Perancis Diminta Keruk Air Kantung

by -

SUNGAILIAT – Tak ada realisasi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bangka Belitung (Babel), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka dan pihak ketiga terkait alur muara Air Kantung Sungailiat. Membuat Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sungailiat Rahmat Irawan memutar otak.
Dia pun nekat mengusulkan bantuan pengerukan alur muara tersebut ke Agence Francaise de Development (AFD) Perancis. “Saya sedang melakukan usaha terobosan mengusulkan ke pihak negara donatur terutama negara Perancis untuk membantu pengerukan alur muara Air Kantung yang mengalami pendangkalan pasir laut. Sehingga menghambat bagi keluar masuknya kapan nelayan,” ujarnya, kemarin (26/2).
Dia mengharapkan selain usulannya tersebut disetujui oleh negara yang dimaksudkan, ada dukungan penuh dari semua lapisan masyarakat, terutama pelaku usaha perikanan tangkap yang melakukan aktivitas di wilayah produksi itu.
“Badan Perancis untuk pembangunan (AFD) diberi mandat oleh Pemerintah Perancis untuk hadir di empat negara berkembang, salah satunya di Indonesia untuk membantu kegiatan proyek yang turut andil dalam pengelolaan barang publik dunia yang lebih baik. Kegiatan AFD difokuskan pada tiga prioritas yaitu, memerangi penyakit menular dan berkembang, memerangi perubahan iklim, dan melestarikan keanegaragaman hayati,” katanya.
Persoalan pendangkalan muara Air Kantung kata dia, harus segera diselesaikan mengingat muara itu adalah satu-satunya pintu keluar masuk kapal nelayan menuju kolam pelabuhan perikanan atau wilayah produksi hasil perikanan tangkap. “Kondisi muara Air Kantung sangat memprihatinkan, dimana dengan penumpukan pasir dengan volume cukup banyak mengakibatkan pula penyempitan, kapal nelayan tradisional berkapasitas rata-rata lima sampai 10 gross ton mengalami kesulitan bahkan terpaksa menunda untuk masuk ke pelabuhan maupun ke luar hendak melaut sambil menunggu air laut kembali pasang,” jelasnya.
Menurutnya, pada saat terjadi air laut surut terdapat sejumlah kapal nelayan yang terpaksa mengalihkan berlabuh ke tempat lain seperti di pantai Rebo maupun tempat lainnya. “Awalnya kami berharap pihak ketiga yang sudah ada kesepakatan dengan pemerintah daerah setempat segera melakukan pengerukan muara tersebut, tetapi hingga sekarang belum nampak realisasi yang memuaskan bagi nelayan,” katanya.
Dia mengatakan, dirinya mengusulkan bantuan dari negara Perancis karena selain negara itu ditugaskan membantu sejumlah proyek di Indonesia yang sesuai dengan tujuannya, ditinjau dari kemampuan anggaranpun kalau dibebankan ke pemerintah daerah tentu memberatkan sekali karena keterbatasan APBD setempat.
Sebelumnya, desakan untuk mengeruk alur muara Air Kantung Sungailiat terus didengungkan. Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Bangka melalui Sekretaris, Ridwan., A.md misalkan, meminta kepada Pemkab Bangka untuk secepatnya mengatasi penyempitan dan pendangkalan alur muara Air Kantung. Ia juga berharap, solusi dari Pemkab Bangka tidak hanya berlaku untuk jangka pendek saja.
“Kemana pemda kita. Kalau memang harus dirancang, ya dari sekarang lah. Rancanglah bagaimana untuk mengatasi permasalahan ini. Masa dari tahun 2006 yang lalu hingga sekarang tidak ada solusi terbaik. Kan ini (alur) jantung transportasinya nelayan maupun pengguna alur lainnya, ya ditindaklanjutilah,” ucapnya.
Dengan kondisi alur yang dangkal, para nelayan yang hendak bongkar muatan terpaksa harus menunggu waktu 3 hari air laut pasang. “Nelayan bongkar harus menunggu 2-3 hari. Menunggu hari pasang, atau dibagi. Tapi kami himbau jangan memaksakan diri masuk ke muara karena tidak sedikit kapal yang karam, bahkan ada yang pecah,” ucapnya seraya mengatakan baru-baru ini ada kapal nelayan yang hancur karena tersangkut saat mencoba masuk muara.
“Satu kapal itu ratusan juta apalagi kalau ada ikannya. Sedangkan bantuan pemerintah paling Rp5 juta. Makanya sekarang bagaimana merencanakan agar tidak terjadi lagi pendangkalan muara. Atau usulkan ke Dirjen Sumber Daya Alam untuk pembuatan talud,” pintanya.(rb)