Merevolusi Mental Guru

RajaBackLink.com

Oleh: Sadely Ilyas Rahman
Pensiunan Guru SMA Tanjungpandan

MEMASUKI abad ke-21 dunia pendidikan kita menjadi heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutunya, tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangannya. Memasuki abad ke-21 ini gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain. Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain.

Inisiatif untuk merevitalisasi kinerja pendidikan sekaligus meningkatkan mutu pendidikan ini pun meniscayakan kehadiran guru-guru yang benar-benar profesional. Hal ini senada apa yang diungkapkan oleh Dr Amirullah Syarbini, MA (2015), bahwa guru merupakan ‘ujung tombak’ bagi kemajuan dan kemunduran pendidikan kita.

Kualitas sumber daya manusia, sedikit banyak ditentukan oleh kualitas pembelajaran guru, baik guru di tingkat pendidikan dasar, maupun menengah. Maka tak heran jika sistem pendidikan kita menempatkan pekerjaan guru sebagai suatu tugas profesi yang harus bekerja secara profesional. Profesionalisme seorang guru akan berdampak positif dalam perkembangan peserta didik, terlebih lagi pengaruhnya dalam dunia pendidikan. Di antaranya adalah kompetensi yang memadai, penguasaan skill dan attitude, penggunaan metodologi pembelajaran yang variatif dan inspiratif, kemampuan beradaptasi terhadap dinamika kehidupan yang terus berubah, serta menjadi ‘aktor’ terdepan yang progresif melahirkan perubahan-perubahan positif dan kemajuan peserta didik khususnya dan kemajuan pendidikan secara umum.

Aspek-aspek teladan mental guru berdampak besar terhadap iklim belajar dan pemikiran peserta didik yang diciptakan guru. Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap peserta didik akan berpengaruh kuat pada proses belajarnya. Agar guru mampu berkompetensi, maka guru harus dimiliki adalah jiwa inovatif, kreatif dan kapabel; serta dapat meninggalkan sikap konservatif, tidak bersifat defensif tetapi mampu membuat anak lebih bersifat ofensif (Sutadipura; 1994).

Baca Juga:  Menyelamatkan Generasi Muda dari Bahaya Narkoba

Penguasaan seperangkat kompetensi keterampilan proses dan  kompetensi penguasaan pengetahuan merupakan unsur yang dikolaborasikan dalam bentuk satu kesatuan yang utuh dan membentuk struktur kemampuan yang harus dimiliki seorang guru. Sebab kompetensi merupakan seperangkat kemampuan guru searah dengan kebutuhan pendidikan, tuntutan masyarakat, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kompetensi keterampilan proses adalah penguasaan terhadap kemampuan yang berkaitan dengan proses pembelajaran.

Kompetensi dimaksud meliputi kemampuan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, kemampuan dalam menganalisis, menyusun program perbaikan dan pengayaan, serta menyusun program bimbingan dan konseling. Sedangkan kompetensi penguasaan adalah penguasaan terhadap kemampuan yang berkaitan dengan keluasan dan kedalaman pengetahuan guru. Sedangkan kompetensi dimaksud meliputi pemahaman terhadap wawasan  pendidikan, pengembangan diri dan profesi, pengembangan potensi peserta didik, dan penguasaan akademik.

Keterkaitan antara guru dan kualitas pembelajaran, guru harus memiliki visi yang tepat dalam berbagai aksi inovatif. Menurut Bafadal (2003), visi tanpa aksi adalah bagaikan sebuah impian, aksi tanpa visi bagaikan perjalanan tanpa tujuan. Guru dengan visi yang tepat memiliki pandangan yang tepat tentang pembelajaran, karena

1) pembelajaran merupakan jantung dalam proses pendidikan, sehingga kualitas pendidikan terletak pada kualitas pembelajarannya, dan sama sekali bukan pada aksesoris sekolah;

