Pemerintah Harus Peka Warisan Budaya

by -

*Harusnya Masyarakat Mulai Mencatat Warisan Budaya

Lien Dwiari Ratnawati
Lien Dwiari Ratnawati

TANJUNGPANDAN-Pulau Belitung banyak memiliki warisan budaya sejak zaman dulu. Warisan-warisan itu, saat ini belum semuanya tercatat sebagai warisan budaya. Misalnya pada Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Budaya tak benda sendiri merupakan hasil perbuatan dan pemikiran yang terwujud dalam identitas, ideologi, mitologi. Atau ungkapan konkrit dalam bentu suara, gerak, gagasan yang termuat dalam benda, prilaku, kepercayaan, dan adat.
Kasbubdit Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Lien Dwiari Ratnawati mengatakan, Indonesia sangat kaya warisan budaya. Sayangnya banyak potensi WBTB yang memiliki nilai jual, tapi belum tercatat.
Di Bangka Belitung ada beberapa WBTB yang sudah dicatat dan ditetapkan. Yaitu dambus, muang jong, adat nganggung, canmpak dalong, taber kampung, perang ketupat, tari kedidi, adu kereto surong, kain cual, adat nujuh jerami, maras taun, kopiah resaman, lempah kuning, dan upacara ruwah kupur.
Peran masyarakat sangat penting. Agar tidak luntur perlu pencatatan dari masyarakat. Ia mengatakan, pencatatan sebuah WBTB boleh dilakukan siapa saja.
“Pertama dicatat, kalau dicatat semua oleh boleh melakukan pencatatan. Tetapi ketika mau diusulkan ingin ditetapkan, itu harus diusulkan oleh pemerintah daerah,” kata Lien usai menjadi narasumber Sosialisasi Pencatatan Kekayaan Budaya Tak Benda Indonesi di Bahamas Hotel, Kamis (28/4) kemarin.
Kegiatan pencatatan oleh pemerintah pusat sudah dilakukan sejak tahun 1976 silam. Kegitan meliputi WBTB. Namun, ketika ingin ditetapkan harus memenuhi kriteria. Misalnya tradisi lisan, bahasa, naskah kuno, permainan tradisional, ritual, kerarifan lokal, teknbologi, kain tradisional, kuliner, pakaian adat, senjata adat.
“Tapi ketika ditetapkan, seleksinya lebih ketat lagi. Karena ketika kita catat, apa saja kekayaannya bisa kita catat. Ketika kita mau menetapkan harus ada kriteria yang harus dipenuhi. Begitu lagi jika ingin lebih tinggi lagi, misalnya di tingkat dunia (Unesco),” jelasnya.
Hanya, ketika penetapan, andil yang paling besar berada di pemerintah daerah. Pemerintah daerah harus peka. Dan merekalah yang mengusulkannya. Karena upaya pelestariannya disana.
Ia tidak memungkiri banyak yang belum tercatat. Di Belitung misalnya seperti campak darat, lesong panjang, tari selamat datang, dan masih banyak lagi.
“Jadi mungkin belum dicatat, atau belum dicatat masyarakat. Maka kita ingin masyarakat mencatat, sangat penting mencatat. Tentu saja ketika tercatat, kita ingin pemerintah daerah menghidupkan kembali melalui festival, pameran. Kalau sudah ditetapkan kita bisa bawa, kita bisa perkenalkan ke dunia luar,” tukasnya.
Pada pemaparannya, saat ini WBTB sejumlah 11.627 benda tak bergerak. Dan 53.538 benda bergerak. Sedangkan WBTB 6.238. Inilah yang baru tercatat seluruh Indonesia. Pencatatan ini kata dia sebagai upaya perlindungan dan memantapkan jatidiri bangsa.
Pada sosialisasi tersebut muncul bebagai pertanyaan. Salah satunya dari Akademisi, Mirza Dalyodi. Ia menceritakan dulu ada tarian bujang dan dayang Belitong. Sayangnya tari itu tidak pernah lagi dimainkan. Padahal, tarian itu salah satu warisan budaya Belitong. “Kenapa tidak dicatat dan ditetapkan. Mumpung penari-penarinya dulu masih ada,” kata Mirza.
Sementara peserta lainnya Zuhaidi berpendapat, Gangan Ketarap bisa saja ditetapkan sebagai WBTB. Alasannya selain kuliner ini unik, juga tidak terdapat di daerah lain. Kuliner sejenis memang tercatat di WBTB yaitu Rempah Kuning.
“Saya sudah ke luar negeri dan beberapa daerah di Indonesia. Tapi Gangan Kepala Ketarap ini tidak ada di manapun. Bahkan di Babel, kecuali di Belitung,” ujarnya.
Sayangnya, waktu yang terlalu singkat membuat beberapa peserta tidak diberi kesempatan lagi menyampaikan pendapat di forum. “Maaf pak waktunya sudah lewat. Kita harus istirahat dulu nanti dilanjutkan narasumber lain,” kata moderator.
Sementara Asisten III Setda Kabupaten Belitung Darma Bakti meminta kepada masyarakat dan dinas terkait mulai melakukan pencatatan warisan budaya. Ini penting, terutama untuk kepentingan pengembangan pariwisata Belitong.
“Tolong ikuti sosialisasi ini biar paham apa saja yang harus dicatat. Harapannya sesudah ini mulai mencatat apa saja warisan budaya yang bisa menunjang pariwisata Belitung ke depan,” kata Darma dalam sambutannya membuka sosialisasi. (ade)