PEMBENTUKAN KAMPUNG (Bagian Kedua)

Oleh : Akhmad Elvian
Sejarawan Bangka Belitung
Penerima Anugerah Kebudayaan

iklan swissbell

——————————————–

Penduduk asli yang tinggal di kampung-kampung pulau Bangka (Bankanese) sering disebut dengan Orang Darat atau Orang Gunung (hill people). Menurut Residen Inggris untuk Palembang dan Bangka M.H. Court, orang Darat atau orang Gunung memiliki karakter dan sifat yang baik: “The character of the Orang Goonoongs, or natives of Banca, may be expressed in a few Words. They are an honest, simple, tractable, and obedient people; in personal appearance much more attractive than the same description of people at Palembang” (Court, 1821:214), maksudnya: karakter Orang Goonoongs (orang Gunung), atau penduduk asli pulau Bangka, dapat diekspresikan dalam beberapa kata. Mereka adalah orang yang jujur, sederhana, penurut, dan patuh; dalam penampilan pribadi jauh lebih menarik daripada orang yang sama di Palembang. Tampaknya M.H. Court membandingkan karakter orang Darat atau orang Gunung yang tinggal di pulau Bangka dengan orang-orang yang sama di daerah Palembang, terutama orang-orang yang tinggal di daerah Uluan Palembang. Pendapat M.H. Court ini setidaknya dapat dijadikan sebagai ciri atau karakter umum dari orang Bangka. Sebutan orang Darat atau orang Gunung, lebih ditujukan untuk membedakan dengan penduduk asli pulau Bangka Orang Laut/Orang Sekak atau Pengembara Laut (sea dweller) yang tinggal mengelompok atau bergerombol dalam 4 hingga 5 perau (perahu) dan hidup berpindah-pindah dari pulau-pulau kecil, gosong, selat, tanjung dan teluk.

Panggung berdiri atas memarung,
Rabungnya diramu berbilah kayu,
Bubung berciri atap bersambung,
Marwahnya bertemu tuah Melayu.

Orang Darat atau orang Gunung pribumi Bangka di samping kehidupannya berladang atau berume, mereka juga mencari dan mengumpulkan hasil-hasil hutan seperti madu, lilin, damar, rotan, kemenyan, gaharu, opih Pinang dan kayu wangi. Hasil-hasil hutan tersebut di samping untuk dikonsumsi oleh rumah tangga keluarga batih, juga untuk ditukarkan dengan kain atau pakaian kasar, garam dan kebutuhan pokok lainnya. Perempuan-perempuan orang Darat pribumi Bangka di samping bekerja di Ladang atau Ume, mereka juga menghasilkan barang-barang kerajinan tangan (kriya) berupa anyaman seperti Tikar Kajang, dan peralatan rumah tangga lainnya. Pada saat pulau Bangka di bawah kesultanan Palembang Darussalam masa Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam (memerintah Tahun 1659-1706 Masehi), penduduk pulau Bangka diwajibkan juga untuk menanam Lada (Sahang). Kebijakan ini diterapkan sultan untuk seluruh wilayah kekuasaannya, baik di wilayah Sindang, Sikap/sikep maupun di wilayah Kepungutan.

Baca Juga:  Revolusi Digital, dan Upaya Mengendalikan Inflasi

Sebelum ditemukannya Timah, penduduk pribumi pulau Bangka, juga bekerja mencari bijih Besi untuk dijual dengan dibuat Parang, Pahat, senjata perang dan peralatan dari bahan Besi lainnya, serta untuk dijadikan upeti yang dipersembahkan kepada sultan Palembang. Teknologi penambangan Besi inilah yang menjadi cikal bakal teknologi penambangan Timah pribumi Bangka yang disebut dengan teknologi “Tobo-alih”. Penduduk pribumi Bangka mencari Timah dengan cara menggali lubang (Melayu: tebuk/tebok/tobo) selebar dan sedalam sekitar Enam kaki, sampai ditemukan bijih Timah yang kemudian diangkut menggunakan keranjang ke sungai terdekat untuk dimurnikan (dipisahkan dari tanah dan pasir) dengan cara dilimbang menggunakan alat yang sederhana terbuat dari kayu yang dibentuk mirip seperti Dulang. Setelah kandungan Timah pada lubang yang digali habis, penduduk pribumi Bangka akan pindah/menggeser (Melayu: alih/ale) penggalian ke bagian tanah di sisinya mengikuti alur urat Timah.

Ketika Timah dan Lada menjadi komoditas yang laku di pasaran dunia dan menjadi sumber penghasilan kesultanan Palembang Darussalam, terutama masa sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago (Tahun 1702-1712 Masehi), sultan mulai membuat kebijakan membangun kota-kota (benteng pertahanan) di wilayah pesisir Barat pulau Bangka yang berfungsi untuk melindungi parit-parit sebagai pusat penambangan Timah dan juga berfungsi untuk melindungi pemukiman penduduk.

