Muzakki Sedikit, Sulit Penuhi Target

by -

//Potensi Zakat PNS Beltim Capai Rp 4 M Per Tahun

MANGGAR – Target Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Belitung Timur (Beltim) untuk memperoleh penerimaan zakat Rp2 miliar per tahun sepertinya tak akan tercapai. Hal ini mengingat hingga November 2017 jumlah para pembayar zakat/muzakki hanya mencapai 169 orang.
Sekretaris Baznas Kabupaten Beltim, Hidayat mengungkapkan setiap bulan hanya mampu mengumpulkan kurang lebih Rp 30 juta. Itu pun mayoritas yang membayar hanya dari kalangan pegawai pemerintah.

“Rata-rata paling sebulan hanya Rp30 juta. Paling kalau bulan Ramdahan akan meningkat karena banyak yang bayar zakat fitrah,” ungkap Dayat saat Pembukaan Kegiatan Sosialisasi Kewajiban Berzakat di Auditorium Zahari MZ, Rabu (20/12) kemarin.

Kondisi ini sangat ironis mengingat mayoritas penduduk Kabupaten Beltim mayoritas muslim dan hukumnya wajib membayar zakat, baik Mal dan Fitrah. Ditambah lagi, Kabupaten Beltim satu-satunya Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung (Babel) yang sudah mempunyai Peraturan Daerah Tentang Pengelolaan Zakat.

“Banyak yang merasa bayar zakat itu hanya saat zakat fitrah. Padahal zakat mal atau profesi juga hukumnya wajib. Jumlah ini jauh dari yang kita targetkan,” kata Dayat.

Mantan Sekretaris Badan Kepegawaian Daerah itu mengatakan di kalangan pegawai Pemkab Beltim, hanya sekitar 151 orang yang rutin membayarkan zakatnya. Jumlah itu 5,5 persen dari jumlah ASN di Kabupaten Beltim yang mencapai 2.731 orang.

“Hanya dinas-dinas tertentu yang mau langsung membayarkan ke kami. Kebanyakan bilang sudah langsung ngasih ke fakir miskin atau anak yatim, padahal itu bukan zakat tapi sedekah,” jelasnya.
Baznas Kabupaten Beltim sudah sering melakukan sosialisasi ke tiap dinas bahkan kecamatan. Namun hal itu tak berpengaruh banyak ke jumlah pembayar zakat.

“Kalau sosialisasi sudah sering kita. Sekarang memang semuanya kembali ke pribadi masing-masing, kita hanya sekedar mengingatkan kewajiban sesama muslim,” tukas Dayat.

Terkait kondisi ini, Sekretaris Daerah, Ikhwan Fahrozi menekankan kepala OPD wajib menegaskan kepada bawahannya, khususnya ASN, agar dapat langsung membayarkan zakat profesi setiap bulannya ke Baznas.

“Kita kan sudah berdiri Baznas, mereka inilah badan resmi pemerintah yang dapat mengatur kemana akan menyalurkan atau mengelola zakat. Harus ada penegasan dari atasan,” kata Ikhwan.
Selama ini, menurutnya atasan terkesan hanya memberikan himbauan tertulis. Padahal pengkoordiniran pembayaran zakat di tiap OPD sangat penting dilakukan.

“Zakat ini kan dapat kita gunakan untuk hal-hal positif, membangun mesjid, membantu orang kurang mampu, sangat baik untuk mensucikan harta kita. Potensi zakat kita sebenarnya sangat besar jika kita dapat mengelolanya dengan baik,” ucap Ikhwan.

Senada, Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Budiman mengatakan kebijakan atasan sangat penting untuk mengingatkan bawahan agar dapat membayarkan zakatnya.

“Kalau kita hanya bawahan ngingatinnya agak sulit. Harus atasan yang buat kebijakan di tiap OPD, agar kita bisa nerapkan ke pegawai,” ujar Budiman.

Baznas Kabupaten Beltim melaporkan total pemasukan zakat dari Januari hingga November 2017 mencapai Rp 357.226.537. Dengan total penyaluran zakat mencapai Rp 413.226.000. Ditambah saldo periode tahun 2016, Rp 370.124.611 total saldo Baznas saat ini mencapai Rp 314.125.148.

 

Potensi Zakat PNS Beltim
Capai Rp 4 M Per Tahun

Sementara itu, Potensi zakat yang terkumpul dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kabupaten Beltim mencapai Rp4 miliar per tahun. Potensi itu merupakan hasil pengalian jumlah PNS Beltim sebanyak 2.800 orang dengan hitungan zakat Rp1,8 juta per tahun/orang.

Perhitungan matematis itu disampaikan Wakil Ketua I Baznas Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Bidang Pengumpulan, Ali Amran ketika menjadi narasumber sosialisasi kewajiban berzakat, di Auditorium Zahari MZ, kemarin.

“Dengan jumlah PNS 2.800 dengan pendapatan rata-rata saja gaji Rp3 juta, TPP Rp. 3 juta pukul rata. Itu zakatnya sudah Rp150 ribu perbulan, kalau setahun kali 12 bulan sudah Rp1,8 juta. Kalau dikali 2.800 dengan zakat yang dibayar hanya 70 persen saja sudah Rp4 milIar,” ujar Ali Amran.
Bahkan, bila ditambah lagi dengan pegawai instansi vertikal, swasta, orang-orang kaya, pertanian dan perkebunan diperkirakan menambah Rp1,7 miliar. Sehingga, total potensi zakat di Beltim mencapai Rp5,9 miliar.

“Sekarang tinggal kesadaran umat islam-nya bahwa zakat adalah wajib sama dengan sholat. Zakat dengan sholat itu tidak bisa dipisahkan, sama-sama wajib,” sebut Ali.

Baznas, sebut Ali, berusaha menghimbau setiap umat islam melalui berbagai cara agar timbul kesadaran seperti diperintahkan didalam Al Qur’an.

Selain itu, Presiden RI telah menginstruksikan seluruh Kementerian dan lembaga pemerintah agar menyadari kewajiban membayar zakat. Hal serupa juga disampaikan Gubernur Babel Erzaldi Rosman, yang mewajibkan PNS di lingkup kerja OPD Provinsi membayar zakat. “Nah Insya Allah kalau terlaksana, minimal kita bisa mengentaskan kemiskinan 1 persen dalam setahun,” ujarnya.

Menurut Ali, selain mengentaskan kemiskinan, zakat juga membantu meringankan beban pemerintah. Zakat yang diterima Baznas juga dimanfaatkan untuk membiayai pendidikan anak-anak tidak mampu yang mau bersekolah. Sehingga tidak ada lagi alasan kekurangan biaya, lalu anak-anak dibiarkan atau tidak sekolah.

“Ada juga untuk usaha perorangan yang macet, Insya Allah kita bisa bantu permodalannya. Bukan sekedar modal, tapi kita ajari bagaimana cara berdagang yang benar, bagaimana manajemen yang baik sehingga usahanya bisa meningkat,” sebut Ali.

“Kita mengharapkan seperti ini, lama-lama ia (penerima bantuan modal, red) akan menjadi Muzakki. Yang tadinya Mustahiq lama-lama menjadi Muzakki. Sehingga rakyat dan masyarakat menjadi makmur. Mudah-mudahan Bupati support kegiatan kita ini,” ulasnya. (@2!/msi)