MUI Belitung Bisa Keluarkan Rekomendasi Halal

by -3 views

*Untuk Rumah Makan dan Restoran, Hanya Saja Berlaku untuk Enam Bulan

TANJUNGPANDAN-Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Belitung bertindak cepat mengantisipasi menjamurnya restoran dan rumah makan di Belitung. Sebab, di Belitung seniri faktanya memang belum ada wadah untuk mendapatkan sertifikat halal untuk produk makanan.

Sekretaris MUI Kabupaten Belitung Drs. H Ramansyah MSi mengatakan, kehadiran rumah makan yang menyediakan makanan dan minuman, termasuk air isi ulang itu dinilai belum memenuhi standar halal menurut syariat Islam.

“Alhamdulilah MUI merespon keinginan masyarakat. Baik KUMKM (Koperasai Usaha Mikor Kecil dan Memengah) maupun konsumen. Bagaimana agar rumah makan, di samping sehat juga halal menurut pandangan Islam,” kata Ramansyah usai pembukaan kegiatan pelatihan auditor halal MUI Kabupaten Belitung, di Grand Orion, Sabtu (19/9) kemarin.

Dalam kegiatan ini, MUI menghadirkan dua narasumber. Yaitu Wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetik MUI Pusat Ir Hj Osmena Gunawan dan Aang Akhyarudin serta Iswarin dari LP POM Kota Batam.

Dikatakan, ada isu soal akses untuk mendapatkan sertifikat halal itu rumit dan butuh biaya. Tak jarang pemilik restoran dan rumah makan enggan mengurusnya. Apalagi mereka adalah usaha kecil menegah. Tapi, sekarang LP POM Babel sudah terbentuk, dan Belitung lebih dulu merespon.

“Berhubung akses mengurus ke pusat sulit, maka MUI mengambil kebijakan mengeluarkan rekomendasi halal yang bersifat sementara berlaku enam bulan dengan catatan mereka wajib mengurus sampai selesai,” kata Ramansyah.

Ramansyah mengatakan, uniknya ketika mereka diberikan rekomendasi halal, warung mereka lebih banyak konsumennya. Sejauh ini sudah ada beberapa rumah makan dan restoran di Belitung yang diberikan rekomendasi dari MUI Kabupaten Belitung. “Jadi yang selama ini diurus Perindakop ke Palembang yang harus mengeluarkan cost lebih mahal, sekarang bisa di daerah,” tukasnya.

Bagi mereka yang ingin mengurus, MUI terbuka. Syaratnya pertama mereka punya tempat yang tidak diragukan kesehatannya, strategis, juga punya pekerja seorang muslim, olahan makanan diharapkan juga yang sehat dan halal. Juga alat yang digunakan juga sehat dan tak terkontaminasi hal-hal yang bisa membuat tidak halal.(ade)