Pelajar SMK Ini Tak Malu Narik Becak Sepulang Sekolah

by -
Pelajar SMK Ini Tak Malu Narik Becak Sepulang Sekolah
Pelajar SMK Ini Tak Malu Narik Becak Sepulang Sekolah
BANTU KELUARGA: Nur Sandi bersama bapaknya, Abdul Syukur sepulang dari Pasar Kebonagung, Kota Pasuruan. (Foto: Istimewa)

Umumnya, pelajar mengisi kegiatan sepulang sekolah dengan bergaul atau ikut organisasi. Namun, berbeda dengan Nur Sandi. Dia menarik becak setiap pulang sekolah, demi mendapat tambahan untuk biaya hidup keluarga dan sekolahnya.

—————–

Sinar matahari sudah terik. Saat itu jam menunjukkan pukul 11.00. Aktivitas jual beli di Pasar Kebonagung, Kota Pasuruan, sudah mulai surut. Satu per satu pembeli membawa barang belanjaan keluar pasar. Sebagian besar pulang dengan sepeda motor. Ada juga yang menunggu jemputan ataupun menggunakan jasa transportasi lain.

Di dekat pintu keluar, becak-becak berjajar rapi menunggu penumpang. Sebagian besar usia tukang becak itu 40 tahun ke atas. Namun, ada satu tukang becak yang masih tampak belia. Dia adalah Nur Sandi, 18, warga Magersari, Pleret, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan.

Dengan kaus oranye berlogo salah satu merek kopi, remaja bertubuh jangkung itu tampak gelisah menunggu penumpang. Hari Minggu kemarin banyak tukang becak yang bekerja sejak pagi. Maklum, hari Minggu hasil upah narik becak lebih tinggi daripada hari biasanya. Itu pula yang dilakuKan Sandi, panggilannya.

“Narik becak itu untung-untungan, kalau banyak yang makai jasa kita sehari bisa dapat Rp 30 ribu. Tapi kalau nggak ada sama sekali ya pulang nggak dapat apa-apa,” tuturnya.

Sandi mengatakan, sudah lama narik becak sepulang sekolah untuk membantu bapaknya, Abdul Syukur, 64. Agustus lalu, tetangganya yang juga tukang becak meninggal dunia. Becak milik almarhum lantas dibeli orang tuanya seharga Rp 400 ribu.

TEPIS GENGSI: Gaya Nur Sandi saat mengayuh becak. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Rencananya, becak itu bakal dijual kembali oleh orang tuanya. Namun, Sandi melarang.

“Saya bilang nggak usah dijual, biar saya pakai saja buat narik becak sepulang sekolah,” ungkapnya.

Sejak saat itu, Sandi narik becak sepulang sekolah. Bila dulu dia bergantian dengan bapaknya narik becak. Sejak Agustus, Sandi narik becak sendiri, setiap pulang sekolah.

Biasanya, sekitar pukul 14.00 dia mangkal di Pasar Kebonagung, Kota Pasuruan. Kalau Minggu, dia mangkal lebih pagi. Selain karena libur, aktivitas masyarakat yang berbelanja saat liburan lebih banyak. Membuat potensi hasil dari menarik becak bisa lebih tinggi.

Menurutnya, penghasilan menarik becak memang tidak tentu. Bisa dapat Rp 30 ribu dari 2-3 penumpang. Namun, kalau apes, nggak ada yang menggunakan.

“Sekarang tranportasi banyak pilihan. Rata-rata sudah punya sepeda motor. Juga ada ojek, sehingga yang pilih naik becak makin menurun,” terangnya.

Namun, sandi mengaku tidak menyerah. Menurutnya, menarik masih bisa dijadikan pekerjaan untuk membantu biaya di rumah. Anak terakhir dari 7 bersaudara ini mengaku, ibunya sakit-sakitan. Sementara itu, ada dua saudara dan tiga ponakan yang masih tinggal bareng.

Abdul Syukur, bapaknya mengatakan merasa terbantu setelah Sandi ikut narik becak. Ini, lantaran uang hasil narik becak diberikan pada ibunya untuk belanja dan biaya SPP. “Sangat membantu, tapi saya tetap nasehati agar sekolah yang utama,” ujarnya.

Meskipun hidup pas-pasan, Sandi yang sekolah di SMK AL Ayyubi Warungdowo, tidak mengajukan Kartu Indonesia Pintar (KIP). “Dulu pas di SMPN 1 Pohjentrek dapat. Tapi setelah SMK memang dak ngurusin lagi ke desa. Jadi SPP memang masih bayar,” terang bapaknya.

Saat ini Sandi di kelas 11, jurusan teknik sepeda motor. Tujuannya, memilih jurusan tersebut agar cepat dapat kerja setelah lulus dan bisa meningkatkan ekonomi keluarga. Saat ini selain sekolah, Sandi sedang ikut kerja lapangan dan magang kerja di salah satu bengkel di Grati.

“Jadi, sekarang kalau habis magang, ya narik becak ke Pasar Kebunagung. Kalau jadwal sekolah yang sepulang sekolah narik becaknya,” terang Sandi.

Kendati narik becak, Sandi mengaku tak malu dengan pekerjaannya. “Nggak malu lah, karena kan pekerjaan halal. teman-teman dekat juga tahu saya narik becak. Jadi kalau ketemu juga nggak malu,” terangnya.

Memang, menurut Sandi, ada penumpang yang mempertanyakan usainya yang dinilai terlalu muda untuk narik becak. “Kadang ditanya sudah lulus apa masih sekolah. Ada juga yang baik nambahin ongkos becak,” ungkapnya.

Sandi berharap bisa lulus dengan nilai baik di SMK. Setelah itu bisa bekerja yang baik agar ekonomi keluarganya membaik. “Kalau nggak kerja di bengkel ya ingin jadi pegawai agar bisa mengangkat derajat keluarga juga,” ungkapnya.

Kurniawan, wali kelas Nur Sandi di SMK AL Ayyubi Warungdowo mengaku kurang mengetahui keseharian muridnya tersebut. “Anaknya memang tertutup, tapi tahu kalau bapaknya tukang becak. Tapi, kita tidak tahu kalau Sandi juga narik becak sepulang sekolah,” ungkapnya.

Selama di sekolah, Sandi termasuk siswa yang aktif dan cepat menangkap pelajaran. Bahkan, sosialisasi dengan teman-temannya juga baik.

“Memang Sandi sementara ini tidak ada bantuan beasiswa untuk SPP. Tapi, akan kami ajukan untuk KIP. Nanti diajukan lewat desa sehingga bisa bebas SPP sekolah,” ujarnya. (eka/hn/fun)

 

Artikel ini sudah dimuat di Jawapos.com dengan judul: Nur Sandi, Pelajar SMK yang Tak Malu Narik Becak Sepulang Sekolah