Pembangunan Bandara Internasional Ditolak

by -

*Warga Desa Padang Ragukan Kejelasan dan Kemampuan PT BIA

????????????????????????????????????
????????????????????????????????????

Dialog warga Desa Padang Manggar, dengan pihak PT.BIA dalam rangka pembahasan pengembangan dan pembangunan bandara Internasional, Kamis (27/8) kemarin.

MANGGAR – Warga Desa Padang, Kecamatan Manggar Kabupaten Belitung Timur (Beltim), menolak pembangunan dan pengembangan proyek bandar udara Internasional yang rencananya akan dibangun di kawasan desa tersebut.

Penolakan disampaikan dalam sosialisasi awal pengembangan proyek bandar udara Internasional yang dilakukan oleh PT.Belitung Internasional Airport (PT.BIA) di ruang Serbaguna Desa Padang Manggar, Kamis (27/8) kemarin.

Hadir pada acara sosialiasi tersebut, perwakilan gruop PT.BIA, Asisten I Bupati Beltim, Sarjano, Kepala Tapem Setda Beltim, Yuspian, dan SKPD lainnya, serta Kades Padang, Dean Setiawan, Ketua BPD Desa Padang, dan warga masyarakat Desa Padang Manggar.

“Kami hanya minta kejelasan lahan dan juga perusahaan yang akan mengembangkan proyek bandara ini. Karena kami merasa belum perlu di desa kami memiliki Bandara, banyak hal dan teknis yang bisa kita lakukan dan siapkan segalanya. Saya merasa di Desa Padang ini, apakah ada lahan desa seluas yang diinginkan oleh pihak perusahaan yang akan mengerjakan proyek tersebut,” ungkap Ketua BPD Desa Padang, Eko Putra Jaya.

Eko, juga sangat meragukan akan adanya pembangunan bandara Internasional. Sebab menurutnya cukup lah bandara saat ini ada di Tanjungpandan Kabupaten Belitung. Keraguan diungkapkan Eko pada PT.BIA yang melampirkan fotokopy dokumen perusahaan tertera Akta pendirian PT.BIA baru beberapa bulan lalu. Tepatnya, tanggal 4 Mei 2015 lalu yang berdasarkan surat Menkumham nomor AHU-2439247.AH.01.01 Tahun 2015 tertanggal 18 Mei 2015.

“Saya meragukan PT.BIA apakah perusahaan yang baru didirikan beberapa bulan lalu akan mampu membangun proyek yang bernilai hingga Triliunan. Dan ┬ájuga saya sudah membuka dan membaca Permen Perhubungan nomor 20 tahun 2014, tentang tata cara dan prosedur penetapan lokasi bandar udara. Pada intinya kami sangat setuju jika ada bandara di Beltim ini, tapi harus sesuai dengan apa yang direalisasikan dan sesuai prosedur,” ujar Eko.

Tak hanya Eko, penolakan juga disampaikan mantan kepala Desa Padang, Sujiman. Ia mempertanyakan apakah lahan yang diminta Pemda sudah mendapatkan izin dari masyarakat. Sebab, yang dia ketahui lahan milik desa seluas kurang lebih 558 Ha sesuai yang tertera dilampiran akan dibangun untuk pembangunan bandara Internasional.

“Kami juga menolak, karena kami merasa cukup bandara yang ada di Tanjungpandan yang bisa ditempuh dengan waktu 1 jam hingga 45 menit masih bisa diandalkan. Banyak proyek yang akan dibangun tapi belum juga terselesaikan. Contoh ruas jalan dari depan Polres Beltim hingga ke arah Kecamatan Gantung saja belum dilebarkan, mengapa tiba tiba mau membuat lapangan udara,” tanya pria yang akrab disapa Jiman.

Sementara itu perwakilan PT BIA, Andrew Suryali merasa kaget, atas penolakan yang disampaikan beberapa warga desa tersebut.
“Sebenarnya kami mewakili group perusahaan yang akan terlibat pada pengembangan pembangunan bandara Internasional di Beltim. Sebab, basis kami dalam bekerja bahwa memang ada titik temu jalur-jalur penerbangan di daerah ini. Dan interseksinya ada di jalur penerbangan Singapura. Dan kami melihat Beltim memiliki kesempatan yang sangat besar, karena jika airport bisa keluar dan itu sangat menguntungkan bagi Beltim sendiri,” papar Andrew saat ditemui harian ini usai kegiatan sosialisasi dengan warga Desa Padang.

Ia mengaku perusahaan BIA memang baru saja berdiri. Dan saat ditanya apa saja pengalaman yang sudah dibangun oleh PT.BIA tersebut, ia mangatakan bahwa PT.BIA memang belum punya pengalaman. Namun, ia membantah PT.BIA tidak bisa mengerjakan proyek tersebut. Kemenhub baru mengeluarkan izin tahun 2009 lalu untuk perusahaan swasta yang bergerak di bidang penerbangan.

“Memang kami akui, bahwa PT.BIA baru berdiri namun kami berada di belakang kontraktor kontraktor yang sudah berpengalaman. Kami punya rekan China Contractions adalah perusahaan penerbangan raksasa yang sudah terbukti banyak membangun suatu bandara, pelabuhan, tol dan lain lain, kami punya miliki itu,” terangnya.

Sedangkan saat ditanya berapa anggaran yang akan dikeluarkan jika akan dibangun suatu bandara Internasional, Andrew tidak berani mengatakan akan memakan berapa biaya.

“Yang pasti triliunan, sebagai patokannya untuk membangun runway dan memanjangkan landasan bandara yang hanya berjarak 50 meter memakan dana sebesar kurang lebih 1,1 Triliun,” jelasnya.

Pembangunan bandara Internasional merupakan ide yang diciptakan Pemkab Beltim, melalui Bupati Beltim. Karena itu ia sangat kagum dengan sosok Bupati Beltim atas misinya untuk membangun suatu bandara Internasional di Beltim.

Andrew menganggap ini belum bagian dari sosialiasi, karena ke depan akan ada lagi pembahasan pembahasan lainnya. PT.BIA akan memproses semuanya rencana pembangunan bandara internasional di pusat dengan melakukan studi studi kelayakan. Menurutnya keseriusan PT.BIA untuk membangun dan mengembangkan bandara Internasional ini akan terlihat pada saat mereka mengirimkan tim tim teknis dan adminitrasi untuk mempelajari daerah ini. Itu diperkirakan akan memakan waktu ekstimasi di kemenhub kurang lebih dua tahun ke depan.

Sebelumnya diakuinya, pemerintahan pusat juga sudah mewacanakan ini. Sehingga pihaknya sangat optimis menawarkan proyek yang tidak menggunakan biaya dari pemerintah tersebut.

“Dan ini semua biayanya dari kami, tidak sama sekali menggunakan dana pemerintah pusat, dan daerah. Maka dari itu jika ini terjadi kami yang akan mengoperasikan bandara tersebut dan Pemkab Beltim hanya akan mendapatkan PAD, dan juga sebuah bentuk kerjasama lainnya,” tutup Andrew. (feb)