Pariwisata Belitung kelas dunia bukan hanya omong

by -

TANJUNGPANDAN-Dalam membangun dan mengembangkan sektor pariwisata, tak ada salahnya Belitung mencontoh dan belajar dari daerah lain yang sudah maju. Artinya, semuanya tetap menimbangkan potensi yang dimiliki Belitung dengan kekhasan yang dimiliki.

“ Mengapa tidak mengikuti dan mencontoh daerah lain untuk mengembangkan pariwisata? Semisal melihat Bali,’’ ujar Ida Bagus Surakusuma, Director of External Relations PT Pacific World Nusantara Bali dalam Workshop Incentive Travel di Grand Hatika Hotel yang digelar oleh Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kementerian Pariwisata RI Minggu (25/10), kemarin.

Workshop dibuka Bupati Belitung Sahani Saleh disaksikan oleh Asisten Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kementerian Pariwisata RI, Ir Azwir Malaon MSc. Worksop dihadiri perwakilan Dinas Pariwisata dari sebagian besar Provinsi dan kota di tanah air. Selain itu, hadir pula sejumlah praktisi perhotelan dan pelaku taouir travel di Belitung.

Ida Bagus Surakusuma menyebut, sejumlah hal yang bisa ditemui di Bali di antaranya keindahan alam (nature and landscape), Religi dan Budaya serta Tradisi. “Saya melihat art and culture (seni dan kebudayaan,Red) di Belitung masih kurang, perlu diangkat tingi-tinggi. Jadi perlu digarap massif atau tidak, mau ke mana Belitung ini?,’’ kritis Peaku Incentive Travel asal Bali yang akrab disapa Lolek dalam sesi Panel I Workshop.

Lebih jauh Lolek memaparkan, beberapa hal lagi yang juga bisa dipelajari dari karakteristik masyarakat Bali. Di antaranya, sopan santun, ramah, communal, atraktif dan care (peduli). “Bagaimana dengan masyarakat Belitung, sejauh mana hal-hal seperti ini karena di seluruh Indonesia pun mestinya karakteristik seperti ini sudah ada,’’ papar Lolek yang menggambarkan betapa besar pasar bisnis Incentive Travel baik nasional, regional maupun internasional tersebut.

Sementara itu, nara sumber lain Christina L Rudtin SE, Msi, Lektor Kepala Politeknik Negero Jakarta memaparkan check list sebuah destinasi (tujuan wisata) dikatakan masuk dalam kategori MICE (meeting, incentive, convention and exhibition) . Christina menyebut ada 16 destinasi MICE di Indonesia, dan Belitung memang belum masuk di dalamnya.

Dosen yang juga Peneliti Bidang MICE ini menyampaikan belasan syarat yang bisa mendukung sebuah destinasi Incentive Travel. Salah satunya mengenai aksesbilitas. Dengan bandara yang dimiliki Belitung apakah sudah memadai dalam mendatangkan turis domestik, regional maupun internasional.

Nara sumber panel, Budi Setyawan, Direktur Belitung Adventure Travel and Tourism Destination Board memaparkan, Belitung memiliki banyak potensi untuk menjadi daerah pariwisata dunia. Dalam panelnya, Budi mempersentasinya materi bertema nature, culture and leisure.

 

Budi menyebut, banyaknya kapal-kapal karam peninggalan masa Cheng Ho dan Belanda di lautan Belitung, menjadi potensi tersendiri untuk menggarap destinasi. Salah satu destinasi yang dimaksud terkait dengan tema sianstifik (keilmuan).

“Dengan wisata selam atau diving yang hanya skeian meter, sudah bisa melihat kapal karam dan coral-coral yang cantik dan indah. Luar biasa memang potensi tang dimiliki Belitung untuk bisa jadi destinasi kelas dunia. Yang pasti, masyarakat lokal harus mampu menjadi pemain bukan hanya penonton,’’ papar Budi yang juga Ketua Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB).

Budi juga menjelaskan keberadaan pantai-pantai di Belitung, seperti Pantai Tanjung Kelayang, Pantai Tanjung Tinggi dan sejumlah pantai, memiliki kemiripan dengan sejumlah pantai di Eropa dan belahan dunia lain. Dan karakterisktik pantai Belitung ini hanya ada di tiga wilayah negara salah satunya di Selandia Baru. “Dan ini menjadi potensi luar biasa untuk bisa dijual ke pasar destinasi dunia,’’ tukasnya.

Nara sumber lain, Manuel Ferrer, Founding Partner and Chairman at QOS Concultancy memaparkan banyak hal yang terkiat dengan incentive tour di Asia, termasuk Indonesia. Manuel menyebut, pasar incentive travel sangat besar dan memiliki masa depan yang cerah. Selain itu, bisnis ini memiliki nilai yang cukup besar mencapai USD 130 miliar.

Menurut pakar dan praktisi pariwisata berkebangsaan Spanyol yang kini tinggal di Singapura tersebut, pada tahaun 2008, banyak kalangan profesional pesimis dengan bisnis incentive travel ini. Angkanya cukup besar sektar 86%. Namun, kondisi tersbut berubah. Sebab, pada tahun 2010, kata dia, 85% kalangan profesional merasa optimis dengan bisnis ini.

Dalam panel sesi 1 dan sesi 2 yang dipandu moderator Octavia Dwiati Anggraini-Director True MICE Jakarta dan Mimi Hidoyo-Editor TTG MICE Asia and Former Jurnalist, berlangsung dinamis. Sejumlah pertanyaan dan tanggapan dilontarkan peserta perwakilan dari seluruh Indonesia. Waktu untuk diksusi dan tanya jawab hingga habis efektif untuk pembahasan materi.

Workshop hari kedua, Senin ini, akn diisi presentasi dari perwakilan dinas dari sejumlah daerah di tanah air seperti, jogja, Solo, Semarang, Jakarta, Makasar, Padang, Bali dan Belitung selaku tuan rumah. “Diharapkan dari workshop ini mampu menjadikan Indonesia menjadi The Best Destination dari pasar Incentive Travel di dunia. Dan masing-masing daerah bisa sharing berbagi wawasan dan pengalaman untuk mengembangkan wilayah masing-masing,’’ papar Azwir Malaon menutup sesi hari pertama Workshop, kemarin.(ade/agu)

 

Ia juga menyebut keberadaan monyet purba alias Tarsius juga merupakan potensi wisata kelas dunia. Ternyata tarsius juga ada Sulawesi. Ia menjelaskan ketika ia persentasi di Filipina, audien banyak yang tidak yakin tarsius ada di Belitung.

Secara teori, Tarsius tidak akan mungkin berada di pulau kecil. Sayangnya teori itu batal dengan sendirinya setelah ada tim yang menyaksikan tarsius ada di Belitung. “Maka teori sebelumnya dengan sendirinya gugur. Karena ternyata Belitung pernah satu pulau dengan Kalimantan, Sumateran dan Sulawesi,” kata Budi.

Saat ini sudah banyak yang ingin melihat tarsius. Dulunya sangat tidak mungkin orang mau diajak main ke hutan. Namun paradigma tersebut kini mulai bergeser. “Kita ajak mereka ke hutan lihat tarsius dan ketemu. Masyarakat pun sekarang sudah tidak lagi menganggapnya sebagai binatang sial,” kata dia.

Ia juga menyinggung mangrove yang terletak di Kecamatan Selat Nasik. Video yang ia tampilkan disangka-sangka video dari sungai Amazon. Pasalnya kerapatan dari mangrove mirip sekali dengan Amazon. Padahal lokasinya ada di pulau Belitung yaitu di Kecamatan Selat Nasik. “Untungnya masyarakat lokal sangat menjaga kelestarian mangrove,” kata Budi.

Nah, untuk Selat Nasik sendiri, disana ada sumber makanan yang berkelas. Seperti misalnya kepiting. Kata Budi, biarpun mereka miskin uang, tapi mereka kaya sumberdaya untuk dimakan. “Untuk ini saya pikir sangat cocok Belitung menjadi wisata insentif. Bagaimana caranya agar potensi ini jangan dijual ke luar. Sekarang orangnya yang kita bawa kesini,” kata Budi.

Satu lagi yang bisa menjadi daya tarik kelas dunia yaitu wisata laut. Ternyata laut Belitung dulunya adalah jalur perdagangan dunia. Banyak kapal tenggelam diperairan Belitung. Budi menjelaskan ada ribuan kapal yang tenggelam.

Bahkan ada puing-puing kapal tenggelam yang bisa dilihat dengan muda. Jaraknya hanya sekitar dua meter saja dikedalaman air laut. Sisa-sisa tembikar sangat mudah untuk dilihat.

“Kita bisa saksikan ada ribuan kapal tenggelam disini,” ujarnya.

Melihat potensi ini kata Budi, jelas bukan hanya omongan belaka jika menyebut Belitung adalah objek wisata kelas dunia. Tinggal bagaimana program tuntas dari pemerintah untuk memacu ini.

Yang paling penting keterlibatan masyarakat langsung. Menurut Budi, masyarakat bukan tidak mampu, tapi tidak diberi kesempatan. Dan itu sudah dia buktikan di Pulau Kepayang dan Batu Mentas. Disana masyarakat yang mulanya tidak sadar dengan potensi yang dimiliki, sekarang sudah bisa dilepas sendiri mendampingi tamu.

“Mau tidak mau kita harus melibatkan masyarakat lokal. Karena mereka awalnya yang memberikan informasi itu,” tukasnya. (ade