Perjuangan H.AS Hanandjoeddin Menjadi Pahlawan Nasional

by -

Oleh : Tian Nirwana
(PNS di Sub. Bag. Protokol Setda Kab. Belitung)

Kalau kita berkunjung ke Pulau Belitong, kita akan singgah di bandara H.AS Hanandjoeddin di Tanjung Pandan. “Bandar Udara H.AS Hanandjoeddin Tanjung Pandan” namanya, seperti tulisan yang terlihat pada plang di area taman landasan, di tengah jalan menuju ruang kedatangan begitu kita turun dari pesawat. Pun, keluar pintu kedatangan, kita masih bisa melihatnya dalam bentuk patung setengah badan berseragam lengkap dengan topi yang menjulang di area parkir, H.AS. HANANDJOEDDIN nama yang tertera di bawahnya.

Melihat nama H.AS Hanandjoeddin, saya teringat dengan spanduk yang terpampang di beberapa sudut jalan yang bertuliskan “Dari Belitong Untuk Indonesia Ayo…Dukung Putra Belitong H.AS Hanandjoeddin Menjadi Pahlawan Nasional” berikut gambar diri H.AS Hanandjoeddin. Siapa sebenarnya H.AS Hanandjoeddin? Apa perjuangannya bagi Indonesia untuk bisa menjadi Pahlawan Nasional seperti Halim Perdanakusuma atau Abdul Rachman Saleh yang namanya juga diabadikan sebagai nama bandar udara?

Dari Buku “Sang Elang : Serangkaian Kisah Perjuangan H.AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI” karya Haril M. Andersen, H.AS Hanandjoeddin lahir di Belitong pada tanggal 5 Agustus 1910. Latar belakang H.AS Hanandjoeddin dimulai dari pendidikannya di sekolah Ambacht School (AC) Manggar pada tahun 1931. Lulus dari AC H.AS Hanandjoeddin ditempatkan sebagai pekerja teknik di perusahaan NV Gameenchappelijke Minjbouwmaatschappij Biliiton (GMB). Dari GMB, H.AS Hanandjoeddin bekerja di NV Naamloze Venootschap Indische Bauxit Exploitatie Maatschappij (NV NIBEM) di Pulau Bintan. H.AS Hanandjoeddin sempat kembali ke Belitung setelah berakhirnya kontrak kerja di NV NIBEM sebelum akhirnya hijrah ke Bandung dan bekerja di Wolter & Co disamping sebagai aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra). Karena dianggap sebagai ancaman dan incaran pemerintah Belanda, H.AS Hanandjoeddin akhirnya pindah ke Malang dan bekerja pada Ozawa Butai (Satuan udara milik Militer Angkatan Darat Jepang) pasca pihak Hindia Belanda menyerah kepada Jepang. Di Ozawa Butai, H.AS Hanandjoeddin diangkat sebagai Hancho (pimpinan kelompok pekerjaan). Pada masa itu, Pangkalan Udara Bugis menjadi pusat penerbangan Angkatan Darat Jepang di wilayah Jawa Timur.

Jepang akhirnya menyerah kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945 setelah Hiroshima dan Nagasaki di bom atom. Pada saat itu juga satuan udara milik angkatan darat termasuk Ozawa Butai dibubarkan dan lapangan udara Bugis Malang dikuasai Angkatan Laut Jepang. Beberapa saat setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno menyerukan untuk membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Komite Nasional Indonesia di daerah. Kelompok Pemoeda Bagian Oedara pimpinan H.AS Hanandjoeddin bergabung dengan BKR Malang yang kemudian berubah menjadi Divisi VIII Jawa Timur dan masuk dalam Panitia Persiapan Kaum Teknik Penerbangan Indonesia yang menjadi inti pembentukan BKR Oedara Divisi VIII Suropati. Pada tanggal 10 Oktober 1945 dibentuklah Badan Keamanan Rakyat Oedara (BKRO) Malang (BKRO kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKRO)). H.AS Hanandjoeddin menjadi bagian BKRO Malang sebagai pelaksana teknis lapangan. Pada saat itu ia bersama teknisi yang lain berhasil memperbaiki beberapa pesawat peninggalan Jepang antara lain Cukiu 003 dan Cukiu 004.

