Paradigma Membangun Pariwisata: Kapitalisme vs Islam

by -4 views
ilustrasi. Foto: Bayu Putra/Jawa Pos
ilustrasi. Foto: Bayu Putra/Jawa Pos
ilustrasi. Foto: Bayu Putra/Jawa Pos

Oleh: Keke Cahyani
(Mahasiswa Sosiologi Universitas Bangka Belitung)

Dewasa ini, pariwisata kian menaiki puncak pucuknya. Hal ini tentu ditandai oleh maraknya perencanaan pembangunan yang didasarkan atas sektor pariwisata. Sektor pariwisata ini merupakan salah satu sumber perekonomian yang begitu menjanjikan. Bahkan, sebagai salah satu sektor industri terbesar di dunia, pariwisata menjadi andalan penghasil devisa di berbagai negara, seperti Thailand, Singapura, Filipina, Fiji, Maladewa, Hawai, Kepulauan Karibia, dan negara lainnya yang sangat bergantung pada devisa dari kedatangan wisatawan.

Dengan motif inilah kemudian bumi pertiwi menawarkan hal yang sama serta menseriusinya dengan membuat kebijakan pembangunan yang begitu massif. Dengan berbagai potensi yang dikandung oleh ibu pertiwi seolah menjadi hidangan yang begitu menggiurkan bagi para kaum borjuis di era kapitalis ini. Tidak dipungkiri, hadirnya kaum borjuis yang terkenal memiliki begitu banyak modal ini, menghantarkan pada maraknya investasi baik berbentuk alat produksi maupun lahan. Demikianlah, bukan hanya kemaslahatan yang bisa ditarik dari hadirnya keterbukaan dalam sektor pariwisata ini tetapi juga kemudharatan yang begitu merekat padanya.

Ketika peluang dalam sektor pariwisata terbuka luas yang begitu dimudahkan aksesnya dengan hadirnya berbagai agenda besar, salah satunya di Babel. Mengusung KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) dan UGG (UNESCO Global Geopark) yang menekankan pada intervensi asing dan pembangunan kawasan pariwisata terpadu dengan menggerakkan sektor lainnya membawa terjadinya hegemoni budaya dalam masyarakat sekitar.

Hegemoni budaya yang sewaktu-waktu dapat masuk tanpa meminta izin layaknya budaya Indonesia yang santun bisa saja kehilangan nilai yang telah lama dianutnya. Budaya kebaratan yang terkenal berkebalikan dengan budaya timur dapat menjadi sebuah momok permasalahan baru yang akan mengusik masyarakat. Hal ini akan menjadi sebuah involusi dalam sebuah sistem masyarakat dan tidak akan dapat disangkal bahwa kaum borjuis akan terus menguasai kaum proletar. Bak berbagai hidangan lezat nan nikmat yang telah disajikan, masyarakat hanya bisa mencium aromanya tanpa bisa ikut menikmatinya.

Berbeda halnya dengan kaum borjuis sang pemilik modal, menikmati hidangan dengan bersuka ria tanpa menghiraukan bahwa siapa yang bisa ikut menikmati hidangan tersebut. Begitu banyak fakta yang kian tersebar, baik dalam media ataupun surat kabar. Inilah bentuk sistem kapitalis, mengambil langkah akan sesuatu hanya berdasar atas keuntungan semata.

Alhasil, kegiatan perekonomian yang digantungkan pada sektor pariwisata, tak pelik hanya sebagai dalih untuk mengulang sejarah imperialisme tanpa menindas fisik. Lalu, berbagai pertanyaan akan muncul di benak kita, apakah ada yang lebih baik dari langkah apa yang telah diambil saat ini?

Tentunya, sebagai generasi millenial yang berintelektual perlu memahami sesuatu secara equilibrium, ketika kita mengetahui sesuatu itu ada, maka perlulah kita mengetahui bagaimana sesuatu itu ada dan apakah ada yang lebih baik dari sesuatu itu? Singkatnya, dalam menilai sesuatu dan sebelum mengikutinya ada baiknya kita melihat dan menilai di sisi yang lainnya juga.

