Penjualan Telur Penyu Masih Cukup Marak

by -

Sudah Diperingatkan, Tapi DKP Tak Kewenangan untuk Menindak

MANGGAR – Penyu merupakan salah satu hewan yang dilindungi. Meski begitu penjualan produk penyu seperti telur, kulit dan dagingnya masih saja dilakukan oleh segelintir oknum masyarakat. Jika sedang musimnya, penjual telur penyu/sisik, sebutan lokal bagi telur penyu dapat ditemui di pasar-pasar tradisional. Bahkan ada juga yang menjual lewat media sosial.

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Belitung Timur (Beltim) mengakui jika penjualan telur penyu masih bisa dijumpai di pasar tradisional di Kabupaten Beltim, khususnya saat musim penyu bertelur. Beberapa petugas pun sempat menegur pedagang di pasar untuk tidak menjual telur penyu.

Staf Pengawas Perikanan DKP Beltim, Romy Mangatur mengatakan di Kabupaten Beltim hidup dua spesies penyu, yakni penyu hijau (Chelonia Mydas), dan penyu sisik (Eretmochelys Imbricate). Bulan Maret atau Barat saat ini, adalah musim penyu bertelur.

“Memang di perairan kita ini habitat penyu cukup banyak, terumbu karang kita kan masih bagus. Makanya kita sudah menyiapkan dua habitat inti konservasi di Pulau Pesemut dan Memperak. Di sana telur-telur penyu sedikit lebih aman dibanding pulau lainnya,” ungkap Romy kepada Belitong Ekspres, Kamis (3/3) kemarin.

Setiap sarang penyu diperkirakan terdapat sekitar 150-200 butir telur. Di pasar di Kabupaten Beltim harga telur dipatok dari Rp 1.500 hingga Rp 3.000 perbutir. Harga ini masih tergolong murah dibanding daerah-daerah lain di Indonesia yakni di kisaran Rp 5.000 perbutir.

Faktor ekonomi dan kandungan gizi tinggi yang terdapat di dalam telur penyu dianggap menjadi alasan utama masyarakat masih memperdagangkan telur penyu. Meski sudah sering diperingatkan masih tetap tak peduli, bahkan poster dan selebaran tentang kampnye larangan penjualan telur sisik banyak yang dicopoti oleh oknum masyarakat.

“Saya memang beberapa kali mendapati penjual berjualan, saya peringatkan biasanya mereka nurut. Dari tahun 2013, Kita juga sudah sering sosialisasi dan memasang himabuan poster di pasar dan beberapa kecamatan tapi sering dilepas, gak tau siapa yang lepas. Kesadaran masyarakat kita masih rendah,” ujar Romy.

Ia menduga pencurian telur sisik dilakukan oleh oknum nelayan kater, mengingat akses nelayan perahu kecil ini dapat dengan mudah merapat ke pulau-pulau. Untuk menindak, Ia mengatakan agak sulit mengingat DKP belum diberikan kewenangan.

“Kalau kapal besar kan agak sulit, karena harus berenang. Kita tidak bisa menindak karena ini adalah kewenangan balai konservasi, belum dilimpahkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan,” katanya.

Terpisah, Ketua Gabungan Pecinta Alam Belitung (Gapabel) Jookie Vebriansyah mengakui jika penjualan telur penyu masih didapati di Pulau Belitung. Bahkan beberapa waktu lalu, Ia pernah memperingatkan salah seorang netizen, karena berjualan telur penyu di media sosial Facebook

“Minggu kemarin kayaknya saya lihat ada yang coba nawarin telur penyu ke kewan-kawannya di Facebook. Terus langsung saya tegur, karena itu jelas-jelas melanggar aturan. Dari pantauan kami, kalau di pasar tradisonal Tanjungpandan, memang sudah jarang, nggak tahu lah, yang sembunyi-sembunyi,” sebut Jookie.

Ia berharap pemerintah akan terus melakukan kampanye sosialisasi kepada masyarakat terkait penjualan telur sisik, sehingga banyak masyarakat paham akan aturan.

“Alasan memang maslah ekonomi, coba misalnya pemerintah ngajak masyarakat untuk donasi telurnya dan membuatkan balai konservasi di tepi pantai. Donasi ini dengan cara mengkarkan telur penyu di penangkaran, terus turis yang datang akan membayarkan anak-anak penyu untuk dilepas ke lautan, jadi lebih besar pemasukannya daripada hanya menjual telur,” pungkasnya. (feb)