Pelaku Jambret Tak Bisa Mengelak

by -

*Keterangan Saksi Menguatkan, Akhirnya Terdakwa Akui Perbuatannya

TANJUNGPANDAN-Terdakwa kasus jambret, Teguh Rubianto nampaknya sulit untuk mengelak lagi dari tuntutan Jaksa atas kelakuannya yang merugikan pihak lain. sebab, keterangan para saksi yang dihadirkan jaksa dalam Sidang di Pengadilan Negeri Tanjungpendan, Rabu (2/9), kemarin, membuktikan pelaku benar-benar telah berbuat melanggar hukum.
Sidang perdana kasus Teguh Rubianto dipimpin Hakim Ketua Hj Adria Dwi Afanti didampinggi Hakim Anggota Kholid Soroindah serta Riki Perdana Waruwu. Ada tiga agenda dalam persidangan yang terbuka untuk umum ini.

Agenda pertama mendengarkan dakwaan dari Kejaksaan Negeri Tanjungpandan, yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum Rudi Dwi Prastyono. Agenda kedua mendengarkan keterangan tiga saksi dan korban, serta agenda ketiga keterangan pelaku.
Menurut Jaksa Rudi, setelah mendengarkan keterangan saksi-saksi dan penyidik Polres Belitung, Teguh Rubianto didakwa dengan Pasal 362 KUHP Tentang Pencurian. “Ancaman hukuman lima tahun penjara,” ujar Rudi.

Setelah itu, sidang dilanjutkan dengan keterangan para saksi-saksi. Ada tiga saksi yang dihadirkan dalam persidang. Mereka adalah Fitriani (korban), Yusuf (saudara korban), Sulina (teman kerja terdakwa, yang juga membeli hape curian ini).
Dari pengakuan Fitriani di hadapan Majelis Hakim, awalnya ia hendak menuju ke arah Membalong sekitar pukul 16.00 WIB. Setiba di arah Cerucuk, dia mendapat telepon dari teman. Saat mengangkat telepon, secara tiba-tiba wanita ini dipepet oleh terdakwa.

“Awalnya kami curiga, orang ini membuntuti saya. Secara tiba-tiba dia memepet saya, dan mengambil tas milik aku yang pada saat itu, aku taruh di daerah dekat kontak kunci motor,” ujar Fitriani kepada para hakim dan JPU.

Dirinya mengaku terkejut usai pelaku mengambil tas miliknya. Mengetahui tasnya diambil, wanita yang mengaku sebagai biduan di Belitung ini langsung mengejar terdakwa. Wal hasil penyanyi asal Jalan Murai Air Raya ini gagal mengejar tersangka.

“Usai kejadian saya menelepon saudaraku Yusuf, untuk meminta bantuan. Setelah itu, kami menuju ke Polres Belitung untuk melaporkan kejadian ini. Barang miliknya yang diambil berupa HP dua buah dan uang sebesar Rp 500 ribu,” pungkasnya.

Senada dengan pengakuan Fitriani, Yusuf pun juga mengatakan hal yang sama. “Saat itu, saya ditelepon Fitri, dan dia meminta tolong lantaran habis dijambret. Setelah itu, kita langsung ke Polres Belitung,” ujar Yusuf.

Sementara itu, dari pengakuan Sulina mengatakan, saat itu ia butuh hape dan menanyakan kepada terdakwa. “Ada gak hape yang murah. Lalu terdakwa menjawab, saya ada hape merk Samsung, tapi cuma bisa buat sms dan telepon aja,” ujar Sulina.

Setelah itu, keduanya melakukan tawar menawar. Awalnya terdakwa menjual dengan harga Rp 100. Namun, oleh Sulina ditawar menjadi Rp 80 ribu. Akhirnya, terjadilah jual beli hape tersebut. Setelah beberapa hari hape ini dipakai, dia dikejutkan dengan kedatangan beberapa polisi di kediamannya di Jalan Patimurra.

“Tim Buser ini datang menemui saya dan meminta hape tersebut. Saya kaget dan tidak tahu, kalau hape yang selama ini aku beli, ternyata barang hasil curian. Setelah itu saya diperiksa Polres Belitung,” ujarnya.

Teguh membenarkan, semua apa yang dikatakan Jaksa, Korban dan beberapa saksi. Menurutnya, uang dari hasil pencurian itu, digunakan untuk membayar kredit motornya, yang belum lunas. “Uangnya buat bayar motor perbulan Rp 1,5 juta,” katanya.

Dijelaskan Teguh di hadapan Jaksa, dia mengaku telah melakukan perbuatan jambret ini. Sebelum menjambret Fitriani, ia menunggu target di depan Bank BRI Simpang Membalong. Setelah korban melintas, ia membuntuti pelan-pelan.

Setiba di lokasi dan kondisinya sepi, pelaku langsung melancarkan aksinya, dengan cara memepet korban. Setelah itu, mengambil tas tersebut dal langsung kabur ke arah Cerucuk. Setelah kondisi aman, pria asal Kebumen ini langsung mencari tempat sepi untuk mengitung hasil curiannya.

Dari hasil curiannya ia mendapatkan, uang sebesar Rp 500 ribu dan dua unit hape. Untuk menghilangkan jejak, dia membuang tas tersebut ke Sungai di Kawasan Cerucuk. “Tas beserta surat-suratnya aku buang ke sungai. Dan hapenya ada satu saya jual,” pungkasnya.(kin)