NARKOBA Bapak & Anak Bandar Sabu!

by -

SEPANJANG operasi antik (Ops antik) Februari 2016, Satuan Narkoba (Satnarkoba) Polres Bangka Selatan (Basel) berhasil meringkus 4 pelaku yang diduga pengedar dan pemakai narkoba jenis sabu-sabu.

Untuk diketahui masing-masing pelaku berinisial Am alias Mer (40) dan Jep (18) buruh harian warga Jalan Kampung Sukadamai, kelurahan Tanjung Ketapang Toboali yang merupakan bapak dan anak. Selain itu, Her alias Bobo (20) buruh harian warga Gang Air Duren jalan dokter Wahidin kelurahan Toboali Kota, dan Suh alias Gonek (38) nelayan warga Jalan Desa Rajik Simpang Rimba (Simba). Saat ini para pelaku ditetapkan sebagai tersangka dan diamankan di Mapolres Basel berikut barang bukti (BB).
Pelaku yang pertama kali berhasil diamankan adalah Her alias Bobo pada 4 Februari 2016 lalu yang merupakan target operasi (TO) Ops Antik. Pelaku diamankan sekitar pukul 17:00 WIB di pinggir Jalan Gang Serawai Jalan Teladan AMD, kelurahan Teladan Toboali. Sebelumnya, anggota Satnarkoba menerima informasi dari masyarakat sekitar pukul 15:00 WIB bahwa di Gang Air Duren Jalan Dr Wahidin akan terjadi tindak pidana narkotika jenis sabu-sabu.
Menindaklanjuti informasi tersebut, anggota Satnarkoba yang dipimpin Kasat Narkoba, AKP Permadi SE bergerak ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) dimaksud untuk melakukan penangkapan terhadap pelaku. Tetapi pelaku berhasil melarikan diri.  Setelah itu anggota menerima informasi bahwa tersangka berada di daerah Teladan.
Akhirnya tersangka berhasil diamankan berikut dengan barang bukti (BB). Seperti 4 paket plastik bening berisi kristal putih yang diduga sabu-sabu seberat 0,86 gram.
Penangkapan berlanjut dan anggota Satnarkoba yang dipimpin Kasat Narkoba, AKP Permadi SE berhasil mengamankan 2 warga Kampung Sukadamai kelurahan Tanjung Ketapang Toboali yang merupakan Bapak dan anak, Am alias Mer dan Jep.  Kedua tersangka diamankan pada 6 Februari 2016 sekitar pukul 03:00 WIB dinihari di kediaman tersangka, dan kedua tersangka merupakan TO Ops Antik. Barang bukti (BB) paket-paket plastik bekas narkotika jenis sabu-sabu dan berikut dengan barang-barang yang berhubungan dengan narkotika. Karena menurut informasi yang didapatkan anggota dari masyarakat bahwa kediaman tersangka sering terjadi transaksi narkotika.
Penangkapan berlanjut ke daerah kecamatan Simpang Rimba (Simba) pada 13 Februari 2016, tepatnya di Desa Rajik. Tersangka berinisial Suh alias Gonek merupakan Ketua RT (Rukun Tetangga) 04 Desa Rajik yang juga TO Ops Antik, ditangkap di kediamannya sekitar 17:30 WIB. Barang bukti (BB) yang diamankan dari kediaman tersangka 6 paket besar kristal putih yang diduga sabu-sabu, 1 paket kecil sabu-sabu, 3 paket kecil bekas sabu-sabu, 1 unit timbangan digital merk Chq warna hitam dan 1 unit HP nokia warna biru serta uang tunai sebesar RP 1.280.000. Selain itu, 2 pack bungkus plastik bening dan 1 buah pipet sekop besar dan kecil serta dompet kecil warna biru.
Kapolres Basel, Satria Rizkiano SiK MSi membenarkan, penangkapan terhadap 4 orang tersangka yang diduga sebagai pengedar dan pemakai narkoba jenis sabu-sabu. “Para tersangka merupakan target operasi (TO) Ops Antik tahun 2016 yang berhasil diamankan Satuan Narkoba (Satnarkoba) Polres Basel. Saat ini para tersangka dan barang bukti diamankan di Mapolres Basel,” ungkap Kapolres.

Ngakunya Kepepet
Terpisah, salah satu tersangka (Suh alias Gonek) kepada Babel Pos mengakui bahwa mendapatkan sabu-sabu dari seorang bandar (penjual_red) di Desa Serdang Jelutung Kecamatan Payung. “Saya mengedarkan sabu karena terpaksa dan kepepet mau bayar hutang di Bank BCA, hutang saya di Bank setiap bulannya harus dibayar sebesar Rp 1.180.000, saya hutang ke Bank sebesar Rp 25 juta dan uangnya itu untuk beli mesin motor laut,” ujar Suh, seraya menjelaskan sabu biasanya dijual ke Pak Asmu, para sopir truck tanah puruh dan terakhir dijual ke Pak Aldi.
“Satu paket sabu dapat untung Rp 4 ratus ribu, sudah 3 kali ngambil sabu, tapi ngambil yang pertama dan kedua lancar-lancar saja dan ngambil yang ketiga baru tertangkap, ambil barang dari warga Desa Serdang Jelutung kecamatan Payung bernama Depok dan Musaril, setiap kali ngambil sebanyak 3 ji sehraga Rp 3,6 juta. Kalau satu jinya seharga Rp 1,2 juta, ngambil pertama hanya 3 ji dan ngambil kedua 4 ji seharga Rp 4,8 juta dan ngambil ketiga sebanyak 5 ji seharga Rp 6 juta,” jelasnya Suh.
Disamping itu, Suh juga mengakui bahwa dirinya baru 1 bulan menjual sabu. “Baru 1 bulan jual sabu, paket sabu ada yang seharga Rp 2 ratus ribu dan ada juga yang seharga Rp 3 ratus ribu. Biasa yang beli para pekerja tanah puruh, sopir mobil truck tanah puruh dan para pekerja kapal, mereka pembeli biasanya datang kerumah langsung. Tapi kadang-kadang janjian ketemu di jalan,” kata Suh, sembari menambahkan selama 1 bulan jual sabu dapat untung 2 sampai 5 juta.
“Sebelumnya orang tua saya yang jadi Ketua RT di desa, tapi semenjak orang tua meninggal dunia dan saya pun diminta oleh warga untuk meneruskan sebagai Ketua RT selama 2 tahun ini, saya tidak makai narkoba sabu, cuma jualan saja karena mau bayar hutang di Bank. Istri dan anak-anak tidak tahu saya jualan sabu, mereka cuma tahu keseharian saya sebagai nelayan, anak saya ada 4 orang dan 1 baru tamatan SMP dan 3 lainnya masih kecil-kecil. Kalau istri kesehariannya selain mengurusi anak-anak mencari upah nyadap getah karet di kebun orang untuk menambah kebutuhan hidup sehari-hari,” urai Suh, seraya menuturkan gajinya perbulan sebagai Ketua RT sebesar Rp 3 ratus ribu.(tom)