Nelayan Keluhkan AlatTangkap Trawl

OYO 399 Kelayang Beach Hotel

*Rusak Bubu Nelayan, Pemerintah Diminta Tegakkan Aturan

SIMPANG PESAK – Nelayan pesisir utara Kabupaten Belitung Timur (Beltim) mengeluhkan penggunaan alat tangkap trawl yang dipakai nelayan luar. Pasalnya, alat tangkap berbentuk jaring menggunakan pemberat itu, merusak terumbu karang yang menjadi tempat tinggal ikan.

“Bahkan bubu ketam (alat tangkap kepiting-red) yang kami pasang juga ikut terbawa trawl pada saat mereka beroperasi,” ujar Pendi, nelayan dusun Suge Kecamatan Simpang Pesak, kepada harian ini, Sabtu (25/7) pekan lalu.

Menurut Pendi, penyebab terbawanya bubu ketam nelayan disebabkan oleh pengunaan trawl yang tidak jauh dari garis pantai. Sebab, sebagai nelayan lokal, kebanyakan hanya mampu melaut dalam jarak 3 mil laut.

“Bubu ketam yang kami pasang sebenarnya tidak jauh, tetapi karena penggunaan trawl kadang hanya berada dibawah setengah mil laut maka alat tangkap kami itu terbawa trawl,” jelas Pendi yang mengaku mewakili keluhan nelayan.

Baca Juga:  Dinas Perkim Usulkan Perbaikan 373 RTLH, Anggaran Sebesar Rp 6,53 miliar

Sebagai masyarakat nelayan yang menghargai kearifan lokal, Pendi percaya bahwa setiap nelayan punya hak yang sama untuk mencari rezeki di laut sebagai sumber penghidupan. Kenyataannya, nelayan lokal enggan terlibat konflik antar sesama nelayan.

“Kami memang tidak berhak melarang mereka (nelayan tangkap trawl-red) mencari ikan. Tetapi tolong jangan sampai ke tepi (bawah 3 mil) karena merusak terumbu karang dan alat tangkap kami juga habis ikut terbawa,” keluhnya.

Pendi bersama ratusan nelayan lokal hanya meminta upaya nyata pemerintah daerah dalam menegakkan aturan. Pengawasan terhadap penggunaan alat tangkap yang dilarang sebaiknya diintensifkan. Bila perlu, alat tangkap trawl diberi zonasi tertentu agar tidak mengganggu laut tangkapan nelayan lokal.

Baca Juga:  Gasak Mesin TI, 2 Pemuda Terancam 9 Tahun Penjara

“Saya bahkan pernah minta langsung ke dinas agar segera ditindaklanjuti. Tetapi mereka (Dinas, red) beralasan anggaran. Atau setidaknya, atur ketentuan agar trawl tidak masuk laut tangkapan kami,” harap Pendi.

Ditambahkan Pendi, sebagai nelayan lokal yang memiliki peralatan tangkap terbatas, hanya menginginkan hasil tangkapan tetap ada. Kenyataannya, semenjak alat tangkap trawl digunakan, hasil mereka jauh berkurang.

“Tolonglah diperhatikan. Kami di sini hampir 70 persen menggantungkan hidup dari laut. Kalau dulu sekali melaut bisa minimal membawa hasil 20 kilogram, sekarang mau dapat 5 kilo juga susah. Ini karena terumbu karang rusak dan ikan-ikan tidak terlalu banyak lagi dilaut dibawah 3 mil,” tandasnya. (feb)

Rate this article!
Tags:
author

Author: