Nugal Cara Meningkatkan Produksi Beras

by -

MENDOBARAT – Sektor pertanian yang mencakup tanaman pangan, peternakan, holtikultura, perkebunan dan perikanan berperan sangat besar dalam perekonomian masyarakat. “Nugal padi ini merupakan salah satu cara meningkatkan produksi pangan,” ungkap Wakil Bupati (wabup) Bangka Rustamsyah ketika membuka tanam padi musim kedua tahun 2015, Senin (8/9) di kebun Bumang, Desa Kemuja Kecamatan Mendobarat Kabupaten Bangka.
Diuraikannya, sektor pertanian harus menjadi sektor ekonomi yang memiliki keunggulan komptetitif dan menjadi kontributor utama sekaligus prime mover dalam perekonomian. “Jika dilihat dari jumlah penduduk, kebutuhan akan beras per kapita kurang lebih 139 kilogram, seharusnya tersedia kurang lebih 42.199,4 ton beras,” jelasnya.
Kegiatan menuggal padi di Desa Kemuja seluas kurang lebih 15 hektar dengan menggunakan sistem kelompok tani.
“Kita garap bersama untuk padi ladang ini, dengan gabungan kelompok tani (Gapoktan) dari Desa Kemuja,” ungkap Memet, salah satu petani. Tampak hadir juga, Kapolres Bangka, Dandim 0413 Bangka, perwakilan provinsi, kepala SKPD, tokoh agama dan masyarakat.
Bupati Bangka Tarmizi H. Saat mengaku asik dengan nungal padi. “Lumayan capek terutama lengan, asik, dan menyenangkan,” ucapnya. Diakui orang nomor satu di Kabupaten Bangka ini cara nugal atau menombak tiang kayu ke tanam untuk dibuatkan lubang tempat mengisi benih padi mempunyai seni tersendiri. “Sudah lama saya tidak melakukannya, lumayan terasa, terutama lengan tangan kita, tapi kalau sudah biasa, gak terasa sama sekali, tahu-tahu sudah diujung,” ungkapnya.
Menurut bupati, tanam padi dengan cara menugal ini mempunyai khas tersendiri. “Tekniknya gak terlalu berat, hanya memasukan kayu ke tanam, angkat, geser, kiri kanan, sementara orang lain, biasanya ibu-ibu menanam benih ke lubang sebanyak sekitar delapan benih,” jelasnya. Menurut bupati menunggal padi ini selain salah satu cara mewujudkan pertanian yang tangguh, dan menjaga tradisi serta kearifan lokal. “Menjaga kearifan lokal dan tradisi nenek moyang kita dulunya,” tukas putera asal Kemuja ini.
Sementara Mok (45) salah satu petani asal Desa Kemuja Kecamatan Mendobarat mengakui menanam padi dengan cara nugal merupakan salah satu tradisi yang sudah ada sejak zaman nenek moyang dulu. “Nugal ini sudah tradisi kita pak, sekalian menjaga dan melestarikan kearifan lokal kita,” ungkap Mok Romo. Menurutnya, nugal ini susah-susah gampang. “Kita hanya perlu dua pancang kayu, terus diarahkan ke tanah kiri-kanan, lalu masukan benih padi sekitar delapan buah dengan lubang sedalam emapt centimeter,” jelas Mok.
Diuraikannya, nuggal padi di ladang ini banyak jenisnya, mulai dari Pulot (ketan), beras jenis radin dan lainnya. “Tanamnya jangan ditutup penuh, sekalian saja, biar ada udaranya,” jelas Mok. Menurut Mok lagi, sebagian masyarakat Kemuja, masih banyak menggunakan cara nugal untuk bercocok tanam padi. “Sawah tetap kita lanjutkan, nuggal juga jalan, lumayan juga hasilnya, adalah beberapa ton, biasanya setahun sekali kita nuggal,” tukas Mok.(rel)