Penjahit Lisabon

by -
Penjahit Lisabon

Cerpen YETTI A.KA

APRIL dua puluh tahun lalu, Lisabon sampai ke kawasan permukiman orang miskin yang terletak di bawah tempat pemakaman umum dengan aroma kematian menggantung di dahan-dahan kemboja atau kelepak sayap burung hantu, dan menempati petak kecil paling ujung sebuah bedeng kumuh. Barang bawaannya bisa dihitung dengan jari. Satu mesin jahit Singer. Sepasang sepatu. Dua setel pakaian dan dalaman. Sisir. Bedak tabur. Peralatan mandi. Selebihnya, ia membeli barang bekas yang disodorkan para penyewa lain atau membeli obralan di pasar hingga ia nyaris memiliki semuanya sekarang ini. Membuat ruangannya menjadi makin sempit dan ia sering mengeluh kegerahan pada malam hari.

Lisabon tidak menganggap dirinya cantik. Sebuah bekas luka melintang di keningnya, mirip sebuah akar hidup. Lisabon mengaku sengaja melukai dirinya sendiri dalam permainan ”siapa paling berani” antara ia dan sepupunya yang baru datang dari kota, yang meminta ia melakukan ini dan itu; jungkir balik di lantai, makan batang korek api yang sedang menyala, menangkap seekor ular dan memotong-motongnya, dan terakhir menantang Lisabon untuk menggoreskan mata pisau ke keningnya sendiri dan membiarkan darah mengalir turun, membasahi mata, hidung, mulut, dan nyaris seluruh wajah. Dan sepupu Lisabon itu tertawa-tawa menontonnya. Setelah kembali ke kota, sepupunya itu sakit keras dan meninggal dunia di hari kelima di tempat tidur ruang rumah sakit. Kematiannya itu menjadi alasan Lisabon untuk tidak mendendam atau menyimpan marah. Ia menganggap sepupunya itu sengaja ingin meninggalkan sebuah kenangan tidak terlupakan pada dirinya. Sejak berpikir begitu, Lisabon jadi terobsesi pada kota, pada jalan-jalan yang mungkin pernah dilewati sepupunya, pada tiang lampu tempat sepupunya pernah berhenti di bawahnya dan mendongakkan kepala untuk melihat serombongan laron, pada taman dengan bangku dan pohon-pohon rindang –semua yang pernah diceritakan sepupunya dengan penuh kebanggaan kepada Lisabon.

Satu gigi seri Lisabon patah –menurutnya itu terjadi saat ia berusia lima belas tahun, tak sengaja jatuh dari pohon mangga dan mulutnya membentur batu yang ia gunakan sebagai tempat pijakan saat akan memanjat. Kulit tubuhnya cokelat gelap. Perawakannya pendek dan gemuk. Dan itu membuatnya kecewa karena ia mulai memuja model iklan kecantikan di televisi.

Satu-satunya yang ia banggakan adalah sepasang mata besarnya. Mata yang jernih dan berkilat. Mata yang membuat orang betah memandangnya berlama-lama seolah itu adalah sebuah telaga yang airnya bisa diminum dan membebaskan dari rasa haus. Kadang, Lisabon sengaja membiarkan orang menikmati kedalaman mata itu lama-lama, membiarkan mereka mereguk airnya banyak-banyak. Sebab, dengan cara itulah ia bisa bermurah hati. Selain itu, Lisabon seorang yang gemar tertawa. Di kawasan yang lekat dengan kemelaratan itu, tawa seseorang lebih berharga daripada kecantikan. Dengan cepat, Lisabon menjadi kesukaan semua orang. Mereka tertawa bersama. Melupakan sakit menahun yang menggerogoti tubuh atau tumpukan utang di warung atau tagihan pemilik bedeng setiap awal bulan atau caci maki tukang kredit karena tunggakan yang tak kunjung dilunasi. Namun, tingkah Lisabon itu nyaris membuatnya dianggap sebagai pelacur dan beberapa perempuan memusuhinya serta menyebarkan rumor miring tentangnya. Untungnya, dari kecil Lisabon sudah banyak menghadapi yang lebih berat dari sekadar itu.

