Peran Karantina Pertanian dalam Peningkatan Potensi Wisata Belitung

by -

Oleh: Muslihah Nur Hidayati, S.Si.*

 

Negeri Laskar Pelangi. Itulah julukan yang diberikan bagi Pulau Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Daerah yang terkenal akan potensi wisata alamnya yang masih alami, terutama wisata bahari. Dengan bebatuan granit yang terkenal unik. Lengkap dengan Pantai berpasir putih dan lautan biru yang indah. Pesona wisata dari daerah penghasil timah ini cukup menarik minat wisatawan baik domestik maupun asing. Pesona wisata daerah yang menjadi potensi untuk mendongkrak potensi wisata nasional.

 

Negeri Laskar Pelangi menuju Wisata Internasional

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pariwisata setempat, terlihat adanya peningkatan 60% kunjungan wisatawan pada tahun 2014 dari tahun 2013, mencapai 192 ribu wisatawan. Untuk wisatawan asing, terjadi peningkatan tajam sebesar 750% mencapai lebih dari 3.000 lebih di tahun 2014 dibanding jumlah sekitar 451 turis di tahun 2013, walaupun angka tersebut baru mencapai 2% dari total jumlah wisatawan. Untuk itu, perlu kiranya untuk terus meningkatkan potensi wisatawan yang menjadikan Belitung sebagai destinasi wisata bahari yang memiliki keunikan tersendiri.

Kondisi ini menjadi perhatian Pemerintah, baik Pusat maupun Daerah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada kunjungan kerja tanggal 20 Juni 2015 ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, bahwa potensi wisata alam Belitung akan terus dikembangkan. Salah satunya melalui penguatan fungsi Pelabuhan dan Bandara sebagai pintu gerbang utama masuknya para wisatawan. Mengingat kondisi daerah ini yang merupakan wilayah kepulauan, konektivitas antar wilayah mutlak diperlukan melalui perbaikan manajemen transportasi. Bahkan, menurut Pemerintah, pembangunan Bandara H. AS. Hanandjoeddin yang merupakan bandara kebanggaan masyarakat Belitung ini, akan diarahkan menuju ke konsep Bandara Internasional. Dengan begitu, sekaligus membuka peran bagi para investor yang akan bergabung.

Seiring dengan berkembangnya konsep penguatan fungsi Pelabuhan dan Bandara, Karantina merupakan salah satu institusi Pemerintah yang turut terlibat di dalamnya. Sebagaimana telah ditetapkan dalam aturan internasional, setiap pintu masuk internasional wajib memenuhi tiga unsur utama institusi Pemerintah, yaitu CIQ (Customs, Immigration, and Quarantine).

Di Indonesia, fungsi Customs dilaksanakan oleh Bea dan Cukai atau Kepabeanan, Immigration oleh Keimigrasian, serta Quarantine oleh Karantina, baik Karantina Kesehatan, Karantina Pertanian maupun Karantina Ikan.

Peran Strategis Karantina Pertanian

Dengan adanya peningkatan arus lalu lintas wisatawan, akan berpengaruh pula terhadap lalu lintas barang, termasuk di dalamnya komoditas tumbuhan dan hewan. Karantina Pertanian memegang peranan penting dalam hal ini. Sesuai amanah Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan serta peraturan perundangan pendukung lainnya, maka Karantina Pertanian bertanggung jawab terhadap kesehatan hewan dan tumbuhan yang akan dilalulintaskan antar area dalam wilayah Republik Indonesia, maupun yang akan dilalulintaskan secara ekspor dan impor dari dan ke dalam wilayah Republik Indonesia.

Hal ini sesuai dengan UU No. 16 tahun 1992 yang mendefinisikan Karantina sebagai tempat pengasingan, dan/atau tindakan sebagai upaya pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit atau organisme pengganggu dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri, atau keluarnya dari dalam wilayah negara Republik Indonesia.

Selain cegah tangkal penyakit baik hewan maupun tumbuhan yang dapat membahayakan perekonomian mengingat kondisi wilayah negara Indonesia yang merupakan negara agraris, Karantina Pertanian juga berperan dalam akselerasi ekspor melalui aturan perdagangan internasional, yaitu SPS (Sanitary and Phytosanitary Measures) terkait keamanan pangan yang telah disepakati oleh dunia. Keamanan pangan yang akan dikonsumsi oleh masyarakat tidak luput pula dari pengawasan Karantina Pertanian. Sebab, prosentase terbesar pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat berasal dari bahan hewan dan tumbuhan.

