Pelajar Belitung Klaster Baru Covid-19, Beltim Belum Ada Wacana Tutup Sekolah

by -
Pelajar Belitung Klaster Baru Covid-19, Beltim Belum Ada Wacana Tutup Sekolah
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Beltim, Amrizal.

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Meski muncul kasus positif Covid-19 pada cluster sekolah di Kabupaten Belitung, Dinas Pendidikan Kabupaten Beltim enggan bersikap gegabah menyikapinya. Sampai hari ini, seluruh sekolah masih tetap berjalan dengan menerapkan protokol kesehatan dan jadwal sekolah yang diatur.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Beltim Amrizal menyatakan soal aktifitas buka tutup sekolah sudah menjadi kewenangan Kabupaten/Kota selama masa pandemi Covid-19.

Pasalnya, berdasarkan hasil konferensi pers bersama Kementerian terkait terdapat fakta bahwa ada sekolah yang tetap tidak dibuka meskipun status daerahnya hijau. Sehingga Kementerian sepakat, kewenangan buka tutup aktifitas sekolah diserahkan ke Kabupaten/kota yang tentunya berdasarkan pertimbangan.

“Hasil konpres dengan 4 Kementerian, disepakati kalau sebelum ini digunakan sistem zonasi. Kalau hijau atau kuning boleh beroperasi sekolah, yang (warna) lainnya tidak boleh. Sekarang malah disilahkan oleh Kementerian ke Pemkab/Kota, jadi regulasi berubah. Sekarang tergantung Kabupaten/kota, wewenang bukan lagi Provinsi tetapi wewenangnya adalah Kabupaten/Kota,” ungkap Amrizal.

Namun demikian, Amrizal menegaskan penerapan protokol kesehatan adalah wajib di lingkungan sekolah. Standar yang harus terpenuhi bagi sekolah antara lain memenuhi ceklist peralatan, cuci tangan, masker dan sanitasi. Selain itu, ada izin dari perwakilan orang tua atau komite sekolah serta mendapat izin dari Pemerintah daerah.

“Kalau di Beltim kita (sekolah) sudah jalan, Agustus dan tetap melaksanakannya standar. Beltim memang belum ada yang terdampak positif baik guru, tenaga pendidik maupun siswa. Kita berharap akan terus seperti ini agar (sekolah) tetap bisa berjalan,” harap Amrizal.

Menurut, sistem belajar daring yang sempat dievaluasi tetap memiliki kekurangan. Sebab, belajar daring hanya memenuhi aspek kognitif anak. Padahal, usia anak-anak membutuhkan pengembangan kecerdasan lainnya.

“Kendala memamg kita harus wanti-wanti jangan anggap sekolah buka tapi kebablasan seperti tidak memakai masker dan lain-lain. Jadi kita menggunakan protokol kesehatan walaupun aturan baru,” jelasnya.

Amrizal juga memandang penutupan semua sekolah ketika muncul satu kasus positif bukanlah kebijakan yang tepat. Artinya, cukup dilalukan lokalisir penutupan sementara di sekolah yang bersangkutan kecuali hasil tracking menunjukkan fakta lain.

“Kalau ada sekolah terdampak, tidak perlu semua sekolah ditutup. Misalnya di Manggar (ada kasus), Dendang tidak perlu ikut (tutup) kecuali ada hasil tracking. Saya merasa belajar tatap muka sangat penting bagi anak-anak,” tukasnya.

Ia yakin, penutupan sekolah yang terlalu lama akan menimbulkan pergeseran nilai sosial. Meskipun ada kecerdasan tetapi ketidakcerdasan lainnya juga muncul. “Jangan karena sekolah buka dianggap remeh. Tetaplah seperti sediakala (penerapan prokes). Orangtua harus memberikan edukasi kepada anak jangan lengah. Kalau anak sakit, jangan dipaksa sekolah,” tandasnya. (msi)