Nelayan Diteror Buaya!!

by -

* Di Bangka Selatan Sudah Terkam 2 Nelayan, 1 Luka, 1 Tewas

NELAYAN Bangka Selatan (Basel) khususnya nelayan udang sungkur di kawasan Toboali, benar-benar diteror buaya.  Setidaknya, saat ini sudah menerkam 2 korban, 1 terluka, dan 1 tewas.

JUMAT pagi (6/1) kemarin,  Mun Ngalimun (57) warga Dusun Mempunai Desa Serdang, Toboali, tewas perairan laut Tanjung Mempunai akibat diterkam dan digigit buaya saat mau menyungkur udang di pesisir laut Tanjung Timur bersama rekannya, Latif.  “Tadi pagi sekitar jam 05:30 Wib, Pak Mun (Ngalimun_red) bersama temannya, Pak Latif turun ke laut untuk menyungkur udang di laut Mempunai. Tiba-tiba ada buaya yang begitu besar langsung menerkam kaki Pak Mun dan buaya itu langsung menyeret Pak Mun ke arah ujung laut Mempunai,” kata Rizal nelayan Dusun Mempunai yang juga Ketua Rukun HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia) Dusun Limus Mempunai kepada Babel Pos, kemarin.

Dijelaskan Rizal, buaya itu menyeret Pak Mun ke arah ujung laut Mempunai dan kejadian itupun disaksikan Latif dan Eko yang juga nelayan sungkur udang.  ”Pak Latif yang pertama kali lihat kejadian tuh, dan setelah tuh datang Eko yang baru nek turun ke laut. Melihat Pak Mun diseret buaya, Eko terus melihat kemane arah buaya tuh lari menyeret Pak Mun,” jelas Rizal.

“Luke di bagian kaki, lutut, pukang, tangan dan kepale,” jelas Rizal.

Ia menambahkan, nelayan ramai-ramai pakai perahu mengejar buaya yang menyeret tubuh almarhum ke arah ujung laut Tanjung Mempunai. “Nelayan kejar dan kepung pakai perahu. Samsul yang ngangkat almarhum ke atas perahu dan lah meninggal dunia, luke di lutut, pukang, tangan dan kepale,” ujar Rizal lagi seraya menambahkan menambahkan almarhum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Mempunai selepas sholat Jumat, kemarin.

Sementara itu sebelumnya, Rabu (4/1) malam lalu, Ardiansyah nelayan sungkur udang di perairan laut Padang Toboali juga menjadi korban terkaman dan gigitan buaya, sehingga korban pun terpaksa harus dilarikan oleh pihak keluarganya ke Rumah Sakit (RS) Pusyandik dan Rumah Sakit Umum (RSU) untuk menjalani perawatan medis.

Tolong Kami Nelayan
“Harapan kita ke pemerintah daerah musnahkan lah buaya yang berkeliaran di perairan laut Toboali, karena ini bukan lagi meresahkan nelayan, tapi ini sudah menghilangkan nyawa, lah ade korban. Pemerintah harus tanggap jangan sampai dibiarkan begitu saja. Kami lah pernah menyampaikan masalah ni ke pemerintah daerah waktu kejadian tahun 2015 kemarin, tapi dakde tanggapan same sekali, ini kejadian yang kelima kalinya, makan korban dan meninggal dunia baru kali ni,” tutur Rizal cemas.

Disamping itu, Rizal juga sangat mengharapkan pemerintah daerah (Pemda) mendatangkan pawang ahli buaya untuk menangkap serta mengusir buaya yang berkeliaran di perairan laut Toboali.  “Ini masalah yang serius dan kejadiannya terus berulang-ulang. Nelayan dikejar ketakutan saat turun melaut, mancing dan nyungkur udang merasa ketakutan karena ada buaya yang berkeliaran di perairan laut. Harus ada pawang ahli bukan pawang asal-asalan untuk menangkap dan mengusir buaya itu,” kata Rizal.

Senada juga disampaikan Ketua HNSI Basel, Eriyanto Erik Mika.  Dengan adanya kejadian tersebut setidaknya pemerintah daerah untuk secepatnya mengatasi dan mengambil tindakan.  “Pemerintah Daerah harus secepatnya mengatasi hal ini secara intensif karena kejadian ini sudah berulang kali, bukan cuma sekali, tapi sudah berulang kali apalagi ini sampai ada korban jiwa. Kita sangat menyesalkan begitu terlihat lambatnya pemerintah daerah dalam menyelesaikan masalah ini,” ujarnya.

Menurut Ayi sapaan akrab Eriyanto Erik Mika, keberadaan buaya sampai berkeliaran dan masuk ke perairan laut akibat dari aliran sungai dan hutan rawa yang dibabat untuk dijadikan lahan persawahan.  ”Lihat saja hutan dan rawa habis dibabat untuk dijadikan lahan persawahan seperti di Sungai Nyirih Daerah Serdang. Sungai dijadikan tambak ikan sehingga buaya itu jadi liar karena tidak ada lagi tempatnya dan masuk ke perairan laut,” jelasnya.

Pihaknya pun menduga buaya yang masuk ke perairan laut itu berasal dari Sungai Nyirih dan Sungai Gelombang. Untuk itu, kata Ayi, dalam waktu dekat ini akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menangani dan menanggulangi terkait permasalahan tersebut.  “Selama ini pemerintah daerah tidak pernah membahas masalah untuk menangani, menanggulangi permasalahan buaya yang berkeliaran di laut yang meresahkan nelayan.  Kita dari HNSI dalam hal ini akan berkoordinasi dengan Bupati untuk mencari solusi dan jalan terbaiknya bersama unsur muspida lainnya. Masalah ini tidak bisa terus kita biarkan, cukup sampai disini memakan korban jiwa dan semoga tidak terulang lagi ke depannya,” ujar Ayi.

Pihaknya mengimbau khususnya kepada nelayan sungkur udang terkait adanya buaya yang berkeliaran di perairan laut untuk selalu waspada. “Kita himbau nelayan untuk waspada saat turun melaut, ini kejadian yang luar biasa, buaya sampai berkeliaran di perairan laut dan memakan korban jiwa. Nelayan agar dapat melaporkan segera ke pihak desa terdekat jika melihat adanya buaya di perairan laut sehingga masalah ini bisa diatasi secara bersama-sama di tingkat desa, kelurahan, kecamatan sampai ke tingkat Kabupaten,” imbuh Ayi.(tom)