2) pembelajaran tidak akan menjadi baik dengan sendirinya, melainkan melalui proses inovasi tertentu, sehingga guru dituntut melakukanberbagai pembaruan dalam hal pendekatan, metode, tehnik, strategi, langkah-langkah, media pembelajaran mengubah “status quo” agar pembelajaran menjadi lebih berkualitas;

3) pembelajaran harus dilaksanakan atas dasar pengabdian, sebagaimana pandangan bahwa pendidikan merupakan sebuah pengabdian, bukan sebagai sebuah proyek. Keberadaan visi bagi guru sangat penting dalam menapaki pekerjaan yang lebih baik.

Ketercapaian predikat guru yang profesional tidak serta merta diperoleh begitu saja, paling tidak guru harus memiliki perspektif dan cara pandang tentang tugas dan tanggung jawabnya sebagi guru yang lebih komprehensif, hal ini berarti visi guru harus mengikuti irama perkembangan dan perubahan yang terjadi. Secara sederhana ada tiga visi yang harus dimiliki guru yaitu:

Baca Juga:  Belajar Dari Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW

1) Visi jangka panjang, yang berorientasi pada tujuan akhir dalam setiap langkah yang diperbuat. Melakukan sesuatu secara optimal dan sungguh-sungguh, memiliki kendali diri dan sosial; karena memiliki kesadaran terhadap tujuan akhir dari kehidupan ini. Memiliki kepastian akan masa depan dan ketenangan batin yang tinggi yang tercipta oleh keyakinan akan adanya tujuan hidup.

2) Visi jangka menengah, yang berorientasi pada keberhasilan atas segala yang diperbuat, keinginan untuk berprestasi yang terbaik selalu menjadi cita-cita dan tujuan guru sebagai pendidik.

3) Visi jangka pendek, yang berorientasi pada setiap waktu untuk melakukan kegiatan yang terbaik demi memajukan peserta didik dan meraih keberhasilan dan prestasi yang mereka dicita-citakan.

Untuk menopang ketercapaian visi tersebut, guru harus mempunyai kompetensi yang dipersyaratkan guna melaksanakan profesinya agar tercapai hasil yang memuaskan. Paling tidak keempat kompetensi, sebagaimana yang diuraikan diatas, dipandang perlu sebagai komponen yang tidak terpisahkan dari eksistensi seorang guru dalam melaksanakan profesinya. Sebab profesi guru tidak tidak sembarangan dilaksanakan, melainkan harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai pendukung dan atau penunjang pelaksanaan profesi.

Pembentukkan dan pengembangan kompetensi guru diserahkan pada guru itu sendiri. Jika guru ingin mengembangkan diri, maka guru akan berkualitas karena guru senantiasa mencari peluang untuk meningkatkan kualitas dirinya. Oleh karena itu, kompetensi merupakan ’modal dasar’ bagi guru dalam membina dan mendidik sehingga tercapai kualitas kerja yang akan ’output’ peserta didik yang berkualitas. Menurut Prof. Dr. Anshari (2015), banyak guru yang hanya menunaikan tugas dan kewajiban, tetapi tidak memiliki kepedulian yang tinggi terhadap mutu pendidikan.” Mental guru yang hanya mengajar, tetapi tidak mendidik perlu direformasi. Revolusi mental guru merupakan harga mati bagi peningkatan mutu atau kualitas pembelajaran”, begitu ungkap guru besar Universitas Negeri Malang dalam tulisannya.

Kemampuan mengajar guru yang sesuai dengan tuntutan standar tugas yang diemban memberikan pengaruh positif bagi hasil yang ingin dicapai. Sebaliknya jika kemampuan mengajar yang dimiliki guru sangat sedikit akan berakibat bukan saja berdampak pada prestasi belajar anak didik, tetapi juga menurunkan tingkat kinerja guru itu sendiri yang berdampak kualitas pendidikan secara umum semakin menurun.

Rate this article!
Merevolusi Mental Guru,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply