Penyalahgunaan Komix dan Aibon Bakal Diatur Dalam Raperda Minol

by -

MANGGAR – Untuk menekan penyalahgunaan obat batuk yang mengandung dexttromethorphan bermerek Komix, dan peredaran lem merek Aibon serta miras tradisional berjenis Arak di Kabupaten Belitung Timur (Beltim), Pansus Minol mengusulkan Rancangan Peraturan Daerah (Perda) tentang Minol yg sedang dibahas memuat materi tersebut.

“Selama ini belum ada sanksi bagi pembuat pengedar dan pecandu arak, dan penyalahgunaan zat-zat adiktif lantaran belum ada aturan khusus begitu juga terhadap Komix dan lem Aibon, nanti Kami akan masukan materinya diperda Minol, sehingga peredarannya di bisa ditekan dan dikontrol,” ungkap Ketua Pansus Minol, Koko Haryanto dalam pers rilis yang disampaikan ke Belitong Ekspres, Senin (20/3) kemarin.

Selain itu Koko juga mengatakan bahwa materi tersebut akan digabung dalam satu Perda, sehingga tidak perlu lagi Perda baru sehingga lebih efektif dan efisien.”Muatan tentang penyalahgunaan zat adiktif, seperti aibon, Komix, dan minuman oplosan, dan lainnya akan Kita gabung dengan Raperda minuman beralkohol, Sehingga menjadi satu-kesatuan dalam melakukan pengawasan dan pengendalian dari distributor hingga ke konsumen yang memakainya,” ungkap Koko.

Untuk itu Koko saat ini sedang merumuskan bahasa hukumnya. Sebab, ini sangat merusak generasi nantinya sehingga perlu dimasukkan dalam Raperda, sehingga penegak Perda dalam hal ini tim terpadu memiliki acuan dalam bertindak di lapangan.

Tidak hanya itu, lanjut Koko, selama ini Komix dan Aibon sudah marak disalahgunakan warga khususnya oleh kalangan remaja untuk mabuk. Itu sering kali ditemukan bungkus-bungkus komik dan aibon berserakan di tempat-tempat umum, semak-semak dan di kebun-kebun yang tersembunyi.

“Kami juga dapat info dari masyarakat bahwa ada tempat-tempat seperti warnet yang tertutup digunakan untuk ngomik. Tentunya hal ini membuktikan jika kalangan remaja di daerah kita sudah banyak yang kecanduan mabuk Komix dan Aibon. Dan ini harus ditindak tegas, karena sudah ada korban yang meninggal dunia,”ujar Koko.

Koko juga mendapat info bahwa BNN dan BNNK juga sudah mensosialisasikan keberadaan zat-zat adiktif yang banyak disalahgunakan di tengah masyarakat saat ini. Oleh karenanya keberadaan Perda ini sangat didukung dari Kementerian untuk disikapi secara tegas di daerah.

“Memang setiap daerah memiliki kasus-kasus berbeda soal penyalahgunaan zat adikti ini, namun dari data dan kajian kami, rata-rata dua jenis merek itu yang banyak disalahgunakan dikalangan remaja, oleh karena itu, ini mutlak kita Perdakan,” tutup Koko. (feb)