Pentingnya Kecakapan Literasi di Abad Ke-21

by -

Oleh : Ares Faujian
Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) Prov. Kep. Bangka Belitung

Literasi, kata yang singkat tersurat namun memiliki makna dalam tersirat. Saking dalamnya, kata ini bisa mempengaruhi kualitas suatu bangsa bahkan peradaban manusia. Wah! Memang terdengar seram, namun inilah kondisi empiris dari eksistensi literasi sebagai salah satu tolak ukur perkembangan dan yang mempengaruhi kualitas suatu bangsa.

Di negara lain, literasi sudah menanjak naik dan telah mengalami fase versi terbaik bagi mereka negara-negara yang maju dan adidaya. Pada negara-negara tersebut seperti Finlandia, Norwegia, Amerika Serikat, Australia, Korea Selatan dan Jepang. Literasi dalam ihwal minat baca mendapat peringkat yang terbaik di benuanya masing-masing. Adalah hal yang lazim ketika berbicara kualitas, karena negara-negara tersebut tidak hanya bisa berekspektasi namun bisa merealisasikan asa-nya menjadi “ada” dan otentik. Indonesia sendiri berada pada zona tragis, yaitu peringkat ke-60 dari 61 negara berdasarkan Studi World Most Literate Nations yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) pada tahun 2016 lalu (Adrianus Yudi Aryanto, 2019 : 64-65).

Jadi apa yang harus kita lakukan dengan keberadaan literasi ini? Memasuki dan berada pada abad ke-21 adalah konsekuensi logis menjadi masyarakat yang dinamis, adaptable, bergerak maju, dan yang terpenting tetap dalam karakter kepribadian asli Indonesia yang melestarikan budaya dan kearifan masyarakat lokal dengan berlandaskan pada Pancasila serta UUD 1945. Karena abad ke-21 adalah era revolusi pengetahuan, teknologi, komunikasi, dan juga jaringan global akan semakin bertambah cepat dengan seiring adanya media berbasis big data dan super IT. Dengan literasi, abad ke-21 bisa kita jalani dengan progres yang signifikan. Asal usaha tersebut bisa tumbuh, berkembang, maju, meluas, terintegrasi, terinternalisasi hingga membudaya (regenerasi).

Miris memang melihat Indonesia dalam minat baca di peringkat ke-60. Namun kita tidak boleh berkecil hati dan terus murung dengan kondisi seperti ini. Kita harus bangkit! Kita harus berjuang! Literasi adalah harga mati untuk kemajuan bangsa ini! Apa saja yang kita perlukan untuk menggapai semua itu? Salah satunya adalah pentingnya kecakapan literasi baca-tulis dari generasi ke generasi hingga lintas generasi. Walaupun literasi dideskripsikan menjadi beberapa dimensi menurut buku panduan Gerakan Literasi Nasional Kemdikbud RI (2016 : 6-7), yaitu literasi baca-tulis, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan. Namun semua dimensi ber-ibu pada literasi dari baca dan tulis. Yang membedakan hanya pada ranah, media, tujuan, dan era. Sehingga semakin seseorang rajin membaca terlebih dengan menulis. Maka dimensi-dimensi literasi lain juga akan berjalan sejalur dengan indeks progres minat baca-tulis dalam suatu bangsa atau negara.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “literasi” memiliki arti kemampuan menulis dan membaca. Bahkan menurut arti yang ketiga KBBI, literasi adalah kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Arti ini memiliki esensi intuisi mendalam yang bermula dari menulis dan membaca, hingga teridentifikasi sebagai kemampuan individu yang berpengaruh pada kecakapan hidupnya.

Artinya, jika seorang individu semakin banyak menulis dan membaca, maka kualitas hidup seseorang akan semakin bertambah dan meningkat. Semakin banyak dan masif pribadi yang seperti itu. Adalah konsekuensi positif yang bisa diraih dalam ihwal progres suatu negara. Ini dibuktikan dengan survei dan penelitian yang berkesinambungan oleh institusi resmi atau independen seperti CCSU,Organisatioon for Economic Co-Operation and Development (OECD), dsb. Sungguh progres indeks literasi merupakan harapan dan cita-cita yang ingin dicapai Ibu Pertiwi menuju Indonesia Emas pada tahun 2045.

Bagaimana cara memperoleh torehan tersebut? Ini adalah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab dengan praktek instan. Upaya harus dilakukan dengan terintegrasi seluruh aspek dan berbagai macam pihak. Literasi harus masuk ke segala lini. Dimulai dari media sosialisasi yang pertama dan utama, yaitu keluarga. Keluarga merupakan pondasi literasi yang abadi dan berkesinambungan. Jadi untuk dasar yang kokoh, keluarga merupakan titik pantau yang harus dijaga keberadaanya. Hal ini bisa dimulai seperti contohnya program literasi yang ada di Jepang, yaitu Ibu membaca selama 20 menit bersama anak sebelum tidur. Terbukti hal ini menjadi ampuh ketika Jepang mendapat peringkat ke-2 terbaik di Asia setelah Korea Selatan dalam hal minat baca menurut data Central Connecticut State University dalam buku Adrianus Yudi Aryanto (2019 : 64).