Seperti yang telah dipaparkan di awal, bahwa dimasa sekarang pariwisata dijadikan penopang dalam perekonomian. Tetapi tidak demikian halnya ketika kita kembali di tahun kejayaan Islam, yaitu Daulah Islamiyah.

Dengan 2/3 luas wilayahnya dan di dalamnya pula lah terkandung begitu banyak potensi baik alam maupun buatan tak menjadikan sektor pariwisata sebagai sektor utama penopang perekonomian negeri. Pariwisata merupakan ladang pahala dalam sebuah negeri, mengapa demikian?

Pariwisata dalam Daulah Islamiyah diperuntukkan dalam dakwah dan di’ayah. Ketertarikan manusia akan pesona alam akan membuatnya merasa tunduk dan takjub. Pada titik itulah, potensi yang diberikan oleh Allah yang bisa digunakan untuk menumbuhkan keimanan kepada Dzat yang menciptakannya, bagi manusia yang belum beriman kepada-Nya. Sedangkan bagi yang telah beriman kepada-Nya merupakan jalan untuk mengokohkan keimanannya. Dari hal inilah proses dakwah itu bisa dilakukan dengan memanfaatkan objek wisata tersebut.

Menjadi sarana di’ayah dengan menyaksikan langsung peninggalan bersejarah dari peradaban Islam, sebagai bukti yang atast keagungan dan kemuliaan, maka dengan menyaksikannya langsung, akan membuat para wisatawan yakin akan hadirnya Sang Pencipta seluruh alam beserta isinya. Kemudian digambarkan pula bahwa pengelolaan pariwisata dalam Islam tidak menggunakan ukuran kemaslahatan atau yang lebih kita kenal dengan untung-rugi, berbeda dengan pengelolaan periwisata dalam sistem kapitalis yang sudah jelas memperhatikan besaran untung-ruginya dari sesuatu tersebut.

Dengan demikian, pengelolaan pariwisata yang tidak didasarkan dengan urusan kepentingan akan suatu kemaslahatan untung-rugi tidak akan membawa sebuah negeri kepada kerusakan sosial baik moral dari suatu bangsa itu sendiri dan tidak akan membuat kerusakan dengan selalu terjadinya fluktuasi dan menyebabkan defisit pada sistem perekonomian.

Pariwisata juga bukan bagian dari komoditas yang bebas diperjualbelikan bahkan bebas untuk diinvestikan pada sembarang pihak. Pariwisata adalah urusan negara dan kebijakannya dalam memastikan bahwa di dalam bidang tersebut tidak memiliki unsur-unsur kemaksiatan. Di sisi lain, Daulah juga sudah memetakan pendapatan pada empat sektor utama: pertanian, perdagangan, industri dan jasa. Sementara tambahan lainnya berasal dari jizyah, kharaj, zakat, fa’i, dharibah dan ghanimah, sehingga daulah tidak perlu melirik pariwisata dan mengkapitalisasinya.

Singkatnya, pengelolaan pariwisata dalam sistem Islam akan membawa kepada keberkahan dan keselamatan bagi negeri itu sendiri. Mengapa tidak? Karena Daulah Islamiyah memiliki konsep pengaturan pendapatan negara yang jelas dan tidak menggantungkan dari sektor-sektor yang non-riil yang penuh dengan riba, negara yang akan mengurusi kebutuhan rakyatnya secara serius, tidak berdasarkan konvensi semata, namun mutlak berdasarkan tuntunan Allah sebagai Al-Muddabir. Dengan demikian, masihkah kita menutup mata dari sebuah jalan perubahan yang besar? Masihkah kita bertahan pada sistem kapitalis yang hanya mengukung kita dalam jerat durinya? Jadi, bangkitlah untuk berubah dan berubahlah untuk bangkit!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *