Pekerja Kafe Gempar Tewas Karena Sakit

Unit Identifikasi Polres Beltim dan Unit Polsek Manggar bersama Dokter RSUD Beltim melakukan visum terhadap mayat perempuan pekerja Kafe Gempar, Jum’at (19/7) kemarin.

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Tim Unit Identifikasi Polres Belitung Timur (Beltim) dan Unit Polsek Manggar bersama Dokter RSUD Beltim melakukan visum terhadap mayat perempuan pekerja Kafe Gempar. Sebelumnya, wanita itu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di kontrakan milik Apong, Dusun Harapan RT 4 Desa Lalang Jaya Kecamatan Manggar, Jum’at (19/7) pagi kemarin.

RajaBackLink.com

Berdasarkan identitas di Kartu Tanda Penduduk (KTP), mayat perempuan ini diketahui bernama Ai Nurmala (33) warga Lembur Pasir RT 03/05 Desa Sindang Sari Kecamatan Lembur Situ Kota Sukabumi Jawa Barat.

Tim Unit Identifikasi Polres Beltim, sebelumnya sudah terlebih dahulu melakukan olah TKP guna mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi. Dari hasil pemeriksaan awal, polisi memastikan korban merupakan pekerja hiburan malam di kawasan Mirang, Desa Padang, Kecamatan Manggar tanpa sanak saudara.

Berawal dari kondisi sakit keras, korban ditampung tinggal sementara di kontrakan rekan sesama pekerja hiburan malam karena sedang menjalani pengobatan. Malangnya, sakit yang dialami korban tak kunjung membaik dan justru berujung kematian setelah dua minggu dirawat.

“Dia itu kerja di Kafe Gempar, di kontrakan ibu sudah seminggu lebih hampir dua minggu, karena sakit ngasin sama dia. Sejak sakit dibawalah ketempat ibu. Udah dimamah aja, kata ibu. Saya kira bakal sembuh, eh dak taunya jadi gini (meninggal),” ucap teman kenalan korban, Maryani (40) yang juga merupakan mami di salah satu kafe di Mirang.

Baca Juga:  Bawaslu Beltim Buka Seleksi Lima Pegawai

Maryani mengaku, pihak keluarga korban sudah dikabari bahwa yang bersangkutan sedang sakit. Sempat berencana memulangkan korban ke kampung halaman, namun kondisi sakit yang kian parah mengurungkan rencana tersebut.

“Tadi pas balik kesini, dia ngomong ada sakit dipunggung, terus saya panggil warga, juga udah dirukiyah. Terakhir juga ngecek tanggal 15 (lalu, red), katanya gak ada sama sekali penyakitnya. Pas besok mau balik dibokingi tiket sama keluarganya, korban dak bisa bangkit sama sekali, kejang-kejang. Tadi, meninggalnya juga kejang-kejang sekitar jam tujuh lewat 15 menit,” beber Maryani.

Lebih jauh Maryani menceritakan, dirinya merasa iba saat mengetahui kondisi korban yang tidak bisa bekerja karena sakit lambung akut. “Sebelum di kafe Gempar, korban pernah kerja di Sehati Tanjungpandan. Aku tuh ngasin sama dia, disini gak ada siapa-siapa. Makan sih, kadang-kadang 3 senduk. Kalau masalah obatnya aku dak tau. Aku kan kadang di Tanjung,” sebut Maryani.

Baca Juga:  Kasi Intel Kejari Beltim Resmi Diserahterimakan

Kanit Reskrim Polsek Manggar, Bripka Novan yang melakukan olah TKP menerangkan, awalnya pihak Polsek mendapat informasi dari masyarakat bahwa ada warga pendatang yang meninggal di rumah kontrakan. Mendapat kabar itu, unit Polsek Manggar langsung menuju lokasi dan melakukan pemeriksaan.

“Kami mendapat informasi dari warga ada korban meninggal di rumah Nuryani, tepatnya di rumah kontrakan. Meninggalnya itu diperkirakan sekitar pukul 07.15 wib, baru dilaporkan sekitar jam 09.00 WIB melalui bhabin Lalang. Mendapatkan laporan tersebut Unit Polsek langsung mendatangi TKP,” ungkap Bripka Novan.

Bripka Novan melanjutkan, dari hasil olah TKP, polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban. Meski demikian untuk kepentingan menyelidikan, polisi melakukan visum di RSUD Beltim.

“Kami lihat, untuk tanda-tanda bekas kekeran fisik mengarak kepembunuhan itu tidak ada. Cuma dari keterangan saksi-saksi yang kita dapat di TKP, riwayat korban ini sakit,” jelasnya.

Sementara itu, keterangan dari dokter yang melakukan visum diketahui korban meninggal wajar. Dokter memastikan penyebab kematian korban murni karena penyakit lambung akut.

“Untuk jenazah, karena memang tidak ada indikasi penyebab tindakan kekerasan yang menyebabkan kematian, kita serahkan lagi ke pihak keluarga,” sebut Bripka Novan.

“Kita bantu upaya apa mau dipulangkan atau dimakamkan disini. Apalagi pihak Desa menyampaikan siap untuk dimakamkan disini bila tidak dibawa pulang. Tetapi tergantung kembali kepada pihak keluarga keputusannya,” tandasnya. (dny)

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply