Pengembangan Budaya Religius Di Sekolah

by -

Oleh : Heriyanto,S.H.I.
(Guru PAI SMP Negeri 4 Gantung)

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan. Dengan pendidikan bisa memajukan kebudayaan dan mengangkat derajat  bangsa di mata internasional. Pendidikan akan sangat terasa gersang apabila tidak berhasil mencetak sumber daya manusia yang berkualitas (baik segi spiritual, intelegensi, dan skill). Sehingga diperlukan peningkatan mutu pendidikan supaya bangsa ini tidak tergantung pada status bangsa yang sedang berkembang tetapi bisa menyandang predikat bangsa maju.Untuk memperbaiki kehidupan bangsa harus dimulai dari penataan dalam segala aspek dalam pendidikan, mulai dari aspek tujuan, sarana, pembelajaran, manajerial dan aspek lain yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk mempersiapkan pendidikan yang mampu meyiapkan Sumber Daya Manusia yang memiliki moralitas yang tinggi. Karena bagaimanapun juga Pendidikan dan moral adalah dua pilar yang sangat penting bagi teguh dan kokohnya suatu bangsa. Dua pilar ini perlu untuk dipahami secara mendalam dan bijaksana  oleh semua elemen bangsa ini dari masyarakat maupun pemegang kebijakan dan pelaksana pendidikan. Dalam suatu negara yang sedang berusaha lepas dari badai krisis, sangatlah tepat apabila kita mencoba untuk melihat kembali posisi dan interrelasi dua pilar ini bagi bangsa Indonesia. Pendidikan merupakan salah satu media yang paling efektif untuk melahirkan generasi yang memiliki pandangan yang mampu menjadikan keragaman sebagai bagian yang harus diapresiasi secara konstruktif. Pendidikan dengan paradigma pluralis – multikultural menjadi kebutuhan yang amat mendesak untuk dirumuskan dan didesain dalam pembelajaran.Pendidikan semacam ini memiliki konstribusi dan nilai signifikan untuk membangun pemahaman juga kesadaran terhadap substansi dan nilai-nilai pluralis-multikulturalitas.

Pendidikan sejatinya merupakan proses pembentukan moral masyarakat beradab, masyarakat yang tampil dengan wajah kemanusiaan dan pemanusiaan yang normal. Artinya, pendidikan yang dimaksudkan di sini lebih dari sekedar sekolah (education not only education as Schooling) melainkan pendidikan sebagai jaring-jaring kemasyarakatan (education as community networks). Pendidikan diharapkan bisa memberikan sebuah kontribusi positif dalam membentuk manusia yang memiliki keseimbangan antara kemampuan intelektual dan moralitas.Dengan mensejajarkan dua komponen ini pada posisi yang tepat, diharapkan bisa mengantarkan kita untuk menemukan jalan yang lurus, shirat al-mustaqim. Jalan yang akan dapat membuka mata hati dan kesadaran kemanusiaan kita sebagai  anak-anak bangsa. Sehingga krisis yang hampir saja menghempaskan kita ke jurang kebangkrutan dan kehancuran, dengan segera dapat dilalui dan cepat berlalu. Krisis moral yang melanda bangsa ini nampaknya menjadi sebuah kegelisahan bagi semua kalangan.Bagaimana tidak dari maraknya kasus korupsi yang tidak pernah surut bahkan mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Di sisi lain krisis ini  menjadi komplek dengan berbagai peristiwa yang cukup memilukan seperti tawuran pelajar, penyalahgunaan obat terlarang, pergaulan bebas, aborsi, penganiayaan yang disertai pembunuhan. Fenomena ini sesungguhnya sangat berseberangan dengan suasana keagamaan dan kepribadian bangsa Indonesia.Jika krisis ini dibiarkan begitu saja dan berlarut-larut apalagi dianggap sesuatu yang biasa maka segala kebejatan moralitas akan menjadi budaya. Sekecil apapun krisis moralitas secara tidak langung akan dapat merapuhkan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Realitas tersebut mendorong timbulnya berbagai gugatan terhadap efektifitas pendidikan agama yang selama ini dipandang oleh sebagian besar masyarakat telah gagal, sebagaimana penilaian Mochtar Buchori bahwa kegagalan pendidikan agama ini disebabkan karena praktik pendidikannya hanya memperhatikan aspek kognitif semata dari pertumbuhan nilai-nilai (agama), dan mengabaikan pembinaan aspek afektif dan konatif-volitif, yakni kemauan dan tekad untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama. Krisis tersebut bersumber dari krisis moral, akhlak (karakter) yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan pendidikan. Krisis karakter yang dialami bangsa saat ini  disebabkan oleh kerusakan individu-individu masyarakat yang terjadi secara kolektif sehingga menjadi budaya. Budaya inilah yang menginternal dalam sanubari masyarakat Indonesia dan menjadi karakter bangsa.Ironis, pendidikan yang menjadi tujuan mulia justru menghasilkan output yang tidak diharapkan. Pendidikan moral menjadi sangat penting bagi teguh dan kokohnya suatu bangsa. Pendidikan moral adalah suatu proses panjang dalam rangka mengantarkan manusianya untuk menjadi seorang yang memiliki kekuatan intelektual dan spiritual sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya di segala aspek dan menjalani kehidupan yang bercita-cita dan bertujuan pasti. Hal ini harus menjadi agenda pokok dalam setiap proses pembangunan bangsa. Pendidikan moral ini bisa diaplikasikan pada penanaman nilai-nilai agama di sekolah.Untuk mewujudkan pendidikan ini, maka penyelenggaraan pendidikan harus memperhatikan penanaman nilai-nilai religius dalam segala aspek aktivitas belajar. Pendidikan agama yang syarat dengan pembentukan nilai-nilai moral (pembentukan afeksi), menurut Mochtar Buchori juga hanya memperhatikan aspek kognitif semata dari pertumbuhan kesadaran nilai-nilai (agama), dan mengabaikan pembinaan aspek afektif dan konatif-volitif, yakni kemauan dan tekad untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama. Pengajaran agama yang berorientasi kognitifsemata hanyalah sekedar pengalihan pengetahuan tentang agama. Pengalihan pengetahuan agama memang dapat menghasilkan pengetahuan dan ilmu dalam diri orang yang diajar, tetapi pengetahuan ini belum menjamin pengarahan seseorang untuk hidup sesuai dengan pengetahuan tersebut. Bahkan, pengalihan pengetahuan agama sering kali berbentuk pengalihan rumus-rumus doktrin dan kaidah susila. Oleh sebab itu, pengajaran agama menghasilkan pengetahuan hafalan yang melekat di bibir dan hanya mewarnai kulit, tetapi tidak mampu mempengaruhi orang yang mempelajarinya.