Tetangga Lisabon pada umumnya buruh lepas di pabrik pembuatan kue milik Bos Besar –mereka menyebutnya begitu karena lelaki itu hampir menjadi pemilik segalanya di tempat itu, termasuk bedeng yang ditempati orang-orang di sana. Beberapa tetangga bedengnya membuat usaha dagang keliling. Jual mi ayam. Bubur ayam. Jajanan pasar. Mainan anak-anak. Lisabon sendiri karena punya mesin jahit peninggalan ibunya yang susah payah ia bawa ke kota mengumumkan dirinya sebagai Penjahit Lisabon. Nama itu ia tulis di atas papan dengan tinta hitam tebal dan digantung di depan pintu. Sejak itu orang-orang berdatangan untuk menyerahkan pakaian-pakaian yang perlu dipermak atau kain untuk dibuat blus, rok, celana, dan lainnya. Dan Lisabon mencatat semua itu di buku khusus, termasuk tanggal pengambilan. Lisabon tidak pernah menetapkan harga untuk tiap pakaian yang dipermak dan memberi harga murah saja untuk jasa jahitnya dan itu membuat orang-orang menyukainya, membuat meja kerjanya tak pernah kosong dan ia selalu sibuk setiap hari –sesuatu yang memang diimpikannya; tinggal di sebuah kota yang pernah ditempati sepupunya, mengembangkan satu-satunya kemampuan yang ia miliki. Rasanya, tak ada lagi yang ia inginkan selain itu sejak ibunya mati ditabrak truk pengangkut pasir dan meninggalkannya sendirian. Hanya, setelah satu tahun ia di kota dan menjadi seorang penjahit, hidupnya tak banyak berubah. Ia masih seperti Lisabon yang pertama kali datang menginjakkan kaki di permukiman itu. Ia masih tak punya apa-apa, selain barang-barang yang nyaris tak ada harganya. Sementara mimpinya telah berkembang jauh. Ia tak lagi sekadar ingin tinggal di kota demi mencari jejak-jejak sepupunya. Itu sudah lama ia lupakan. Lisabon punya harapan suatu hari bisa pulang ke kampungnya dan membawa cerita manis tentang hidupnya sendiri.

***

Lisabon tidak pernah menyangka, suatu hari, seorang tukang cuci yang bekerja di sebuah penatu cukup besar di kota ini berkata kepadanya, menikahlah denganku, hiduplah bersamaku. Tukang cuci itu berperawakan kecil. Kulitnya terlalu pucat. Dua giginya rapuh karena kebanyakan menggigit pangkal rokok. Di permukiman itu, ada beberapa lelaki yang senang menggoda Lisabon, tapi tak ada yang benar-benar menyukainya. Maka, begitu mendengar tawaran dari lelaki itu, Lisabon tak menolak. Mereka menikah sebulan kemudian, tanpa perayaan apa-apa, selain makan malam seadanya di bedeng Lisabon dan dihadiri tetangga kanan dan kirinya.

Pada saat itu Lisabon merasa sudah makin dekat dengan mimpinya. Lelaki itu sama miskinnya dengan dirinya, tapi mereka bisa bekerja lebih keras. Mula-mula mereka merencanakan menyewa sebuah rumah –benar-benar sebuah rumah, lengkap dengan perabot baru. Namun, Lisabon keburu hamil sebelum mereka mengumpulkan cukup uang dan memaksa mereka tetap tinggal di kamar bedeng di permukiman orang-orang miskin itu sampai anak mereka lahir. Bahkan, mereka tetap di sana hingga hari ini, saat anak lelaki mereka sudah berusia delapan belas tahun dan baru saja mengumumkan bahwa ia diterima bekerja sebagai tukang taman.

”Kita pindah dari tempat ini, Mama,” kata anaknya bersemangat. ”Kita akan punya rumah sendiri.”

Seorang tukang taman dari kantor dinas pemerintah merupakan pekerjaan paling bergengsi di mata penghuni bedeng yang sebagian besar tidak bersekolah. Maka, kabar itu segera menyebar sebagai berita gembira. Semua bersukacita untuk keberuntungan keluarga Lisabon. Juga sedikit iri karena keluarga Lisabon akan pindah dan punya rumah sendiri nantinya.

