Orang Tua Harus Ketat Awasi Anak

by -

*Dinas Sudah Keluarkan SE Soal Ibadah  Berjamaah

TANJUNGPANDAN-Praktisi Pendidikan Samad Amd memberikan komentar terkait pengamanan delapan remaja usia belasan oleh Satpol PP Kabupaten Belitung. Mereka ditangkap lantaran kedapatan pesta aibon alias penyalahgunaan obat-oabatan tertentu.

Menurutnya, ada empat unsur yang tidak terpisahkan di dalam dunia pendidikan. Yaitu, pemerintah, masyarakat, orangtua, dan siswa itu sendiri. “Masyarakat tidak bisa lepas tangan dengan dunia pendidikan. Sekarang itu aku lihat masyarakat cuek. Pertama, entah nonton musik atau apa sedikit sekali masyarakat menegur,” kata Samad, Rabu (9/9) kemarin.

Pria yang kini menjadi guru di SMK Yaperbel ini mengatakan, pengawasan atau kepedulian orang tua kepada anak agak sedikit lemah, bukan berarti kurang.

“Contoh anak yang balik di atas jam sembilan malam tidak terlalu peduli. Menggunakan kendaraan yang seharusnya mereka belum boleh. Dari sisi belajar, pernah gak orangtua memeriksa. Apa isi dalam tas itu. Saya lihat sedikit sekali orang tua yang sampai kesana,” jelasnya.

Dari beberapa kasus, di sekolah baru ketahuan, di dalam tas ada gambar porno atau VCD porno.

Menurut Samad, semua orang harus peduli dengan pendidikan. Terutama kepada generasi muda penerus bangsa. Jangan ketika ada kejanggalan, jangan selalu memperhatikan atau menyalahkan pemerintah, dalam hal ini sekolah. Namun hal ini tanggung jawab bersama.

“Peranan pendidik, masyarakat, dan orang tua itu memerlukan suatu yang eksta,” tukas mantan anggota DPRD Kabupaten Belitung ini.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung Paryanta mengatakan, sekolah harus membuat kesibukan positif untuk siswa selepas jam sekolah. Misalnya, dengan menggiatkan ekstrakurikuler sesuai minat siswa.
Lantas,  Dinas pun juga sudah memberikan edaran ke sekolah untuk menggiatkan kegiatan salat jamaah. Ini penting untuk membiasakan anak didik ingat akan Tuhan sehingga dari emosi dan pergaulan akan terkontrol.

“Kita sudah memberikan arahan ke sekolah untuk intensif memberikan pembinaan karakter. Kita sudah mengeluarkan surat edaran. Wajib bagi siswa Islam melaksanakan sholat (zhuhur) jamaah di sekolah,” kata Paryanta.

“Disamping itu setiap Jumat wajib semuanya pergi ke masjid. Dan itu bisa dipantau lewat buku,” tambahnya.

Menanggapi delapan remaja yang tertangkap Satpol PP, ia sepakat jika sekolah harus lebih rajin membuat program yang melibatkan siswa dan orang tua.

“Saya kita tidak mesti pas ada insiden. Sebenarnya tanggungjawab pendidikan disemua. Tapi pendidikan utama itu dikeluarga,” tukasnya. (ade)

Tanggung jawab pendidikan milik semua

Paryanta : siswa harus disibukan dengan kegiatan positif

TANJUNGPANDAN – Praktisi Pendidikan Samad Amd memberikan komentar terkait pengamanan delapan remaja belasan oleh Satpol PP Kabupaten Belitung.

Menurutnya ada empat unsur yang tidak terpisahkan di dalam dunia pendidikan. Yaitu, pemerintah, masyarakat, orangtua, dan siswa itu sendiri.

“Masyarakat tidak bisa lepas tangan dengan dunia pendidikan. Sekarang itu aku lihat masyarakat cuek dengan ini. Pertama, entah nonton musik atau apa sedikit sekali masyarakat menegur,” kata Samad, Rabu (9/9) kemarin.

Pria yang kini menjadi guru di SMK Yaperbel ini mengatakan pengawasan atau kepedulian orang tua kepada anak agak sedikit lemah, bukan berarti kurang.

“Contoh anak yang balik di atas jam sembilan malam tidak terlalu peduli. Menggunakan kendaraan yang seharusnya mereka belum boleh. Dari sisi belajar, pernah gak orangtua memeriksa. Apa isi dalam tas itu. Saya lihat sedikit sekali orang tua yang sampai kesana,” jelasnya.

Dari beberapa kasus, di sekolah baru ketahuan, di dalam tas ada gambar porno atau VCD porno.

Menurutnya semua orang harus peduli dengan pendidikan. Terutama kepada generasi muda penerus bangsa. Jangan ketika ada kejanggalan, jangan selalu memperhatikan atau menyalahkan pemerintah, dalam hal ini sekolah. Namun hal ini tanggung jawab bersama.

“Peranan pendidik, masyarakat, dan orang tua itu memerlukan suatu yang eksta,” tukas mantan anggota DPRD Kabupaten Belitung ini.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung Paryanta mengatakan sekolah harus membuat kesibukan positif untuk siswa selepas jam sekolah. Misalnya dengan menggiatkan ekstrakurikuler sesuai minat siswa. Namun disisi lain, Dinas sudah memberikan edaran ke sekolah untuk menggiatkan kegiatan sholat jamaah.

“Kita sudah memberikan arahan ke sekolah untuk intensif memberikan pembinaan karakter. Kita sudah mengeluarkan surat edaran. Wajib bagi siswa Islam melaksanakan sholat (zhuhur) jamaah di sekolah,” kata Paryanta.

“Disamping itu setiap Jumat wajib semuanya pergi ke masjid. Dan itu bisa dipantau lewat buku,” tambahnya.

Menanggapi delapan remaja yang tertangkap Satpol PP, ia sepakat jika sekolah harus lebih rajin membuat program yang melibatkan siswa dan orang tua.

“Saya kita tidak mesti pas ada insiden. Sebenarnya tanggungjawab pendidikan disemua. Tapi pendidikan utama itu dikeluarga,” tukasnya. (ade)