Melihat fenomena di atas maka solusi yang ditawarkan adalah pengembangan nilai-nilai religius di lembaga pendidikan.Tentunya untuk mengembangkan ini yang menjadi ujung tombak adalah peran guru agama yang harus betul-betul optimal mewujudkan pembudayaan nilai-nilai religius. Dengan demikian pembiasaan nilai-nilai religius di sekolah diharapkan mampu meningkatkan dan memperkokoh nilai ketauhidan seseorang, pengetahuan agama dan pratik keagamaan. Sehingga pengetahuan agama yang diperoleh di sekolah tidak hanya dipahami saja sebagai sebuah pengetahuan akan tetapi bagaimana pengetahuan itu mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengembangan budaya agama dalam komunitas madrasah/ sekolah berarti bagaimana mengembangkan agama islam di madrasah sebagai pijakan nilai, semangat, sikap, dan perilaku bagi para aktormadrasah, guru dan tenaga kependidikan lainnya, orang tua murid, dan peserta didik itu sendiri. Pelaksanaan budaya religius di sekolah mempunyai landasan kokoh yang normatif religius maupun konstitusional sehingga tidak ada alasan bagi sekolah untuk mengelak dari usaha tersebut. Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan agama yang diwujudkan dalam membangun budaya religius di berbagai jenjang pendidikan, patut untuk dilaksanakan. Karena dengan tertanamnya nilai-nilai budaya religius pada diri siswa akan memperkokoh imannya dan aplikasinya nilai-nilai keislaman tersebut dapat tercipta dari lingkungan di sekolah. Untuk itu membangun budaya religius sangat penting dan akan mempengaruhi sikap, sifat dan tindakan siswa secara tidak langsung.

Pendidikan agama di sekolah, tidak saja di madrasah atau di sekolah yang bernuansa islami tetapi juga di sekolah-sekolah umum sangatlah penting untuk pembinaan dan penyempurnaan pertumbuhan kepribadian anak didik, karena pendidikan agama melatih anak didik untuk melakukan ibadah yang diajarkan dalam agama, yaitu praktek-praktek agama yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Karena praktek-praktek ibadah itulah yang akan membawa jiwa anak kepada Tuhannya. Semakin sering dilakukan ibadah, semakin tertanam kepercayaan dan semakin dekat pula jiwa sang anak terhadap Tuhannya. Disamping praktek ibadah, anak didik harus dibiasakan mengatur tingkah laku dan sopan santun baik terhadap orang tua yang lebih tua maupun terhadap sesama  teman sebayannya. Kepercayaan kepada Tuhan tidak akan sempurna bila isi ajaran-ajaran dari Tuhan tidak  diketahui betul-betul. Anak didik harus ditunjukkan mana yang disuruh dan mana yang dilarang oleh Tuhannya. Guru untuk membangun generasi baru yang bermoral dan berprilaku jujur, mulia dan bermartabat demi masa depan bangsa dan negara melalui proses pendidikan, tentunya tidak lepas dari suasana religius yang diciptakan di semua lembaga pendidikan, akan tetapi sampai dimana kesungguhan suatu lembaga dan peran guru yang memiliki kepribadian luhur untuk menciptakan suasana yang religius di lingkungan pendidikan. Penciptaan suasana religius di sekolah dimulai dengan mengadakan berbagai kegiatan keagamaan yang pelaksanaannya ditempatkan di lingkungan sekolah, adanya kebutuhan ketenangan batin, persaudaraan serta silaturrahmi diantara warga sekolah, hal ini tidaklah luput dari peran guru yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhalq mulia, dan meruluskan perilakunya yang buruk bagi anak didiknya.(***)