MUI: Ajaran Naqsabandiyah Sah

by -

*Forkominda Gelar Rapat, Bupati Minta Semua Pihak Menahan Diri

foto B- HL Rapat Pembahasan Thoriqoh Naqsabandiyah di Kantor Bupati (1) - Copy

TANJUNGPANDAN-Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Belitung, menyatakan Thoriqoh Naqsabandiyah adalah ajaran yang sah, tidak menyimpang dari syariah Islam. Itu diungkapkan Sekertaris MUI Belitung Ramasnyah saat rapat permasalahan yang bergejolak di Desa Ibul, Kecamatan Badau.

Rapat ini dilaksanakan di Ruang Rapat Bupati Belitung, Kompleks Pemerintahan Daerah Kabupaten Belitung, Senin (18/4) kemarin. Rapat ini dihadiri Bupati Belitung Sahani Saleh, Ketua DPRD Belitung Taufik Rizani, Kapolres Belitung AKBP Candra Sukma Kumara. Selain itu juga dihadiri Dandim 0414 Belitung Letkol Arh Marthen Verny Rorintulus, Danlanud HAS Hanandjoeddin Letkol Pnb Anang Heru Setiyono, dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Belitung Faizal Madani.

Sebelumnya masyarakat Badau sempat menggelar demo tentang penolakan pembangunan Suluk (Rumah Dzikir,red) Thoriqoh Naqsabandiyah. Aspirasi penolakan itu disampaikan di Gedung DPRD Belitung, Jumat (15/4) lalu. Ratusan warga ini demo lantaran dugaan tidak adanya izin dari pemerintah daerah. Warga juga keberatan karena pengurus Thoriqoh selama ini tidak melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Puncak kemarahan warga Desa Ibul terjadi pada Kamis (14/3) lalu. Warga meminta agar tidak ada aktivitas khususnya pembangunan dilaksanakan di tempat tersebut. Beruntung Kapolsek Badau turun ke lokasi, sehingga tidak terjadi aksi anarkis.

Hasil mediasi yang dilakukan oleh Bupati Belitung beserta unsur Forkominda, Kepala Desa dan Pengasuh Thoriqoh Naqsabandiyah melahirkan berbagai keputusan, yakni untuk sementara pemerintah meminta agar pihak thoriqoh ini melakukan cooling down (menahan diri,Red) dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar.

Selain itu, dalam waktu dekat ini Pemda Kabupaten Belitung beserta instansi terkait akan membuat tim untuk menyelesaikan masalah ini agar tidak berlarut-larut. “Kita akan buat tim untuk menyesaikan masalah ini, sehingga warga Ibul bisa hidup tenang dan menjalankan kehidupan masing-masing,” ujar Bupati Belitung Sahani Saleh.

Sementara itu, Pengasuh Thoriqoh Naqsabandiyah Irfan mengatakan, dirinya hanya ingin menjalankan ibadah dengan tenang. Dia tidak pernah memaksa masyarakat untuk masuk ke ajarannya.

Irfan menegaskan, dia tidak pernah mengeluarkan kata-kata, bahwa umat Islam yang tidak mengikuti Thoriqoh maka tidak sah agamanya. “Demi Allah saya tidak pernah menggeluarkan kata-kata itu (hanya isu,Red),” kata Irfan di hadapan unsur Forkominda.

Dijelaskan Irfan, Thoriqoh ini tidak ada perbedaan apapun, khususnya sholat, wudhu dan ajaran lain seperti Al Qur’an dan Hadist. “Kita sholat, juga lima waktu, cara wudhu juga sama. Namun, kita hanya melakukan dzikir yang berbeda,”pungkasnya.

Kapolres Belitung AKBP Candra Sukma Kumara meminta kepada pihak Jamaah Thoriqoh Naqsabandiyah agar membaur dengan masyarakat, dan tidak mengekseklusifkan diri. “Selain itu, guru besar (syeh) dari Thoriqoh Naqsabandiyah juga harus melakukan sosialisasi tentang ajaran yang diajarkan,” kata Kapolres Belitung.

Selain itu, Kapolres Belitung juga menghimbau kepada masyarakat khususnya warga Desa Ibul agar tidak berbuat anakri, sehingga mengakibatkan proses hukum. “Masyarakat saya minta tidak melakukan hal-hal yang negatif, semua bisa dimusyawarahkan,” pungkasnya.(kin)