Nelayan Pesisir Rasakan Dampak Kenaikan BBM

by -

MANGGAR – Nelayan pesisir di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) mulai merasakan dampak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Hasil tangkapan yang tidak memadai, membuat sebagian nelayan harus merugi setiap turun melaut. Keterbatasan modal yang dimiliki serta melakukan pinjaman tiap kali turun melaut, menjadikan nelayan semakin sulit menutupi biaya operasional.
Sumadi, nelayan pesisir asal Gantung, mengaku kenaikan harga BBM membuat nelayan seperti dirinya tidak berdaya. Menurutnya, turut melaut tertekan biaya operasional, hasil tangkapan juga bergantung cuaca.
“Beli solar mahal, sekali turun minimal harus siap 2 atau 3 jerigen. Membeli harus cash, kalau hutang bisa lebih mahal. Sementara, hasil tangkapan tidak sesuai kalau cuaca buruk,” keluhnya.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Beltim, Herman Saleh mengatakan, pendapatan yang tidak sebanding dengan biaya operasional semakin memiskinkan nelayan. Kalaupun tidak demikian, harga BBM yang mahal membuat pendapatan nelayan berkurang.
“Apalagi saat ini, pencarian ikan oleh nelayan terkendala jarak yang cukup jauh ketengah laut. Imbasnya, BBM yang mereka gunakan semakin banyak dan tanpa jaminan membawa pulang hasil tangkapan yang lumayan,” ujar Herman, Senin (6/4) kemarin.
Disisi lain, Pemerintah dianggap belum mampu mensejahterakan nelayan yang kurang memiliki akses permodalan. Bantuan pemerintah untuk nelayan, juga gagal menyelesaikan akar permasalahan nelayan.
“Nelayan adalah soko guru pembangunan dalam hal pemenuhan protein bangsa, jadi sewajarnyalah harus diperhatikan. Karena standar kesejahteraan bangsa Indonesia diukur dari petani dan nelayan. Kalau dua elemen ini sudah sejahtera, maka bangsa ini kuat,” tutupnya. (feb)