Ormas Minta Bundaran Satam Tetap Rapi

by -

*Ormas Bertemu Bupati Sampaikan Aspirasi
TANJUNGPANDAN-Pemasangansejumlah lampu lampion di Bundaran Satam untuk memeriahkan Cap Go Meh 2566, ternyata memunculkan pendapat beragam di kalangan masyarakat. Karena itu, sejumlah elemen masyarakat meminta panitia untuk menata kembali lampion-lampion tersebut agar tak mengurangi keindahan Tugu Satam yang menjadi ikon pariwisata Belitung.
Permintaan untuk penataan kembali lokasi Bundaran Satam ini seperti disampaikan para utusan dan pimpunan organisasi masyarakat (ormas) di Belitung kepada Bupati Belitung Sahani Salah dalam sebuah pertemuan di Kantor Bupati Belitung Rabu (4/3) kemarin.  . Mereka terdiri dari unsur Majelis Ulama Indonesia (MUI) Belitung, Pemuda Ka’bah Belitung (PKB), Gerakan Reformasi Islam (Garis) Belitung serta Forum Kerukunan Antar Ummat Beragama (FKAB) Kabupaten Belitung.
Sejumlah ormas ini meminta kepada pemilik wewenang seperti Bupati dan Polisi untuk bisa menerapkan aspek keadilan dalam hal kegiatan masyarakat termasuk soal keagamaan. Sebab, pada sejumlah kegiatan sebelumnya, ada larangan dari pihak berwenang saat ada aksi yang digalang oleh ormas tertentu di Bundaran Satam.
Salah satu utusan Firmansyah dari PKB mengatakan, ketika organisasinya mengadakan acara penggalangan dana di Bundaran Batu Satam kala itu, faktanya ada larangan. “Kami dilarang oleh pihak yang berwajib dengan alasan mengganggu keindahan wajah kota,” kata Firmansyah.
Sementara Heriyanto mengatakan, pihaknya tidak pernah sedikitpun berniat mau menghalang-halangi kemajuan pariwisata di Belitung. Hanya saja, fasilitas umum Bundaran Batu Satam yang menggunakan dana APBD harus lebih dipikirkan.  “Bundaran Satam itu jangan dikuasai dan dinikmati oleh sekelompok  orang  tertentu,’’ ucapnya.
Karena itu, maksud kedatangan rombongan menemui Bupati kemarin, kata dia, meminta agar di Bundaran Satam bisa dijadikan sebagai lokasi untuk umum dan masyarakat luas. “Tolong sekali lagi, kami minta yang di Bundaran Satam itu kan fasilitas umum yang sudah jelas-jelas itu adalah uang rakyat. Jadi, sekali lagi tolong dipikirkan itu,” tegasnya.
Ketua MUI Kabupaten Belitung H Subki Sulaeman mengatakan, pada prinsipnya, secara pribadi ia sangat mendukung perayaan ritual agama tersebut. Sebab,negara kita adalah negara hukum. Tidak boleh saling ada paksaan satu sama lain. Jadi, mari kita jaga Hablumminalloh (hubungan baik dengan Allah SWT, red) dan Hablumminannas (hubungan sesama manusia,red),” ingatnya.
Menanggapi hal itu, Bupati Belitung yang akrab disapa Sanem itu mengatakan, ada satu hal yang kami jual di Belitung agar tetap tercipta situasi aman, damai dan rasa kekeluargaan termasuk ke-Bhinneka-an. “Sekarang saatnya untuk kita tidak lagi mempersoalkan masalah suku, agama,ras dan antar golongan,” kata Sanem.
Bupati Sanem berpesan, jika ada masalah di masyarakat agar jangan dibawa ke arah perpecahan. “Saya berharap. Semoga semuanya bisa mengerti. Bahwa dalam hal tatanan beragama, itu harus kita hargai,” tandasnya  sambil mengutip ayat suci Al-quran yang mengingatkan, bahwa sesungguhnya di balik sebuah kesulitan, pasti ada jalan kemudahan.
Ketua DPRD Kabupaten Belitung Taufik Rizani yang sempat hadir dalam pertemuan tersebut mengatakan, bahwa permasalahan ini hanya kurang komunikasi saja, sehingga inilah fakta yang terjadi. “Saya pikir persoalan apapun, selama kita masih waras dan berusaha mencari titik temunya, pasti akan ketemu jalan keluarnya,” kata dia.
Taufik mengatakan, kalau masyarakat Belitung sering melakukan komunikasi saat ada masalah-masalah seperti ini, justru itu akan semakin lebih baik.  “Jadi, Pak Bupati sudah memerintahkan untuk berkoordinasi dengan sebaik-baiknya,” kunci Taufik.
Sementara pihak panitia yang bertanggung jawab, hingga berita ini dicetak belum bisa dikonfirmasi. Nomor HP yang coba dihubungi juga belum tersambung. Pantauan Belitong Ekspres, tadi malam, sudah ada penataan kembali lampu lampion di Bundaran Satam.(mg2)