Pasca jatuhnya Surabaya ke tangan sekutu pada 12 November 1945, Panglima Divisi VIII membuka sekolah militer selama dua bulan. H.AS Hanandjoeddin mengikuti pendidikan di Sekolah Kadet Perwira Divisi VIII dan lulus dengan pangkat Letnan Satu TKR Angkatan Darat. H.AS Hanandjoeddin kemudian ditugaskan sebagai Komandan Pertahanan Teknik Udara Pangkalan Bugis dengan pangkat Letnan I TKR pada Januari 1946. Setelah TKR berubah nama menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) (sebelumnya sempat bernama Tentara Keselamatan Rakyat), TKR Oedara Malang berada di bawah TKR Oedara di Jogjakarta namun Pangkalan Bugis masih di bawah komando Divisi VIII. Tapi hal itu tidak menghalangi H.AS Hanandjoeddin untuk berbuat sesuatu bagi perjuangan bangsa Indonesia, diantaranya berhasil memperbaiki pesawat pembom Shoki (Ki-48) yang diberi nama Pangeran Diponegoro I atau PD-I, menyumbang pesawat Cukiu kepada Sekolah Penerbangan Darurat Jogjakarta pimpinan Adisutjipto, memberikan sebuah pesawat Cukiu dengan nomor registrasi TK-007 kepada Pangkalan Udara Panasan, Solo atas permintaan Letnan Soejono, dan memberi pesawat untuk diperbaiki kepada Hardjono dari Pangkalan Udara Maospati Madiun dan Warma dari Pangkalan Udara Cibeureum Tasikmalaya. TRI Oedara lalu berubah menjadi TRI Angkatan Oedara pada tanggal 9 April 1946 dengan Komodor Udara Soeriadi Soerjadarma sebagai Kepala Staf TRI Angkatan Oedara-nya. H.AS Hanandjoeddin diberi pangkat Opsir Moeda Oedara III (OMU) III (setara Letnan Muda Udara) atau turun dua tingkat dari sebelumnya setahun kemudian karena penyesuaian pangkat.

23 Mei 1946, Divisi VII malang berganti nama menjadi Divisi VII Untung Suropati. Pada masa itu, H.AS Hanandjoeddin bersama anggotanya berhasil membawa pesawat Pangeran Diponegoro II (sebelumnya bernama Rocojunana) ke Yogyakarta atas permintaan Wakil Kepala Staf TRI Angkatan Oedara Komodor Muda Udara Adisutjipto yang berujung pada penahanan H.AS Hanandjoeddin selama tujuh hari di Markas Polisi Tentara di Malang. Sebenarnya sejak 5 Mei 1946, Prof. Dr. Abdulrachman Saleh ditugaskan untuk memimpin Pangkalan Udara Bugis disamping sebagai Komandan Pangkalan Udara Maospati, Madiun. Namun, baru tanggal 9 April 1947, Komodor Muda I Prof. Dr. Abdulrachman Saleh resmi memegang kendali komando Pangkalan Bugis. Pada tanggal 17 Maret 1947, setelah penyerbuan kota Mojokerto oleh Belanda pasca sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dengan hasil Perjanjian Linggarjati, Abdulrachman Saleh berhasil membawa pesawat pemburu Hayabusa dengan nomor registrasi HN-201 yang telah diperbaiki H. AS Hanandjoeddin dan anggotanya ke Jogjakarta untuk menambah kekuatan udara. Pada saat itu pusat pemerintahan Jawa Timur berada di kota Malang.

21 Juli 1947, Agresi Militer Belanda Ke-I dimulai. Dalam perlawanan ini, H.AS Hanandjoeddin dan anggota teknik lainnya berhasil menyelamatkan 15 pesawat terbang yang berada di Pangkalan Udara Bugis. H. AS Hanandjoeddin sebagai pimpinan Pasukan Pertahanan Teknik PPU III/930 Malang ditunjuk sebagai Komandan Pertempuran Sektor I STC III Front Malang Timur dan sebagai Komandan Pertempuran Sektor II. Karena perjanjian Renville yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948, yang salah satu isinya adalah TNI (TRI berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) sejak 3 Juni 1947) ditarik mundur dari wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur, pasukan H.AS Hanandjoeddin akhirnya pindah dari Malang Timur ke Tulung Agung untuk meneruskan pembangunan pangkalan udara darurat. Dari Tulung Agung H.AS Hanandjoeddin ditugaskan sebagai Komandan Detasemen Pertahanan Udara Prigi untuk melakukan pengamanan wilayah Pantai Prigi. Pada masa itu, H.AS Hanandjoeddin sebagai Komandan Sektor II Pantai Selatan juga turut serta dalam misi pemusnahan pemberontakan PKI Madiun pimpinan Muso. Pada tanggal 19 Desember 1948 terjadi Agresi Militer Belanda ke-2. Sebagai Komandan Sektor II Pantai Selatan H. AS Hanandjoeddin juga memimpin pasukan di Sektor Watulimo. Pasca Belanda menguasai Pangkalan Udara Campurdarat, H.AS Hanandjoeddin ditunjuk untuk menangani urusan pertahanan AURI sebagai Wakil Danlanud Campurdarat. Tanggungjawab H.AS hanandjoeddin tidak sampai di situ, masih sebagai Wakil Danlanud Campurdarat, Beliau juga ditugaskan sebagai Komandan Pertempuran Sub I pada Sektor V. Instruksi Panglima Besar Jenderal Soedirman tanggal 19 Desember 1948 agar seluruh Angkatan Perang RI melakukan perang gerilya membuat H. AS Hanandjoedin dipercaya sebagai Komandan Onder Distrik Militer (ODM) Pakel.

