Nelayan Gugat Tambang Pasir Angkat Kaki

by -

*Proses Mediasi di Pengadilan Belum Ada Titik Terang
*Tambang Pasir Ganggu Ekosistem Laut Sungai Samak

TANJUNGPANDAN-Negosiasi antara masyarakat nelayan dan pemilik perusahaan tambang pasir di Desa Sungai Samak, Kecamatan Sijuk, berjalan alot. Proses negosiasi itu berlangsung saat dilakukan mediasi ini di Pengadilan Negeri Tanjungpandan, Rabu (29/3) kemarin.

Beberapa perwakilan dari nelayan, unsur Pemerintahan Kabupaten Belitung, serta pemilik tambang pasir hadir saat mediasi yang berlangsung tertutup ini. Para nelayan di Sungai Samak ini meminta agar, mediasi segera menemukan hasil.

“Kami ingin pihak mediator, dari Pengadilan Negeri Tanjungpandan bijak dalam menanggapi kasus ini. Semoga masalah ini cepat selesai dan ada solusi bagi para nelayan,” ujar salah satu nelayan kepada Belitong Ekspres usai acara.

Penasehat Hukum Warga Nelayan Sungai Samak Teddy Indra Mahesa mengatakan, hingga saat ini masih belum ada titik temu antara beberapa pihak, yakni nelayan, Pemda Belitung dan dua pemilik tambang pasir yakni CV Kembar Rezeki dan CV  Cahaya Mandiri Abadi.

Menurut Teddy, dia mewakili nelayan di Sungai Samak meminta kepada para penambang pasir itu agar segera angkat kaki dari lokasi itu. Sebab,  adanya aktivitas tersebut sudah menganggu ekosistem laut Belitung. “Dampaknya laut tercemar, sehingga tangkapan para nelayan dalam mencari ikan berkurang,” ujar Teddy.

Selain itu, pihaknya juga melakukan gugatan terhadap Pemda Belitung, yakni Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Belitung, yang memberikan izin adanya aktivitas pertambangan tersebut.

Teddy melanjutkan, kerusakan lingkungan berdasarkan hasil uji laboratorium BLHD waktu itu ditemukan kandar air laut sekitar daerah Sungai Samak sampai pantai ditemukan tingkat keasaman di atas baku mutu.

Kemudian, secara kasat mata juga bisa dilihat banyaknya endapan lumpur dari mulai sungai sampai bibir pantai. kondisi itu, menyebabkan ekosistem di sana menjadi tidak stabil.

“Sudah pernah ada surat untuk menghentikan kegiatan pencucian pasir tersebut dan sudah dua kali pula Pihak BLHD mengajukan surat ke perusahaan. Namun sampai sekarang kegiatan tersebut masih berjalan,” tegas pria Yang bertugas di Kantor Arvid Saktio and Patner.

Ia kembali menegaskan dalam hal ini mereka (warga-red) menuntut ganti kerugian sebesar RP1,6 miliar. Itu pun hanya terhitung120 hari. Lantas, kalau dihitung sampai hari ini bisa lebih dari itu.

“Ini akan panjang dan saya minta mereka menghargai dan menghormati forum mediasi ini. Principal dari tergugat 1 dan 2 tidak ada itikad baik untuk memberikan titik temu. Dan, desa setelah beberapa panggilan baru bisa hadir pada mediasi ketiga ini,” tandas pengacara mewakili 70 Kepala Keluarga nelayan ini

Menanggapi pernyataan tersebut, Humas Pengadilan Negeri Tanjungpandan Andi Mandala Putera mengatakan, saat ini masih proses mediasi. “Ini sudah ketiga kalinya,” ujar pria asal Makasar Sulawesi Selatan ini.

Sesuai dengan aturan, proses mediasi diberi waktu selama 40 hari. Selama masa yang ditentukan, pihak mediator harus memutuskan siapa pemenang dalam gugatan ini. “Hari ini (kemarin,red) mediasi sudah berjalan selama 21 hari,” kata Hakim Pengadilan Negeri Tanjungpandan ini.

Untuk mengetahui kondisi dan permasalahan yang perdebatkann dalam waktu dekat ini pihak Pengadilan Negeri Tanjungpandan akan melakukan pengecekan di lokasi, sebelum menentukan pemenang gugatan itu.

“Sementara, kita masih terus melakukan mediasi. Ke depan, kami akan mengecek langsung, lokasi apa yang diperdebatkan antara masyarakat nelayan dan para penambang pasir,” pungkas pria bertubuh kekar ini.

Sementara itu, dari pihak pemilik perusahaan pasir masih belum bisa dikonfirmasi mengenai masalah ini. Salah satu pemilik tambang pasir yang diketahui bernama Manyu tidak bisa dihubunggi melalui nomor teleponnya yakni 08217967xxx.

Selain itu, ketika didatangi ke kediamannya di Jalan Madura Tanjungpandan, pihak keluarga mengaku tak mengetahui keberadaan si Manyu. “Kami tidak tahu, keberadaan Pak Manyu,” ujar wanita yang mengaku saudaranya ini. (kin/rez)