yang efektif terhadap anak, terutama ketika berada di luar rumah. Yang selanjutnya,

e) Membudayakan dan mempraktikkan ajaran agama dan

f) Bersikap adil, bijaksana, demokratis, tegas, dan satu kata perbuatan.

Lembaga keluarga secara umum merupakan sesuatu yang universal. Islam dalam hal ini telah mengatur sedemikian lengkap sehingga keluarga menjadi tiang masyarakat yang kokoh. Dengan bimbingan pembinaan keluarga secara islami, maka keluarga memungkinkan untuk menjalankan segala fungsinya secara baik. Keluargalah yang pertama-tama dapat menerapkan prinsip-prinsip pendidikan untuk membangun karakter anggota keluarganya.

Prinsip-prinsip itu terdiri dari; integrasi, keseimbangan, persamaan dan kebebasan, pendidikan seumur hidup, dan keutamaan.

Prinsip integrasi menuntut suatu pandangan yang utuh, baik terhadap anak sebagai subjek didik dan kehidupan maupun terhadap entitas pendidikan. Keluargalah yang pertama-tama yang dapat mengamati perkembangan fisik dan psikologi anak, aspek jasmani dan rohani secara utuh serta memberikan pengalaman yang mendukung perkembangan secara utuh pula.

Prinsip keseimbangan dalam pengembangan anak dan terapan pendiidikan sehingga subjek didik dapat berkembang secara seimbang tanpa ada suatu degradasi atau kealpaan pengembangan salah satu dimensi dirinya. Karena itu keluarga tidak cukup memperhatikan aspek jasmani saja dengan menjaga kesehatannya, tapi tidak kalah penting aspek psikologis dan rohaninya.

Prinsip persamaan mencerminkan ajaran mengenai hakikat manusia yang berasal usul sama sehingga dalam pendidikan keluarga tidak ada diskriminasi apapun kecuali yang menyangkut bawaan jenis kelamin dalam batas-batas perbedaan formalitas.

Prinsip pendidikan seumur hidup telah diterapkan pada umat Islam sepanjang sejarah yang penerapannya tidak mengenal batas umur. Keluarga adalah fase awal dalam siklus pendidikan manusia yang sangat menentukan dan berlanjut selama hidup. Manusia pada hakikatnya makhluk yang belajar seumur hidupnya dan keluarga adalah wadah yang mencerminkan hal itu.

Prinsip keutamaan merupakan karakter yang membentuk sifat kondisi hubungan-hubungan yang terjalin dalam proses pendidikan. Hal ini mengisyaratkan bahwa pendidikan dan dinamika yang terjadi dalam prosesnya harus dilaksanakan atas dasar kesucian dan keikhlasan. Dalam keluarga, prinsip ini sangat menentukan perkembangan karakter anak selanjutnya.

Pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak harus dibangkitkan kembali terutama dalam mengawal proses tumbuh kembang anak dan pendidikannya.sejumlah upaya dilakukan keluarga untuk mendukung pendidikan anak. Salah satunya dengan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif di rumah. Peran aktif keluarga perlu di dukung oleh komunikasi yang baik antara pihak sekolah dan orang tua siswa. Adanya interaksi antara orang tua dan pihak sekolah menjadi kunci berlangsungnya proses pendidikan anak yang efektif, baik di sekolah maupun di rumah. Oleh karena itu, keluarga adalah agen untuk menciptakan kondisi yang ramah bagi penanaman nila-nilai moral, kebiasaan dan perilaku anak dalam kehidupan pribadi maupun sosial masyarakat. Anak harus diposisikan sebagai subjek utama pendidikan dalam keluarga.

Kegiatan pembelajaran dalam keluarga harus di mulai dari apa yang telah diketahui anak. Di sini orang tua berperan sebagai fasilitator dalam proses penanaman nilai-nilai moral kemanusiaan melalui interaksi dengan anak dalam kehidupan sehari-hari. Peran orang tua hanya sebagai perancang dan pengelola, sehingga tidak boleh melakukan indoktrinisasi terhadap anak. Sebagai fasilitator, orang tua dalam keluarga harus memiliki pribadi yang berkarakter dan mampu memberikan keteladanan.

Di sinilah orang tua berperan sebagai teladan dalam memberikan contoh yang baik bagi anak. Keteladanan harus dipelihara dengan menjaga komitmennya untuk selalu bersikap dan berperilaku serta mewujudkan nilai-nilai moral dalam kehidupan keluarga.(**)