Penerimaan Siswa Baru, Beltim Tetap Pakai Pola Lama

by -

MANGGAR – Pemerintah akan memulai menerapkan sistem zonasi dalam penerimaan murid baru mulai tahun ajaran 2017/2018. Kebijakan ini untuk mengatasi para pelajar untuk berburu masuk ke sekolah-sekolah favorit yang jauh dari tempat domisili atau keluar dari daerahnya.

Menanggapi hal itu, Kepala SMAN 1 Manggar Dian Iryani, saat ditemui wartawan, Selasa (25/4) kemarin, membenarkan bahwa wacana penerimaan siswa baru berdasarkan zonasi ini sudah dibahas di Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Babel.

Menurut Dian, ketentuan zonasi itu hanya bisa diterapkan di wilayah-wilayah tertentu seperti wilayah perkotaan. Artinya ketentuan tersebut dinilai sulit diterapkan di Beltim.

“Kalau di Pangkalpinang misalnya, itukan banyak sekolahnya itu memungkinkan. Dan di Beltim misalnya, Kecamatan Dendang, Simpang Pesak, dan Kecamatan Kelapa Kampit, SMA/SMK-nya cuma satu. Termasuk Manggar. Jadi kemungkinan ketentuan itu diberlakukan di kota-kota besar. Artinya ada pengecualian,” ungkap Dian.

Dalam rapat tersebut, Sebut Dian, Dindik Pemprov Babel akan mengeluarkan Surat Keputusan terkait ketentuan penerimaan siswa baru 2017/2018. Adapun, tahun ajaran baru nanti, SMAN 1 akan menerima 171 siswa baru untuk tujuh kelas mereka.

“Dan, teknis penerimaan, masih akan dirapatkan dulu di tingkat sekolah. Sekolah sebelum ada keputusan itu mengajukan persyaratan-persyaratan masuk sekolah dikirim ke Provinsi dulu. Tahun ajaran baru ini kami akan terima 171 siswa baru, kalau tahun lalu pakai nilai prestasi akademi dan non-akademik. Kuota itu pun masih kurang, artinya kami masih punya daya tampung lebih. Begitu memang kalau di daerah,” terang Dian.

Sementara itu, Kepala SMKN 1 Manggar, Suhardianto menilai ketentuan penerimaan siswa baru berdasarkan zonasi atau rayon memang sulit diterapkan untuk SMK yang bisa dibilang merupakan sekolah khusus. Sebab, alasan siswa memilih SMK bukanlah karena dekat jauhnya lokasi sekolah, melainkan lebih karena program keahlian yang diminati.

“Orang masuk SMK kan bukan berdasarkan letaknya, tapi karena minat pada program keahliannya,” terang Gito sapaan akrab Suhardianto saat dihubungi, Selasa (25/4) kemarin.

Gito juga menilai rencana Pemerintah untuk membuat ketentuan penerimaan siswa baru berdasarkan zonasi mungkin tidak terlalu mendesak untuk diterapkan di Beltim khususnya. Pasalnya, zona di Beltim dinilai tidak begitu luas dan siswa peminat sekolah di luar kecamatan domisilinya pun dinilai tidak terlalu banyak.

“Paling tidak lebih dari 10 orang. Kemudian kami dapat menghitung setiap lulusan SMP setiap zona itu tidak banyak yang melanjutkan ke luar wilayahnya,” ucap Gito.

Di sisi lain, Koordinator SMA/SMK Dindik Provinsi Babel di Kabupaten Beltim, Dalifah juga menyebutkan, rencana penerimaan siswa baru 2017/2018 sudah dibahas oleh Dindik Provinsi Bangka Belitung. Rencana tersebut sudah dibahas di dalam rapat Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA/SMK yang dihadiri oleh Dindik se Provinsi Babel.

Dindik Babel pun menurutnya, sudah mengambil keputusan yakni tidak ada ketentuan penerimaan siswa baru berdasarkan zonasi, setidaknya di Beltim.

“Itu tetap menggunakan pola lama, misalnya menggunakan prestasi akademik, hasil ujian nasional, dan pakai kuota. Jadi misalnya SMA meluluskan 300 lulusan, tahun depan mereka harus menerima siswa dengan jumlah yang sama,” tutupnya. (feb)