Walaupun pada tanggal 7 Mei 1948 ditandatanganinya Perjanjian Roem-Roijen, tapi Panglima Besar Jenderal Soedirman telah mengeluarkan seruan agar seluruh prajurit Angkatan Perang RI tidak angkat tangan. Pada masa itu H.AS Hanandjoeddin ditunjuk sebagai Komandan Sektor VIII Tulungagung, juga merangkap sebagai Komandan KDM Campurdarat. Setelah Konferensi Meja Bundar tanggal 27 Desember 1949 dan Pangkalan Bugis Malang diserahkan Belanda kepada AURI, H. AS Hanandjoeddin kembali ke Malang dan menjabat Kepala Jawatan Teknik Udara Pangkalan Udara Bugis, H.AS Hanandjoeddin berpangkat OMU II atau Letnan Udara II (naik dari OMU III). Itulah beberapa perjuangan H. AS Hanandjoeddin dalam memperebutkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia disamping perjuangan lainnya untuk AURI, juga negara Republik Indonesia.

Sebenarnya, siapa yang bisa disebut sebagai Pahlawan Nasional? Apa saja kriteria untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional? Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga Negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawananan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia. Sampai tahun 2014, 163 orang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional (“Ini Dia Daftar 163 Pahlawan Nasional”.7 Februari 2017. http://www.pusakaindonesia.org/ini-dia-daftar-163-pahlawan-nasional/).

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan Pasal 25, syarat umum untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional adalah WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI; Memiliki integritas moral dan keteladanan; Berjasa terhadap bangsa dan negara; Berkelakuan baik; Setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara; dan Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun. Sedangkan syarat khusus yang terdapat pada Pasal 26 adalah Pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa; Tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan; Melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya; Pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara; Pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa; Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi; dan/atau Melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.

Selain itu, persyaratan administrasi yang dilampirkan pada surat usulan Calon Pahlawan Nasional antara lain Daftar uraian riwayat hidup dan perjuangan calon Pahlawan yang bersangkutan yang ditulis secara ilmiah, disusun sistematis berdasarkan data yang akurat, melalui proses seminar, sarasehan dan diskusi; Daftar dan bukti tanda kehormatan yang pernah diterima/diperoleh; Catatan pandangan/pendapat orang dan tokoh masyarakat tentang Pahlawan Nasional yang bersangkutan; Foto-foto/gambar dokumentasi yang menjadi perjuangan calon Pahlawan Nasional yang bersangkutan; Telah diabadikan namanya melalui sarana monumental sehingga dikenal masyarakat.

Arsip (bukti, catatan, foto) perjuangan Calon Pahlawan Nasional berperan penting dalam pengusulan seseorang untuk memperoleh gelar Pahlawan. Arsip yang diusulkan akan diteliti dan dikaji oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Tingkat Daerah (TP2GD) dan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Tingkat Pusat (TP2GP). Seperti dikutip dalam Media Kearsipan Nasional : ARSIP Edisi 64/Juli-Desember/2014 bahwa peran arsip sebagai bukti sejarah menunjukkan eksistensi bangsa Indonesia dalam menampilkan kebesaran sejarah masa lalunya.

Adanya tokoh besar dan pahlawan di Indonesia tidak luput dari peran arsip sebagai sumber otentik yang telah diwariskan oleh generasi pendahulunya. Usulan H.AS Hanandjoeddin untuk menjadi Pahlawan Nasional juga harus didasarkan pada bukti perjuangannya terhadap bangsa dan negara Indonesia, sebab dari bukti hasil perjuangannya, dirinya akan menjadi Pahlawan Nasional bangsa Indonesia disamping telah menjadi Pahlawan bagi rakyat Belitong.(***)