Persahabatan Remaja, Tahun Baru dan Pergaulan Bebas

by -
Persahabatan Remaja, Tahun Baru dan Pergaulan Bebas

Oleh: Jema Kurlia*

Remaja, masa di mana semuanya ingin mencoba, ingin tahu yang besar tanpa memilah apakah ini baik atau buruk. Anggapan bahwa apa yang dilakukannya itu tren masa kini menjadi pendorong ke dalam pergaulan yang tidak baik. Suatu tindakan yang buruk tercipta karena adanya kesempatan atau peluang, misalnya pada saat malam tahun baru.

Tahun baru atau perayaan tahun baru (masehi) terjadi setahun sekali dan sangat dinanti-nantikan oleh hampir semua orang di dunia. Pergantian tahun yang hanya tinggal hitungan jari ini biasanya diisi dengan kegiatan semacam barbeque, selebrasi petasan dan kembang api, berkumpul dengan sanak saudara, jalan-jalan dengan teman sebaya dan lainnya. Tetapi di balik aktifitas itu semua, malah ada yang memanfaatkan untuk melakukan hal yang negatif seperti kebut-kebutan dalam berkendara, mabuk-mabukan, berjudi, bahkan jenis perbuatan maksiat lainnya. Itulah bentuk pergaulan bebas.

Pergaulan bebas adalah kata-kata yang tidak asing lagi bagi masyarakat. Pergaulan bebas bisa membuat masyarakat, terutama orang tua merasa was-was. Sebagian mereka (orang tua) selalu mengawasi setiap pergerakan anak-anak mereka. Namun, ada juga sebagian yang sibuk akan pekerjaan sehingga tidak terlalu memperhatikan tumbuh kembang anak-anak. Niat mereka yang ingin membahagiakan anak-anaknya agar berkecukupan tanpa ada kekurangan sedikit pun, di belakang itu, malah membuat anak mereka terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Anak usia belasan tahun cenderung labil, lebih mudah diracuni pikirannya. Baik sekali jika di lingkungan yang positif. Yang ditakutkan justru jika lingkungan sekitar tidak baik.

Pergaulan bebas merupakan bentuk perilaku menyimpang. Di mana “bebas” yang dimaksudkan ialah perilaku yang melewati batasan norma yang ada. Kita sering mendengar masalah pergaulan bebas di lingkungan masyarakat maupun dari media massa, terutama yang berkaitan erat dengan masalah remaja.

Banyak sekali contoh dari pergaulan bebas tetapi yang lebih maraknya yaitu seks bebas yang mengakibatkan remaja terjerat dalam perkawinan anak usia dini. Dari penelitian yang dilakukan Reckitt Benckiser, penggunaan kontrasepsi Durex pada 500 remaja di lima kota besar di Indonesia menemukan bahwa, 33% remaja telah melakukan hubungan seks dengan penetrasi. Dari hasil ini, 58% menembus pada usia 18 hingga 20 tahun. Selain itu, peserta survei adalah mereka yang tidak menikah.

Survei Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, provinsi Kepulauan Bangka Belitung berada di peringkat ketiga dalam angka perkawinan anak atau nikah usia dini mencapai 25,7%. Untuk di pulau Belitung sendiri, khususnya di Kabupaten Belitung Timur, Kantor Agama Beltim mendata sebaran perkawinan anak pada tahun 2018 yaitu berada di Desa Mantawak, Desa Baru, Desa Kelubi, Desa Lenggang, Desa Lintang, Desa Simpang Tiga, Desa Batu Penyu, dan Desa Limbongan.

Remaja adalah individu yang secara emosiaonal tidak stabil serta sangat rentan dengan arus globalisasi dalam perkembangan zaman. Remaja adalah masa yang sulit, karena dibutuhkan lebih banyak kendali diri daripada selama masa kanak-kanak.

Pada saat malam tahun baru, mereka berpikir inilah “tiba saatnya”. Inilah dunia mereka. Mereka bebas melakukan apa saja, mereka tidak memikirkan dampak yang lebih jauh. Pamitnya dari rumah hanya untuk berkumpul, tapi malah sebaliknya. Orang tua berpikir, “biarkan saja toh cuma malam ini pulang larut malam atau mungkin pagi, setahun sekali”. Namun, mereka sebenarnya tidak mengetahui apa yang dilakukan anak-anaknya dalam perayaan terselubung di tahun baru. Walau tidak semua remaja yang seperti itu.

Kurangnya penerapan nilai-nilai agama dan pendidikan karakter baik di sekolah, rumah, dan lingkungan sekitarnya membuat remaja saat ini dengan mudah jatuh ke dalam pelukan pergaulan bebas. Banyak remaja yang menggunakan waktu mereka untuk hal-hal yang tidak berguna. Mereka cenderung mengikuti perkembangan zaman tanpa selektif. Salah satunya di bidang teknologi, yaitu smartphone atau gawai. Di mana remaja menggunakannya untuk menonton video porno, nge-game berlebihan, menonton youtube kebablasan, menjebol wifi dan website tertentu, hingga membagikan (share) via media sosial video-video tak senonoh yang berbau mesum. Terlebih satu hari sebelum menjelang pergantian tahun adalah momen yang tepat dan akhirnya dengan benar para remaja akan dikendalikan oleh modernisasi yang berujung pada pergaulan bebas.