Keseluruhan fungsi perlindungan sumber daya alam hayati dan nabati terangkum dalam Visi dan Misi dari Badan Karantina Pertanian yang tertuang dalam sasaran kerja yang akan dicapai. Di antaranya, pertama, meningkatnya produksi komoditas pertanian sebagai impak kinerja Karantina Pertanian dalam mencegah. Kedua, melindungi pertanian dari serangan hama dan penyakit atau organisme pengganggu tumbuhan berbahaya.

Lantas yang ketiga, meningkatnya kesejahteraan keluarga petani karena terhindarnya usaha agribisnis mereka dari kerugian ekonomi akibat kerusakan serangan hama dan penyakit atau organisme pengganggu tumbuhan berbahaya. Keempat, meningkatnya peran swasta dan masyarakat dalam penyelenggaraan Karantina Pertanian.

Selanjutnya yang kelima, meningkatnya peran serta lembaga penelitian pemerintah dan swasta, maupun perguruan tinggi dalam pengembangan IPTEK. Keenam, meningkatnya jaringan kerjasama kemitraan antara Karantina dengan instansi terkait dan pelaku agribisnis serta lembaga sosial masyarakat lainnya. Ketujuh, terbentuknya status dan struktur organisasi yang kompatibel, merupakan kesatuan yang utuh antara Pusat dan Daerah.

Kedelapan, tersedianya sumber daya manusia berkualitas dan profesional serta sarana kerja yang cukup untuk menghasilkan kinerja yang terpercaya. Kesembilan, terbentuknya kesadaran dan peran serta masyarakat untuk mendukung visi dan misi perkarantinaan.

 

Peran serta Masyarakat

Penyelenggaraan perkarantinaan pertanian akan berjalan lebih optimal bila seluruh masyarakat peduli akan pentingnya upaya pencegahan masuk dan tersebarnya hama penyakit hewan karantina dan organisme pengganggu tumbuhan karantina. Masih banyak masyarakat yang belum memahami peran strategis dari Karantina Pertanian ini.

Kondisi yang jauh bila dibandingkan dengan kondisi negara lain, sebagai contoh Australia, yang telah sukses menciptakan “Quarantine minded” di lingkungan masyarakat dan Pemerintahnya. Seluruh masyarakat secara sadar dan aktif serta didukung oleh kebijakan Pemerintah berkomitmen untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit hewan dan tumbuhan. Sehingga resiko adanya penyakit yang dapat menular ke manusia melalui hewan dan tumbuhan pun dapat diminimalisir.

Perlu dimulai dari lingkup terkecil, yaitu masyarakat lokal terlebih dahulu, sebelum menyambut tamu dari negeri lain. Bahwa sebelum melalulintaskan komoditas berupa hewan dan tumbuhan, maka wajib untuk memastikan bahwa tumbuhan dan hewan itu dalam kondisi sehat. Bebas dari hama dan penyakit hewan karantina maupun organisme pengganggu tumbuhan karantina.

Persyaratan untuk pemasukan dan pengeluaran komoditas pertanian telah diatur oleh UU Nomor 16 tahun 1992, yaitu dilengkapi dengan Sertifikat Kesehatan, dilaporkan dan diserahkan kepada Petugas Karantina, serta melalui tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditetapkan.

Untuk itu, perlu kiranya seluruh pihak bersatu untuk mewujudkan tercapainya cita-cita bersama dari masyarakat dan Pemerintah Daerah Belitung dalam mengoptimalkan potensi wisata yang dimiliki daerah ini. Tentunya masih dalam kerangka utama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pendapatan daerah.

Pengkajian yang matang sangat diperlukan untuk memastikan, bahwa penyelenggaraan seluruh kegiatan yang akan diarahkan ke dunia internasional nanti berjalan dengan baik. Seluruh pihak yang terkait dipastikan ikut terlibat dan bertanggungjawab penuh akan pelaksanaan perannya masing-masing.

Jangan sampai ada bagian tertentu yang terlewat karena adanya euforia dalam peningkatan potensi wisata, namun berpengaruh negatif terhadap peningkatan potensi lain, termasuk pertanian. Sehingga cita-cita besar negara ini dalam mewujudkan kemandirian pangan tidak akan terganggu oleh adanya hama dan penyakit yang disebabkan oleh hewan dan tumbuhan.

*) Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan di Balai Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang Wilayah Kerja Bandara H. AS. Hanandjoeddin.