Bos Besar tentu telah mendengar semua itu. Tidak ada berita penting di sekitar bedeng yang luput darinya dan kabar anak Lisabon diterima bekerja sebagai tukang taman itu merupakan kabar buruk baginya. Bos Besar mulai khawatir dengan kesungguhan keluarga Lisabon yang mau pindah dari bedengnya. Selama ini Bos Besar hidup dari uang sewa dan usaha yang melibatkan para penghuni bedengnya. Ia seperti lintah yang mengisap dengan rakus. Sampai-sampai ia begitu gemuk dibuatnya, sementara lelaki-lelaki penghuni bedeng nyaris memiliki badan setipis tripleks. Jika Lisabon sampai lepas dari cengkeramannya, ada kemungkinan suatu hari nanti penghuni lain melakukan hal sama. Mereka akan memiliki semangat untuk punya rumah sendiri atau paling tidak pindah ke rumah kontrakan yang layak.

”Memangnya kalian punya saudara di kota ini?” tanya Bos Besar dalam kunjungannya ke bedeng Lisabon. ”Jika pindah dari sini dan terjadi apa-apa, siapa yang akan menolong kalian?” Bos Besar mengembuskan asap rokok dari mulutnya.

Lisabon hampir saja menyebut keluarga sepupunya yang tak pernah ia kunjungi. Bukan karena tidak ingin berkunjung, melainkan ia tidak pernah tahu di mana tepatnya keluarga sepupunya itu berada. Kota ini cukup luas di mata Lisabon yang lahir dan tumbuh di desa. Sementara ia sendiri tidak ke mana-mana selain di bedengnya atau sesekali menyusuri jalan besar dan pergi ke pasar atau taman.

”Saya tidak bisa menolong jika kalian sampai pindah. Saya tidak punya tanggung jawab lagi untuk melakukan itu,” lanjut Bos Besar setengah mengancam.

Suami Lisabon, si tukang cuci yang akhir-akhir ini terkena batuk parah, mengangguk-angguk tanpa daya. Bos Besar memang menjadi penolong semua penghuni bedeng selama ini. Beberapa kali keluarga Lisabon meminjam uang kepadanya. Meski pinjaman itu berbunga, paling tidak mereka tak pernah pulang dengan tangan kosong saat meminta bantuan kepada Bos Besar. Sebagai orang miskin, mereka tahu betul betapa tidak mudah mendapatkan pinjaman uang di dunia ini.

”Tetaplah di sini,” kata Bos Besar. ”Jangan berpikir mau pindah. Nanti malah mengacaukan semuanya.”

Lisabon hampir saja mau bicara, tapi suaminya yang susah payah menahan batuk menghentikannya. Mereka telah menyerah begitu saja pada kehendak Bos Besar itu.

Mereka menjalani hidup seperti biasa. Suami dan anaknya sejak pukul enam pagi sudah pergi ke tempat kerja. Lisabon yang kehilangan semangat terpaku di tempat duduknya yang menghadap ke luar, ke gang kecil tempat keluar masuk penghuni bedeng yang terletak di belakang. Gerobak bubur ayam lewat di depannya, disusul gerobak mainan anak-anak. Gerobak mi ayam dan bakso akan keluar pukul sepuluh nanti. Setelah itu, gantian motor para pengecer kue yang berdatangan. Mereka yang akan mengangkut kue-kue dari pabrik milik Bos Besar dan mengedarkannya ke warung-warung. Semakin hari rumah milik Bos Besar semakin besar dan tampak mewah dari hasil usaha kue yang memeras keringat para pekerjanya itu. Belum lagi uang setoran macam-macam, ditambah bunga meminjamkan uang. Lisabon mendengus saat terbayang wajah Bos Besar dan keluarganya yang makmur itu.

Buru-buru Lisabon membangkitkan semangatnya lagi. Ia harus tetap menjadi Lisabon yang senang tertawa dan membuat gembira orang-orang yang melihatnya. Dengan setengah berdendang, Lisabon mulai menjahit. Namun, mendadak ia mendengar sebuah teriakan dari dalam rumah Bos Besar. Suara istri Bos Besar yang penyakitan itu tentunya. Lisabon berdiri dan melongokkan kepalanya ke luar pintu. Begitu pula dengan penghuni bedeng lainnya. Entah siapa yang pertama kali mengabarkan, mereka akhirnya tahu bahwa Bos Besar jatuh di kamar mandi dan tidak sadarkan diri. (*)

Rumah Kinoli, 2019

YETTI A.KA, Tinggal di Kota Padang, Sumatera Barat. Novel terbarunya Pirgi dan Misota (2019).

Cerpen ini sudah dimuat di jawapos.com dengan judul Penjahit Lisabon