Selain itu, sekolah merupakan media atau agen sosialisasi yang tak kalah penting dari keluarga dalam literasi. Sekolah (guru) bisa membuat sampah menjadi emas. Mendidik anak dari tidak pandai menjadi pandai. Melatih peserta didik dari tidak bisa menjadi bisa. Membimbing siswa dari tidak terampil menjadi terampil. Karena sekolah adalah agen sosial yang riil visinya dalam memajukan generasi suatu bangsa. Literasi adalah keharusan dan kunci dalam proses yang menentukan hasil akhirnya.

Selanjutnya, masyarakat adalah media sosialisasi yang juga dianggap penting dalam literasi. Mengapa tidak? Setelah sekolah dan berada di keluarga, seorang individu akan bersentuhan langsung dengan masyarakat, jika orang tersebut bukan berperilaku individualistik atau anti sosial. Ketika masyarakat juga memiliki potensi dan proses literasi yang baik, seorang anak juga akan menjadi baik. Terlebih kampung dan kota/kabupaten tersebut dinobatkan sebagai kampung atau kota/kabupaten literasi. Karena ada proses melihat dan meniru dari seorang individu terhadap lingkungannya. Terlebih jika hal tersebut secara mayoritas diikuti oleh warga masyarakat. Tentunya ada rasa berbeda dari yang lain ketika bertindak minoritas bagi seorang individu. Sejatinya, memang manusia memiliki kecenderungan untuk berkelompok dengan lingkungannya dan saling membutuhkan yang dikenal dengan istilah gregariousness. Sehingga masyarakat menjadi media sosialisasi yang juga penting dalam pembentukan masyarakat atau komunitas untuk literasi.

Yang terakhir adalah media massa. Media massa memang salah satu agen sumber literasi. Namun dalam hal ini, media massa haruslah yang mendidik dan terpercaya. Karena kondisi media massa, yang dalam hal ini internet, telah bergeser mengarah ke kebutuhan primer di berbagai kalangan. Semua hal tak kan efektif dan efisien tanpa internet. Internet bisa menjangkau ruang dan waktu. Melampaui keterbatasan manusia sebagai insan yang ketergantungan. Menjajah suatu bangsa yang tak siap dengan era revolusi. Memperdaya kaum yang tak bisa memilih antara berita riil dan berita hoax. Sehingga dalam hal ini, masyarakat dan juga pemerintah selaku elemen penting literasi harus jeli dan bisa memfasilitasi kekurangan, membasmi secara bertahap situs berita hoax dan tak bertanggungjawab. Selain memfilter dengan konten dan program dengan batasan umur. Pemerintah juga wajib mendidik warganya menjadi masyarakat literasi yang cerdas dan antihoax. “Saring Sebelum Sharing” adalah salah satu contoh gerakan dan juga sebuah buku karya Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) yang mengajarkan bahwa sebagai masyarakat literasi kita harus bisa menyaring informasi sebelum dibagikan kepada diri sendiri terlebih dengan orang lain. Proses critical thinking menjadi hal yang wajib demi terciptanya informasi yang benar, baik dan tepat untuk insan dengan kecapakan literasi abad ke-21.

Memang mencapai kecakapan literasi tidaklah mudah dalam abad ke-21. Semua bangsa dan negara berlomba-lomba mengejar ketertinggalan dan ingin menjadi yang nomor satu. Kecakapan literasi menjadi sangatlah penting dalam abad ke-21 dan seterusnya. Semakin cakap seseorang dalam berliterasi, semakin tinggi kualitas pribadi, semakin indah pula masa depan bangsa dan negara nanti. Kita harus berkaca kepada negara-negara yang memiliki minat baca yang tinggi, seperti Finlandia, Amerika dan Korea Selatan. Mengapa negara-negara yang memiliki minat baca tinggi menjadi negara yang berpengaruh di dunia global? Artinya literasi (baca-tulis) adalah proses yang pasti dalam meraih posisi utama dan inti. Karena di dalamnya ada proses baca-tulis hingga reproduksi karya. Sehingga dengan membaca kita akan mengenal berbagai macam ihwal dunia, dan dengan gerakan menulis kita akan dikenal di berbagai belahan dunia (kutipan kata-kata Maksimus Masan Kian, Ketua AGUPENA Flores Timur).

Memasuki dan berada pada abad ke-21 adalah konsekuensi konkret menjadi masyarakat yang dinamis, adaptable, bergerak maju, dan yang terpenting tetap dalam karakter kepribadian asli Indonesia yang melestarikan budaya dan kearifan lokal dengan berlandaskan pada Pancasila serta UUD 1945. Dengan literasi, abad ke-21 bisa kita jalani dengan progres yang pasti. Asal usaha tersebut bisa tumbuh, berkembang maju, meluas, terintegrasi, terinternalisasi hingga membudaya. Dalam hal ini literasi harus masuk ke segala lini, dimulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, media massa, hingga agen-agen sosialisasi lainnya. Proses untuk mencapai kecakapan literasi bisa diperoleh melalui, yaitu : (1) rutinitas dalam membaca buku, (2) fasilitas dan ketersediaan buku yang memadai, (3) diklat dan bimbingan membaca dan menulis, (4) eksistensi komunitas/organisasi/yayasan/kelompok penggiat literasi, (5) pentingnya penelitian dan kompetisi literasi, (6) gerakan atau program literasi untuk berkesinambungan serta keberlanjutan, dan (7) good global networking atau jaringan global yang baik. Semoga tulisan ini menjadi referensi yang bisa berguna bagi kemajuan literasi, terkhusus untuk negara kita Indonesia. Aamiin. Salam literasi!!