Saat ini begitu banyak remaja yang telah jatuh ke dalam pergaulan bebas. Hal ini terjadi tidak hanya pada remaja di kota-kota besar, tetapi di daerah yang kita tinggali sekarang juga tidak kalah banyak. Remaja yang merokok, menghirup lem, berpakaian seksi, mabuk-mabukan, hingga bergaya punk. Mereka merasa bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah benar dan keren. Mereka ingin menikmati kebahagiaan dengan cara mereka sendiri, bahkan dengan cara yang salah. Mereka tidak berpikir lebih jauh tentang efek pergaulan bebas meskipun kesenangan yang mereka dapatkan hanya bersifat maya dan sebagai gantinya hasil pergaulan bebas ini memiliki dampak yang negatif bagi diri mereka sendiri, lingkungan dan ruang lingkup keluarga. Terutama pada aspek fisik, psikis, moral dan sosial.

Dari sini, peran orang tua sangat penting dalam membangun karakter anak-anak mereka. Di mana orang tua harus mampu menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari kepada anaknya. Selalu memantau kegiatan anak-anak mereka karena masa remaja adalah masa mereka ingin mengetahui sesuatu dan ingin mencoba hal-hal baru tanpa melihat apakah itu baik atau buruk untuk dicoba. Dapat disamakan dengan nikotin (suatu zat penyandu), jika mereka (remaja) berpikir bahwa apa yang mereka lakukan dapat mengarah pada kebahagiaan, mengapa hanya melakukannya sekali? Dan ingin dianggap lebih keren daripada orang lain atau teman yang selalu mengajak mereka dalam hal-hal yang tidak baik, mengapa tidak mencobanya? Pemikiran seperti itu akan menyebabkan mereka ingin mencoba lagi, lagi dan lagi.

Namun, ada kalanya bukan karena mereka tidak ditanamkan dengan nilai-nilai agama atau norma sosial seperti itu sejak dini. Akan tetapi pergaulan bebas remaja tetap bisa terjadi karena kondisi keluarga yang broken home hingga kurangnya peran pengawasan dari orang tua. Selain itu lingkungan pertemanan yang tidak baik atau tidak harmonis, merupakan pemicu dalam pergaulan bebas.

Jika seorang remaja akhirnya rusak, bagaimana dengan kehidupan yang akan terjadi berikutnya? Apakah jika dia menangis atau terbelit masalah cukup mengganti kasih sayang kepada mereka dengan gawai, uang, dan lain-lain yang bersifat materi? Apakah orang tua senang melihat aktivitas mereka dengan membuarkan keluyuran pada pesta tahun baru tanpa pantauan? Serta bagaimana respon sosial masyarakat akan hal itu?

Jadi, setelah apa yang kita cermati sejauh ini, pergaulan bebas memiliki dampak negatif. Maka dari itu, untuk orang tua diharapkan selalu memantau aktifitas anak. Pastikan dengan siapa mereka bergaul dan di mana, serta tentu saja buat pengaturan waktu. Karena sesungguhnya panatauan dan bimbingan orang tua merupakan demi kebaikan anak secara personal dan nama baik keluarga.

Untuk remaja, cobalah untuk selalu terbuka kepada orang tua. Selalu berkomunikasi dengan orang terdekat, dan tanyakan pendapat mereka tentang contoh perayaan-perayaan yang seharusnya, serta perayaan yang tidak seharusnya. Cari dan pilihlah teman yang tepat. Karena untuk kategori remaja, teman kadang bisa lebih dekat hubungannya dari pada dengan keluarga sendiri. Jadi, temanmu sangat berpengaruh terhadap masa remajamu.

Pergantian tahun yang sebentar lagi di depan mata seharusnya membuat para masyarakat terutama para remaja mempersiapkan masa depan yang lebih cerah untuk dijadikan pembelajaran dari tahun sebelumnya. Lakukan tindakan yang baik atau bermanfaat untuk mengisi malam tahun baru. Nikmati masa muda dengan hal yang positif, karena kita tidak akan pernah kembali ke masa muda seperti hari ini. Kita adalah generasi muda harapan bangsa. Cerah suramnya suatu negara bergantung pada kontribusi kita terhadap negara Indonesia yang kita cintai ini.

Masa remaja dikenal sebagai momentum pencarian jati diri. Banyak jalan turun naik bisa ditemukan di tengah perjalanan. Ditempuh terus namun konsekuensi lurus bahkan penuh lika liku. Sehingga, tak jarang banyak remaja yang mengambil jalan pintas dengan iming-iming kebebasan, kesenangan, antisipasi masalah sementara, hingga kesuksesan dengan instan. Padahal segala kesuksesan sejatinya didapatkan dengan kontrol diri, kerja keras, kerja cerdas, dan belajar dengan giat.

Sebagai generasi penerus bangsa, sebagai calon ibu rumah tangga dan pemimpin harus lebih selektif dalam perkembangan zaman masa ini. Temukan dan kembangkan bakatmu yang terpendam pada masa mencari jati diri. Tekadkan tujuan dalam menuju masa depan yang cerah. Bentengi diri dari pergaulan bebas dan arahkan diri ke pergaulan yang baik. Jadilah generasi muda yang berpikir bagaimana caranya memberi warna indah untuk bangsa ini.

Penulis ucapkan Selamat tahun baru 2020 untuk para remaja di Indonesia. Ingat! Setiap ada kesempatan, pasti ada jalan. Persahabatan remaja, tahun baru dan pergaulan bebas itu tidak setipis kulit bawang. Jadi, jangan sampai kebebasan malam tahun baru menjadi kebablasan. Be careful guys, Happy New Year 2020 for all!

*Siswa Kelas Sosioliterasi SMA Negeri 1 Manggar
Komunitas Literasi Gerbang Menulis