Pelaksanaannya Ditunggu Masyarakat

by -

MANGGAR – Pelaksanaan Liga Desa Indonesia (LIDI) atau yang dikenal dengan perubahan nama piala Menpora kemungkinan akan diundur pelaksanaannya. Sebab, LIDI 2015 yang rencana akan digelar di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) pada awal Agustus hingga September 2015 mendatang belum juga ada kepastian.

Padahal LIDI 2015 ini, sudah ditunggu-tunggu kalangan masyarakat pecinta sepakbola di Beltim, kapan akan dilaksanakan.

Sebelumnya kepastian pelaksanaan sudah disepakati, setelah Pengurus Badan Sepak Bola Rakyat Indonesia (Basri) berjumpa Menpora Imam Nahrawi, beberapa waktu lalu di kantor Kemenpora.
Ketua pelaksana penyelenggara Basuri T Purnama yang juga menjabat Bupati Beltim, saat dikonfirmasi harian ini Jumat (24/7) pekan lalu, hingga saat ini juga belum memberikan kepastian kapan akan dilaksanakannya piala Menpora 2015 tersebut.
“Kita lihat dulu, karena penyelenggaraan ini menggunakan dana yang besar dan kita masih menunggu kabar dari pusat, Dan kita akan kembali dudukan masalah ini dengan Menpora,” ungkap Ketua pelaksana, Basuri saat dimintai keterangan kapan piala Menpora ini digelar.
Basuri belum berani memastikan jika Agustus ini akan dilaksanakan. “Kita lihat dulu, Saya belum yakin, tapi secara umum untuk memfasilitasi lapangan kita sudah siap,” kata Basuri.
Saat ini, ada 33 provinsi yang telah diundang, untuk menentukan calon wakilnya ke LIDI atau piala Menpora tersbeut. Satu Provinsi masih absen adalah Kalimantan Utara, karena masih dalam tahap pembentukan kepengurusan di daerah.
Terakhir, panitia pelaksana yang ada di Beltim, sudah mengadakan rapat, tepatnya pada saat bulan puasa lalu. Dengan hasil dan sudah dilakukan pembagian wilayah (Drawing-red) dan lapangan di Beltim. Dari data yang dihimpun harian ini sebelumnya sudah ada 8 Group dengan masing masing Group dihuni oleh 4 klub/Provinsi yang akan siap bertanding.
Ketua Basri, Edy Sofyan sebelumnya juga sudah pernah menyebutkan bahwa LIDI nantinya hanya diikuti oleh pemain yang belum terdaftar di PSSI, baik di level pro maupun amatir. Ke depannya, akan ada pembatasan usia, tapi saat ini belum diterapkan.
“Kami ingin pemain asli dari Provinsi itu sendiri. Dari desa yang terpilih itu. Jadi ini benar-benar menggali potensi desa, bukan mencari dari yang sudah ada sebelumnya,” terang Edy Sopian.(feb)