Kota atau benteng yang didirikan umumnya difungsikan untuk menghadapi serangan bajak laut (zeerovers) yang merampok Timah dan merampok penduduk untuk dipekerjakan sebagai budak. Salah satu pengertian kata “kota” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah dinding atau tembok yang mengelilingi tempat pertahanan. Umumnya kota atau benteng yang didirikan kemudian berkembang dengan pesat menjadi kawasan pemukiman penduduk dan membentuk perkampungan. Kampung-kampung yang terbentuk dari pendirian benteng masa itu adalah kampung-kampung yang terletak di sekitar Bangkakota,

Kotawaringin, Kota Mentok, dan Kota Toboali yang berada di pesisir Barat pulau Bangka. Pendirian kota-kota di pesisir Barat pulau Bangka dilakukan sebagai bentuk kebijakan dari sultan Palembang terhadap daerah Sindang, yaitu satu daerah yang memiliki kewajiban untuk melindungi wilayah perbatasan dari serangan musuh. Karena keletakan kota-kota yang dibangun sangat strategis, maka kota-kota ini kemudian tumbuh dan berkembang sebagai kawasan perkampungan penduduk dan sekarang kota-kota tersebut bahkan berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya di pulau Bangka.

Pada masa Susuhunan Sultan Mahmud Badaruddin I Jayowikromo berkuasa (Tahun 1724-1757 Masehi), mulailah didatangkan pekerja-pekerja tambang Timah orang Tionghoa dari, Johor, Siantan, Vietnam, Laos, Kamboja dan dari Semenanjung Malaka ke pulau Bangka. Mereka yang datang umumnya adalah kerabat dari Baniah/Lim Ban Nio, istri sultan Mahmud Badaruddin I Jayowikromo yang berasal dari Siantan. Teknologi baru penambangan Timah, mulai diperkenalkan oleh orang-orang Cina, yaitu “teknologi Kulit” dan “teknologi Kulit Kolong”. Teknologi Kulit membutuhkan waktu yang relatif lama sebelum parit/tambang menghasilkan Timah. Melalui pengikisan terhadap lapisan tanah dengan menggunakan air yang dipompakan dari roda kincir air, parit penambangan Timah, baru dapat menghasilkan biji Timah sekitar Tujuh bulan. Proses pembangunan parit penambangan Timah dengan teknologi Kulit yang membutuhkan waktu yang relatif lama, menyebabkan pekerja Tambang harus tinggal dan berada di lokasi atau di sekitar parit penambangan Timah. Untuk tempat tinggal pekerja-pekerja penambangan Timah didirikanlah barak atau bedeng-bedeng pekerja. Bangunan bedeng sebagai tempat tinggal pekerja tambang Timah sering disebut dengan istilah “rumah kepung”, karena rumah bedeng ditempati secara bersama-sama. Lambat laun lokasi bedeng dan di sekitar paritpun berkembang menjadi pemukiman penduduk dan membentuk perkampungan. Banyak sekali kampung-kampung di pulau Bangka yang didirikan di sekitar lokasi tambang dan umumnya kampung-kampung tersebut adalah perkampungan orang-orang Cina. Kampung-kampung tersebut kemudian diberikan nama (toponimi) sesuai dengan ciri dan karakteristik lokasi pertambangan, dan ada juga diberikan nama berdasarkan nomor dari tambang Timah. Di samping kampung didirikan di dekat lokasi pertambangan, ada juga kampung yang didirikan di bekas pertambangan Timah (verlatyn mijn) dan kampung yang didirikan di lokasi tempat peleburan Timah yang disebut oleh pribumi Bangka dengan sebutan “puput”. Hampir di setiap distrik di pulau Bangka terdapat lokasi peleburan Timah dan bekas lokasi peleburan Timah tersebut kemudian berkembang menjadi kampung yang disebut dengan “kampung Puput”. Kampung-kampung yang berdiri di dekat tambang dan di bekas tambang Timah hampir tersebar luas di seluruh pulau Bangka, baik di wilayah geografis pesisir Barat maupun di wilayah pesisir Timur pulau Bangka. Biasanya kampung-kampung yang didirikan orang-orang Cina terkait penambangan Timah diberikan nama (toponimi) menggunakan bahasa Cina dialek Hakka. Pribumi Bangka orang Darat/orang Gunung juga memberikan nama tersendiri kepada kampung-kampung Cina tersebut dengan menggunakan bahasa Melayu Bangka. Tidaklah mengherankan bila di pulau Bangka, satu kampung bisa memiliki dua nama, satu dengan nama bahasa Cina dialek Hakka dan satunya lagi dengan nama dalam bahasa Melayu Bangka (bersambung).

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply